Minggu, 13 Februari 2022

Meretas Jejaring Kasih (6)

 6.    Undur Diri

“Baiklah. Jika Ibu tidak berkenan, saya tidak akan memaksakan diri, Bu. Saya segera undur diri.” Maira menunjukkan harga dirinya.

“Maksudmu?” kening Bu Retno menampakkan garis-garis yang menyertai rasa penasarannya atas jawaban Maira.

“Iya. Kalau Ibu tidak berkenan karena saya hanya lulusan SMK, saya tidak keberatan sama sekali. Tolong sampaikan pada Mas Renza. Mudah-mudahan dia dapat menerima,” ujarnya seraya berdiri dan merapikan gaunnya.

Akhir perbincangan pada tahap perkenalan dengan calon mertua ternyata berakibat fatal. Maira yakin tidak akan bisa hidup berdampingan dengan orang tua yang menganggap dirinya rendah hanya karena tidak bertitel sarjana.

Diambilnya koper kecil yang berisi pakaian miliknya. Setelah mengangguk sopan pada Bu Retno, Maira menyeret kopernya dan melangkah keluar. Ditunggunya kendaraan yang dipesan secara online. Gadis itu akan segera menuju stasiun.

Siang mulai memanggang bumi. Awan putih melengkapi suasana panas hingga menimbulkan rasa gerah. Sambil menunggu mobil yang akan mengantar, pendengaran Maira menyimak sedikit keributan di ruang tamu. Teriak suara Renza bersahutan dengan lengking kemarahan ibunya.

“Ibu ini bagaimana? Aku yang akan menikah. Biarkan aku yang memilih.”

Suara Renza yang cukup kencang menyaingi bunyi kendaraan yang lalu-lalang.

“Ibu bertindak demi masa depanmu, demi kebaikan bagi pendidikan anak-anakmu kelak.”

Kemarahan terpancar pada setiap kata yang diucapkan wanita itu.

Renza tidak menghiraukan teriakan ibunya. Dia segera berlari menyusul Maira.

“Ra! Maira! Tunggulah. Tolong jangan pergi. Aku yang membawamu kemari, jadi biarkan aku menyertai kepulanganmu. Tapi jangan sekarang, Ra!”

Maira tetap bergeming.

“Aku tidak bisa membatalkan pesanan. Jadi, selamat tinggal, Mas.”

Sebuah mobil berwarna silver berhenti di dekat Maira. Setelah memberi anggukan kecil, Maira segera masuk dan berlalu.

Renza tidak bisa membiarkan Maira pulang karena sikap ibunya. Sebagai lelaki dewasa, dia harus menunjukkan kesungguhan dan tanggung jawab. Disusulnya Maira dengan menggunakan motor.

Susah payah dia mendapatkan hati Maira, gadis mandiri yang menurutnya sangat tangguh. Sikapnya yang lembut telah berhasil mencairkan hatinya yang membeku sekian lama. Maira mampu membangun kembali puing-puing cintanya yang hancur berserakan. Rasa percaya dirinya bangkit karena gadis itu. Bagaimana mungkin gadis sebaik itu arus kulepas begitu saja? Batinnya terus meronta. Renza berharap meraih kembali hati Maira yang kecewa karena sikap ibunya.

Maira turun di stasiun. Langkahnya cepat menuju bagian informasi. Renza melihat Maira kecewa karena jadwal kereta masih lama.

“Ayo, ikut aku. Akan kutunjukkan tempat istirahat untukmu. Kamu pasti lelah.”

Tanpa menunggu persetujuan, Renza segera mengambil koper. Diaraihnya tangan Maira untuk diajak melangkah ke tempat yang cukup nyaman. Renza mencari hotel agar Maira bisa beristirahat dengan nyaman.

“Maafkan ibuku, Ra. Dia menyampaikan kekhawatirannya karena ingin membahagiakanku. Ibu belum tahu, kalau aku telah menemukan sumber kebahagiaanku.”

Maira tetap tidak buka suara. Dengan diam, dia merasa lebih baik.

Sebenarnya Maira masih tahan saat disepelekan hanya karena lulusan SMK. Namun, saat Bu Retno menyinggung bahwa dirinya yang tak berkarier hanya akan menghabiskan uang milik anaknya, Maira tak tahan lagi.

“Berapa gaji putra Ibu? Enam atau tujuh juta per bulan? Itu penghasilan saya dalam waktu tiga atau empat hari.”

Entah mengapa, Maira yang biasanya sabar menghadapi apa pun, kini merasa harus unjuk diri.

“Benarkah apa yang kamu katakan itu?”

Sepertinya Bu Retno hendak berpikir ulang untuk menyingkirkan Maira dari sisi anaknya.  

“Datanglah ke Café Joss dan buktikan sendiri. Saya tunggu di tempat usaha yang saya bangun berkat pendidikan saya di SMK.”

Bu Retno hanya menatap Maira yang berdiri dan segera beranjak dari hadapannya.

“Coba kalau kamu sarjana. Pasti pas jadi pendamping Renza,” gumam Bu Retno seperti pada dirinya sendiri.

Gumaman itu singgah di pendengaran Maira. Tak ayal lagi gadis itu segera beranjak.

“Saya pamit, Bu. Saya takut mengotori tempat ini karena saya bukan seorang sarjana. Tolong sampaikan permintaan maaf saya pada putra Ibu.”

Kekecewaan makin mengental pada bola matanya yang bening. Belum juga memulai, sudah dihadapkan pada calon mertua yang memandang sebelah mata pada dirinya.

Malam itu Maira terpaksa menuruti anjuran Renza untuk menginap di hotel. Renza terus meyakinkan kalau dia sangat mencintai Maira.

“Aku tak pandai merayu atau bermulut manis, namun aku yakin cinta kita tidak akan mudah goyah meski diterjang ombak besar. Maukah engkau mempertahankan cinta ini? Aku ingin mengayuh bahtera rumah tangga bersamamu.”

Panjang lebar Renza menyampaikan maksud hatinya.

“Pernikahan tanpa restu orang tua itu akan hilang keberkahannya. Aku hanya mau menikah jika beroleh restu yang tulus dari kedua belah pihak orang tua,” jawab Maira dengan pasti.

“Aku berjanji akan meminta restu pada kedua orang tuaku. Tolong jangan tinggalkan aku, May. Bersabarlah. Aku akan meyakinkan ibuku pelan-pelan,” tambahnya untuk meyakinkan Maira.

“Iya, aku mengerti. Sekarang pulanglah. Nanti malam aku kembali ke kotaku.”

Sendiri menempuh perjalanan jauh bukan hal yang nyaman bagi Maira. Kedatangannya di kota ini hanya membawa kekecewaan. Tapi siapa tahu, awal yang tak nyaman justru bakal memberi banyak kebahagiaan pada masa yang akan datang.

Maira kembali tenggelam dalam kesibukan di cafenya. Kesibukan yang penuh warna dan canda ria. Maklum saja, enam karyawan yang membantu di cafe itu semuanya masih muda dan sangat energik. Sepadat apa pun pekerjaan, selalu berhias canda tawa.      

Sore itu Rinda tergesa-gesa mencari Maira. Langkahnya seperti dikejar sesuatu yang menakutkan.

“Teh, ada tamu yang minta ketemu Bu Bos. Tuh di sudut sana,” kata Rinda sambil menunjuk ke arah meja yang terletak di sutu ruangan. Sudut paling artistik yang menjadi favorit pengunjung.

Sejenak Maira mengingat-ingat wanita yang duduk menyamping dengan dandanan yang sangat rapi itu. Sungguh kontras dengan pengunjung lainnya yang rata-rata mengenakan pakaian santai.

“Selamat sore, Bu. Ada yang bisa saya bantu? Silakan dicoba, ini hidangan kopi istimewa di tempat kami,” sapa Maira dengan segala keramahan.

Ketika bola matanya bertumbuk  dengan wanita itu, Maira membelalakkan mata saking kagetnya.

“Ibuu…,” sapanya lagi. “Kapan datang dari Jawa?”

Tetiba Bu Retno sudah duduk di cafenya. Rupanya dia penasaran dengan perkataan Maira tempo hari dan hendak membuktikannya.

“Maafkan atas kelancangan saya waktu di rumah Ibu,” lanjut Maira.

“Tak apa-apa. Justru saya yang harusnya minta maaf. Ternyata usahamu benar-benar bisa diandalkaan ya,” jawabnya sambil mengedarkan pandang ke seluruh isi ruangan.

“Cafenya juga bagus. Asri dan artistik. Ini siapa yang membangun desain interiornya? Bagus. Bikin betah pengunjung.”

Maira sungguh terkesima mendengar penuturan Bu Retno. Apa pula yang menyebabkan perubahan drastis semacam ini? Masa kesambet!

“Terima kasih atas tanggapannya, Bu. Mudah-mudahan hidangan yang tersedia di tempat ini cocok di lidah,” jawab Maira.

“Kamu masih mau melanjutkan hubungan dengan Renza?” tanya Bu Retno tidak menghiraukan pernyataan Maira.

Pertanyaan tiba-tiba yang membuat Maira tersedak.

 

Mohon krisannya

Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar