Banyak orang merasa tertekan karena situasi dan kondisi di tempat kerja. Tekanan juga bisa terjadi saat menghadapi masalah, anggota keluarga terkena musibah atau sakit, merasa tak berguna di hadapan orang yang memerlukan pertolongan, tidak terpenuhi kebutuhan, atau gagal meraih sesuatu. Kondisi sulit ini memungkinkan situasi menjadi lebih buruk apabila tidak mampu mengendalikannya dengan baik.
Tekanan yang tidak disikapi dengan bijak bisa
jadi menyebabkan orang tidak bisa mengontrol emosi, lebih kasar dari biasanya,
dan melakukan perlawanan terhadap lingkungan sekitar. Lebih parah lagi, tekanan
itu memicu pikiran negatif. Jika hal ini terjadi, sepertinya kita butuh rileks
dan melonggarkan saraf dengan piknik. Tentu, piknik yang dimaksud adalah mengalihkan
perhatian dari kegiatan rutin dan meluangkan waktu untuk memanja diri dengan
beroleh udara segar dan situasi yang memberi ketenangan.
Adakah tanda-tanda khusus sebagai penanda kita kurang
piknik?
Jika tekanan dalam hidup kita menimbulkan rasa
cemas berlebihan, itu bisa menjadi isyarat kalau kita memang butuh rehat
sejenak. Apalagi jika tempat kerja tak memberi kenyamanan bahkan yang didapat
hanya tekanan dan tekanan yang terus berlanjut, maka kita perlu menyayangi diri
sendiri dengan melonggarkan ketegangan melalui cara mudah dan tepat.
Menikmati hidup dengan menghabiskan waktu di
kamar sendiri, bercengkrama dengan bantal guling di tempat tidur tanpa gangguan
dari siapa pun, bisa menjadi alternatif istirahat yang mudah dan murah. Boleh-oleh
saja, ‘kan, menikmati waktu luang dengan sedikit bermalas-malas sejenak?
Alternatif lain adalah pergi ke tempat sepi yang
memiliki hamparan pemandangan hijau atau berada di tepi pantai dengan semilir
angin yang membelai tubuh, juga bisa menjadi pilihan tepat. Bisa sendiri, bisa
juga beserta pasangan halal. Tentu dengan syarat, jangan sambil membawa laptop.
Sebab benda itu akan menyeret kita pada benang kusut pekerjaan.
Kalau rasa jenuh sebagai imbas dari tekanan
pekerjaan berlangsung terus-menerus, kemungkinan besar bisa mengurangi tingkat ketenangan
atau kesabaran. Yang muncul kemudian adalah emosi yang meledak-ledak. Selain
berimbas pada diri sendiri, sikap emosional bakal membuat orang-orang di
sekitar menjadi tidak nyaman. Jika demikian, inilah saatnya untuk meluangkan
waktu untuk piknik. Setidaknya, kita keluar untuk menikmati sajian keindahan
alam.
Jadi, sebelum tekanan benar-benar
menenggelamkan kita pada sikap jenuh, mari kita piknik. Tempat yang dituju tidak
perlu jauh yang bakal menghabiskan waktu dan biaya besar. Cukup dengan cara
sederhana. Ajak paksu atau istri berangkat berdua ke suatu tempat yang nyaman,
menikmati alam, menyantap makanan yang disuka, sambil bercanda mengenang
masa-masa indah dulu. Dengan cara ini, insyaallah pikiran kita akan rileks dan
bisa segar kembali.
Yuk, kita piknik!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar