6. Undur Diri
“Baiklah. Jika Ibu tidak berkenan, saya tidak
akan memaksakan diri, Bu. Saya segera undur diri.” Maira menunjukkan harga
dirinya.
“Maksudmu?” kening Bu Retno menampakkan
garis-garis yang menyertai rasa penasarannya atas jawaban Maira.
“Iya. Kalau Ibu tidak berkenan karena saya hanya
lulusan SMK, saya tidak keberatan sama sekali. Tolong sampaikan pada Mas Renza.
Mudah-mudahan dia dapat menerima,” ujarnya seraya berdiri dan merapikan
gaunnya.
Akhir perbincangan pada tahap perkenalan dengan
calon mertua ternyata berakibat fatal. Maira yakin tidak akan bisa hidup
berdampingan dengan orang tua yang menganggap dirinya rendah hanya karena tidak
bertitel sarjana.
Diambilnya koper kecil yang berisi pakaian
miliknya. Setelah mengangguk sopan pada Bu Retno, Maira menyeret kopernya dan
melangkah keluar. Ditunggunya kendaraan yang dipesan secara online. Gadis itu
akan segera menuju stasiun.
Siang mulai memanggang bumi. Awan putih
melengkapi suasana panas hingga menimbulkan rasa gerah. Sambil menunggu mobil
yang akan mengantar, pendengaran Maira menyimak sedikit keributan di ruang
tamu. Teriak suara Renza bersahutan dengan lengking kemarahan ibunya.
“Ibu ini bagaimana? Aku yang akan menikah. Biarkan
aku yang memilih.”
Suara Renza yang cukup kencang menyaingi bunyi
kendaraan yang lalu-lalang.
“Ibu bertindak demi masa depanmu, demi kebaikan
bagi pendidikan anak-anakmu kelak.”
Kemarahan terpancar pada setiap kata yang
diucapkan wanita itu.
Renza tidak menghiraukan teriakan ibunya. Dia
segera berlari menyusul Maira.
“Ra! Maira! Tunggulah. Tolong jangan pergi. Aku
yang membawamu kemari, jadi biarkan aku menyertai kepulanganmu. Tapi jangan
sekarang, Ra!”
Maira tetap bergeming.
“Aku tidak bisa membatalkan pesanan. Jadi, selamat
tinggal, Mas.”
Sebuah mobil berwarna silver berhenti di dekat
Maira. Setelah memberi anggukan kecil, Maira segera masuk dan berlalu.
Renza tidak bisa membiarkan Maira pulang karena
sikap ibunya. Sebagai lelaki dewasa, dia harus menunjukkan kesungguhan dan
tanggung jawab. Disusulnya Maira dengan menggunakan motor.
Susah payah dia mendapatkan hati Maira, gadis
mandiri yang menurutnya sangat tangguh. Sikapnya yang lembut telah berhasil mencairkan
hatinya yang membeku sekian lama. Maira mampu membangun kembali puing-puing cintanya
yang hancur berserakan. Rasa percaya dirinya bangkit karena gadis itu.
Bagaimana mungkin gadis sebaik itu arus kulepas begitu saja? Batinnya terus
meronta. Renza berharap meraih kembali hati Maira yang kecewa karena sikap
ibunya.
Maira turun di stasiun. Langkahnya cepat menuju
bagian informasi. Renza melihat Maira kecewa karena jadwal kereta masih lama.
“Ayo, ikut aku. Akan kutunjukkan tempat
istirahat untukmu. Kamu pasti lelah.”
Tanpa menunggu persetujuan, Renza segera
mengambil koper. Diaraihnya tangan Maira untuk diajak melangkah ke tempat yang
cukup nyaman. Renza mencari hotel agar Maira bisa beristirahat dengan nyaman.
“Maafkan ibuku, Ra. Dia menyampaikan
kekhawatirannya karena ingin membahagiakanku. Ibu belum tahu, kalau aku telah
menemukan sumber kebahagiaanku.”
Maira tetap tidak buka suara. Dengan diam, dia
merasa lebih baik.
Sebenarnya Maira masih tahan saat disepelekan
hanya karena lulusan SMK. Namun, saat Bu Retno menyinggung bahwa dirinya yang
tak berkarier hanya akan menghabiskan uang milik anaknya, Maira tak tahan lagi.
“Berapa gaji putra Ibu? Enam atau tujuh juta
per bulan? Itu penghasilan saya dalam waktu tiga atau empat hari.”
Entah mengapa, Maira yang biasanya sabar
menghadapi apa pun, kini merasa harus unjuk diri.
“Benarkah apa yang kamu katakan itu?”
Sepertinya Bu Retno hendak berpikir ulang untuk
menyingkirkan Maira dari sisi anaknya.
“Datanglah ke Café Joss dan buktikan sendiri.
Saya tunggu di tempat usaha yang saya bangun berkat pendidikan saya di SMK.”
Bu Retno hanya menatap Maira yang berdiri dan
segera beranjak dari hadapannya.
“Coba kalau kamu sarjana. Pasti pas jadi
pendamping Renza,” gumam Bu Retno seperti pada dirinya sendiri.
Gumaman itu singgah di pendengaran Maira. Tak
ayal lagi gadis itu segera beranjak.
“Saya pamit, Bu. Saya takut mengotori tempat
ini karena saya bukan seorang sarjana. Tolong sampaikan permintaan maaf saya
pada putra Ibu.”
Kekecewaan makin mengental pada bola matanya
yang bening. Belum juga memulai, sudah dihadapkan pada calon mertua yang memandang
sebelah mata pada dirinya.
Malam itu Maira terpaksa menuruti anjuran Renza
untuk menginap di hotel. Renza terus meyakinkan kalau dia sangat mencintai
Maira.
“Aku tak pandai merayu atau bermulut manis,
namun aku yakin cinta kita tidak akan mudah goyah meski diterjang ombak besar.
Maukah engkau mempertahankan cinta ini? Aku ingin mengayuh bahtera rumah tangga
bersamamu.”
Panjang lebar Renza menyampaikan maksud
hatinya.
“Pernikahan tanpa restu orang tua itu akan
hilang keberkahannya. Aku hanya mau menikah jika beroleh restu yang tulus dari
kedua belah pihak orang tua,” jawab Maira dengan pasti.
“Aku berjanji akan meminta restu pada kedua
orang tuaku. Tolong jangan tinggalkan aku, May. Bersabarlah. Aku akan
meyakinkan ibuku pelan-pelan,” tambahnya untuk meyakinkan Maira.
“Iya, aku mengerti. Sekarang pulanglah. Nanti
malam aku kembali ke kotaku.”
Sendiri menempuh perjalanan jauh bukan hal yang
nyaman bagi Maira. Kedatangannya di kota ini hanya membawa kekecewaan. Tapi
siapa tahu, awal yang tak nyaman justru bakal memberi banyak kebahagiaan pada
masa yang akan datang.
Maira kembali tenggelam dalam kesibukan di
cafenya. Kesibukan yang penuh warna dan canda ria. Maklum saja, enam karyawan
yang membantu di cafe itu semuanya masih muda dan sangat energik. Sepadat apa
pun pekerjaan, selalu berhias canda tawa.
Sore itu Rinda tergesa-gesa mencari Maira.
Langkahnya seperti dikejar sesuatu yang menakutkan.
“Teh, ada tamu yang minta ketemu Bu Bos. Tuh di
sudut sana,” kata Rinda sambil menunjuk ke arah meja yang terletak di sutu
ruangan. Sudut paling artistik yang menjadi favorit pengunjung.
Sejenak Maira mengingat-ingat wanita yang duduk
menyamping dengan dandanan yang sangat rapi itu. Sungguh kontras dengan
pengunjung lainnya yang rata-rata mengenakan pakaian santai.
“Selamat sore, Bu. Ada yang bisa saya bantu?
Silakan dicoba, ini hidangan kopi istimewa di tempat kami,” sapa Maira dengan
segala keramahan.
Ketika bola matanya bertumbuk dengan wanita itu, Maira membelalakkan mata
saking kagetnya.
“Ibuu…,” sapanya lagi. “Kapan datang dari
Jawa?”
Tetiba Bu Retno sudah duduk di cafenya. Rupanya
dia penasaran dengan perkataan Maira tempo hari dan hendak membuktikannya.
“Maafkan atas kelancangan saya waktu di rumah
Ibu,” lanjut Maira.
“Tak apa-apa. Justru saya yang harusnya minta
maaf. Ternyata usahamu benar-benar bisa diandalkaan ya,” jawabnya sambil
mengedarkan pandang ke seluruh isi ruangan.
“Cafenya juga bagus. Asri dan artistik. Ini
siapa yang membangun desain interiornya? Bagus. Bikin betah pengunjung.”
Maira sungguh terkesima mendengar penuturan Bu
Retno. Apa pula yang menyebabkan perubahan drastis semacam ini? Masa kesambet!
“Terima kasih atas tanggapannya, Bu.
Mudah-mudahan hidangan yang tersedia di tempat ini cocok di lidah,” jawab
Maira.
“Kamu masih mau melanjutkan hubungan dengan Renza?”
tanya Bu Retno tidak menghiraukan pernyataan Maira.
Pertanyaan tiba-tiba yang membuat Maira
tersedak.
Mohon krisannya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar