Kamis, 17 Februari 2022

Cerpen: Bilur-bilur Sesal

 

Sudah lebih dari dua jam Katrin membuka-buka gawainya. Semua informasi yang memang sedang jadi trending topik saat ini telah dilahapnya dengan cepat. Dia tak puas hanya membaca beberapa informasi yang muncul di dinding medsosnya, tetapi semua informasi dari dalam dan luar negeri, dari info recehan hingga bahasan dari para ahli, dari koran lokal hingga internasional telah dibaca semua dan lebih dari cukup untuk memenuhi keingintahuannya. Videonya pun telah banyak yang ditonton. Hingga Katrin merasa lelah dan pandangannya beralih pada dinding ruang keluarganya.

Dengan perasaan yang tak karuan lantaran kegundahan mulai memenuhi hatinya, Katrin menatap dan menikmati foto keluarga yang telah lama menghiasi rumahnya. Seakan baru menyadari keindahan yang terpancar dari foto itu.

Saat itu kedua anak lanangnya tengah berkumpul. Fajrin bisa mengambil cuti saat Dimas yang masih kuliah tengah libur akhir semester. Momen istimewa itu dimanfaatkan dengan membuat foto keluarga. Katrin dengan Danang, diapit dua jagoannya. Sungguh, pancaran kebahagiaan itu tampak dari keempat pasang mata yang ada dalam bingkai keemasan itu.

Katrin mulai dirambati perasaan bersalah. Entah kapan dan di mana ia memulai langkah petualangan yang tak sengaja dia lakukan dengan Ferdi. Dikatakan tak sengaja karena memang dia tak berniat melakukan hal yang tak elok. Apalagi berselingkuh. Tidak! Sedikit pun tak tebersit niat seperti itu. Namun, makin lama makin sering bertemu, makin sering tak menjaga hati, makin terbukalah kesempatan itu. Kesempatan untuk mengisi hati yang tak terhijab. Walau hanya sebatas chat, makan berdua, serta duduk berendeng, dan berpelukan

Mereka dikenal sebagai rekan kerja yang kompak dan sama-sama sudah married. Katrin dengan dua anak lelaki dan Ferdi dengan sepasang anak kembar. Dari saling berbagi cerita tentang kelucuan anak, saling mengusulkan hadiah terbaik buat anak dan pasangan masing-masing, saling menolong di tempat kerja, ternyata berlanjut pada kedekatan hati. Perasaan yang tumbuh berlanjut makin terpupuk karena kemunculannya tak berusaha dihalau. Justru makin bertambah hari, keduanya makin menikmati kebersamaan dan percikan keindahan yang ditimbulkannya. Mereka bermain api justru di tengah kebahagiaan keluarga masing-masing yang tak bermasalah.

Katrin benar-benar gundah. Dia tak mungkin memberi tahu Danang. Bagaimana jika gara-gara terpapar Covid-19 suaminya jadi tahu kenakalannya selama ini?  Membayangkan hal itu, Katrin dihinggapi rasa takut dan malu. Dia takut, semua akan terkuak karena penelusuran yang dilakukan tim medis. Jadi, sebelum itu terjadi, aku harus segera periksa mandiri, begitu pikirnya.

Sambil mengepak pakaian ke dalam kopernya, menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk jika harus menjalani karantina, Katrin mengingat kembali percakapan telepon dengan teman terkasihnya.

“Apa? Kapan kamu diperiksa?”

“Lima hari yang lalu, Cin... Aku udah dua tahap pemeriksaan. Sampel darah juga. Hasilnya benar-benar positif,” suara Ferdi merendah. “Para petugas medis menanyakan kedekatanku dengan siapa saja. Seisi rumahku sudah tes semua. Istriku juga kena. Untung Kakak sama Adek di luar kota. Gak mungkin, kan, aku bilang kedekatanku sama kamu, Cintaa…!”

“Ya, ampuun…,” Katrin benar-benar terhenyak. “Aku harus bagaimana?” suaranya berubah menjadi bisikan yang berbalut rasa takut.

Katrin didera rasa panik. Tenggorokannya tetiba berasa kering. Napasnya memburu dan tubuhnya menggigil.

“Periksalah secara mandiri sebelum petugas mendatangimu. Kita pasti jadi bahan berita. Apalagi jika informasi diambil dari kantor. Bisa berabe.”

“Ke mana aku harus periksa?”

“Pergilah ke rumah sakit swasta. Kamu harus gerak cepat tapi tetap tenang yaa…! Kangen selalu, Ciin…!”

Ucapan sayang Ferdi tak lagi menggetarkan hatinya. Yang ada saat ini adalah penyesalan dan rutukan atas kebodohannya. Ya, tiga hari lalu Ferdi mengajak keluar bareng. Hanya cari tempat yang indah buat melepas kangen karena tak lagi sering jumpa gara-gara pandemic Covid-19 ini. Katrin sudah pandai membuat alasan keluar agar suaminya tak menaruh curiga. Ke salon, mencari bahan kue, ke dokter kecantikan, dan lainnya. Pertemuannya pun tak lama. Cukup saling melepas kangen dengan mengobrol, berpegangan tangan, dan beberapa pelukan hangat.

Katrin memegangi dadanya yang berdetak makin cepat. Ketakutan akan mati muda dan rasa bersalah pada keluarganya, langsung menyergap sehingga kepalanya jadi sedemikian sakit.

“Hei, Bunda Syantik, mau ke mana, nih? Kok kayak yang udah siap,” tiba-tiba suaminya sudah berada di sampingnya saat Katrin selesai packing. Katrin tak mendengar suara mobil Danang saking galaunya. “Eh, kok nangis? Kenapa, Sayang? Ada apa?”

Suara lembut Danang dengan segala perhatiannya, membuat Katrin makin terluka. Luka karena ulahnya sendiri.

Danang memeluk istri tercintanya sambil membelai wajah cantiknya. Dikecupnya kening dan mata basah yang memiliki sejuta pesona itu. Katrin balas memeluk suaminya erat-erat. Tangisnya tak tertahan lagi. Dilepasnya semua beban perasaan di dadanya yang bidang, yang selalu siap memberinya rasa nyaman. Sikap Katrin ini membuat Danang kebingungan.

Belum sempat menjelaskan kegundahan hatinya, dari luar rumah terdengar derum mobil berhenti disertai suara-suara agak gaduh dari beberapa orang. Danang dan Katrin mengintip dari balik gorden. Danang melihat mobil dari Dinas Kesehatan terparkir di depan rumahnya. Beberapa tetangga keluar dari rumahnya dan melihat dari balik pagar.

Katrin makin gemetar. Tubuhnya benar-benar menggigil. Sungguh tak terbayangkan takutnya jika dia benar-benar terpapar virus yang mematikan itu. Apa yang harus dikatakan pada suaminya jika petugas menjelaskan sebab-sebabnya?

Pertanyaan dan ketakutan dalam pikiran Katrin serasa makin menghimpit. Berada di ruang tamu yang teduh dan nyaman ini tak terasa lagi kenikmatannya. Ruang dan waktu begitu menyesakkan dadanya. Ya, Tuhan, apa yang harus dikatakan pada suaminya? Beranikah menyampaikan dengan jujur dan meminta maaf pada lelaki yang sangat mencintainya ini? Katrin kembali ke ruang tengah untuk menenangkan diri.

Katrin berpikir, orang-orang yang melihat petugas turun dari mobil dengan pakaian APD tentu bertanya-tanya dalam hatinya, ada apakah gerangan? Apakah di daerahnya ada orang yang terpapar virus Corona? Bagaimana kalau mereka menuju rumah ini? Bagaimana jika informasi kedekatanku dengan pasien positif Corona telah diketahui tim medis? Duh, Gustiii…

Jantung Katrin serasa hendak copot saat mendengar ketukan di pintu rumahnya. Dia menyaksikan suaminya membuka pintu dan menjaga jarak dengan orang yang datang. Siapa, ya?

Katrin melongokkan kepala. Jantungnya benar-benar berdentum dengan dahsyatnya hingga ia terduduk lemas. Ya, Allah, petugas kesehatan itu ternyata membidik rumahnya. Mereka datang hendak memeriksanya.

Katrin tak punya daya lagi. Tubuhnya lemas tak bertenaga. Dia menerima pemeriksaan dan menurut saja ketika petugas mengajaknya keluar rumah. Diambilnya koper yang telah disiapkan dari tadi. Petugas mengiringi langkah lunglainya menuju mobil kesehatan. Sebelum pergi, Katrin melihat pada suaminya yang tengah mendapat penjelasan dari petugas medis lainnya.

Pandangan Danang yang biasanya lembut dan penuh dengan rasa sayang itu kini terlihat memerah. Katrin tak tahu, mata suaminya memerah itu karena menahan tangisan haru atau karena mendengar penjelasan petugas itu. Maksudnya, penjelasan tentang riwayat keterkaitan dirinya dengan penderita Covid -19 yang bekerja satu ruangan di kantornya. Katrin tak yakin tentang hal itu. Wanita yang didera rasa bersalah ini hendak menghampiri suaminya dan ingin menyampaikan permintaan maafnya. Sayang, petugas menghalangi dan suaminya terlihat sangat marah.

Danang bertolak pinggang, memandangi istrinya sambil menggelengkan kepala. Kekecewaan dan bayang hati yang terluka tergambar pada ekspresinya. Bibirnya terkatup. Gerahamnya menegang. Lelaki tangguh dan selalu mengayomi keluarga itu berbalik saat Katrin menangkupkan kedua tangannya tanda meminta maaf. Saat memunggungi istrinya, Danang menundukkan kepala lalu mengusap muka dengan perasaan gundah.

Katrin berbaring di ruang sepi. Kamar yang tak luas ini hanya berisi satu tempat tidur. Satu-satunya tempat yang bisa digunakan untuk merenung dan berbaring. Di sekeliling tempat tidurnya terdapat gorden plastik yang menjadi pembatas pandangannya. Sebuah meja kecil tersimpan di dekat pintu masuk, tempat perawat menyimpan jatah makanannya. Katrin merasa, hidupnya akan berakhir di tempat sepi ini. Tanpa tangis dan tanpa tatap duka dari siapa pun. Yang ada paling hanya pandang belas kasihan.

Berita-berita yang mengabarkan kondisi pasien Covid-19 membuat perasaan Katrin makin tak karuan. Kesedihan dan kesepian telah menjadi bagian dari hari-hari yang dilalui di kamar sempitnya. Apalagi saat mengetahui kabar kematian Ferdi, harapan hidupnya makin menipis. Ferdi saja tak mampu bertahan dari penyakit itu, apalagi dirinya yang rapuh.

Yang menggerogoti tubuhnya kini bukan hanya virus itu, melainkan rasa bersalah pada suaminya. Katrin tak begitu sedih mengetahui Ferdi meninggalkannya walau telah mengisi sebagian ruang hatinya. Karena kesedihan terdalamnya saat ini hanyalah rasa takut tak mendapat maaf dari suaminya. Apalagi dari berita diketahui bahwa suaminya pun positif terpapar virus ini.

Sungguh Katrin merasa sangat tertekan. Jiwanya melemah. Selain tertekan atas penyakit yang menimpanya, media yang memberitakan kronologi tertularnya seorang karyawati yang berselingkuh dengan karyawan positif Covid-19 juga turut membuat kondisi Katrin makin menurun. Apalagi saat Fajrin dan Dimas menanyakan kebenaran atas berita itu.

“Maafkan bunda, Nak. Bunda tak akan memaksa kalian untuk percaya. Berita-berita itu sedemikian derasnya. Bunda hanya minta, tolong maafkan bunda. Doakan setiap saat agar jika bunda harus pergi, bunda telah mendapatkan maaf dari kalian, buah hati bunda. Semoga kalian mendapatkan perlindungan-Nya dan berhasil menjadi orang yang jujur.”

Fajrin dan Dimas tak lagi mempermasalahkan hal itu. Mereka telah cukup dewasa. Dalam keadaan sempit, Katrin masih bisa bersyukur. Kedua anaknya tak termakan oleh berita itu.

Katrin selalu teringat pada suaminya. Entah di mana Danang dirawat. Karena selama menjalani masa karantina, dia tak bisa menghubungi suaminya. Andai sembuh dan bisa kembali ke pangkuan keluarga, Katrin hendak bersimpuh memohon maaf pada Danang. Apa pun keputusan Danang, akan diterimanya sebagai penebus kesalahannya. Andai tak sempat jumpa, dia hanya berharap sedikit maaf dari suami yang amat dicintainya.

“Assalamualaikum. Bagaimana kabar Mas? Di mana Mas dirawat?”

Berhari-hari Katrin menunggu jawaban atas sapaan itu. Gawainya tak menampakkan tanda-tanda munculnya balasan chat dari suaminya.

“Maafkan saya, Mas. Sungguh saya hanya berharap Mas memaafkan kesalahan saya. Saya bersalah telah melabuhkan perasaan pada orang lain. Padahal saya tahu, saya sangat mencintai Mas Danang juga kedua anak kita. Saya telah khilaf. Maafkan saya. Saya hanya berharap Mas memaafkan kesalahan saya sebelum saya harus menghadap-Nya.”

Itu pun tak ada jawaban. Gawai suaminya tidak aktif. Betapa bilur-bilur penyesalannya telah memenuhi seluruh ruang hatinya. Betapa hidup serasa sia-sia karena tak mendapat rida suami. Betapa jauuh dari keridaan-Nya jika tak mendapat tatapan surgawi dari suaminya. Betapa semua ini sangat mengoyak harapannya.

Ternyata, saat dimintai kabar, Fajrin dan Dimas pun tak bisa mengontak ayahnya. Mereka tak mengetahui tempat ayahnya dirawat. Katrin menanyakan tempat rawat inap suaminya kepada petugas medis, namun mereka hanya menggelengkan kepala. Kedatangannya ke ruangan hanya untuk mengecek kondisinya dan memberikan vitamin. Selanjutnya Katrin selalu sendiri di dalam ruangan.

Saat kerongkongan terasa begitu kering, saat sesak kadang melanda, sering Katrin merasa hidupnya segera berakhir di tempat ini. Karena itulah, dia jarang tidur. Hari-hari diisinya dengan menyebut asma-Nya. Senantiasa memohon ampunan atas segala kesalahannya selama ini. Tiada malam tanpa sujud panjangnya. Tiada detik tanpa permohonan ampunan-Nya. Katrin berusaha mengatasi rasa sakit dan rasa takutnya dengan terus mendekatkan diri pada-Nya. Di satu sisi dia merasa ajal segera menjemput, namun di sisi lain dia berusaha menjaga semangat hidupnya. Satu yang membuatnya sangat ingin bertahan hidup adalah harapannya untuk berjumpa dan meminta maaf pada suaminya.

Beban yang menindih sukma Katrin makin lama makin berat. Dia makin tak mampu memikulnya. Hal ini tentu sangatlah berpengaruh pada kondisi kesehatannya. Di ujung kepasrahannya, dia mengalami kondisi puncak. Tangannya berusaha menggapai bel tanda panggilan darurat saat merasa sulit bernapas. Katrin segera ditangani dengan ventilator agar mendapatkan asupan oksigen yang cukup. Namun, meski sudah menggunakan alat bantu gagal napas, kondisi Katrin tak juga membaik.

Sebelum benar-benar napasnya berhenti, Katrin masih bisa mendengar gawainya berkali-kali berbunyi, pertanda pesan yang masuk. Wajahnya bersinar. Segaris senyum tipis tersungging di bibirnya. Sesaat kemudian, Katrin tiba pada penghujung hidup.

“Innalillahi wainna ilaihi rajiun …,”

Hampir bersamaan, dokter dan perawat yang menanganinya melafazkan kalimat istirja, mengantar kepergian pasiennya.

Perawat melihat gawai milik pasien yang terus berbunyi. Dia tak berani mengambil atau membacanya. Mungkin merasa sungkan pada dokter. Namun dokter rupanya cukup mengerti. Melalui isyarat, dokter mengizinkan perawat untuk membacanya.

“Cepat sembuh, ya, Sayang. Maaf, HP Mas hilang. Mungkin jatuh saat menuju tempat rawat inap. Nomornya baru diaktifkan lagi setelah Mas dinyatakan negatif. Jangan berpikir yang berat-berat. Cepatlah sembuh. Kujemput nanti agar kita bisa menua bersama dan bermain dengan cucu. Peluk cium Mas yang selalu sayang.”

Siang yang terik berangsur meredup. Semilir angin mengiringi kepergian seorang wanita tanpa pengantar air mata duka.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar