Sudah lebih dari dua jam Katrin
membuka-buka gawainya. Semua informasi yang memang sedang jadi trending topik
saat ini telah dilahapnya dengan cepat. Dia tak puas hanya membaca beberapa
informasi yang muncul di dinding medsosnya, tetapi semua informasi dari dalam
dan luar negeri, dari info recehan hingga bahasan dari para ahli, dari koran
lokal hingga internasional telah dibaca semua dan lebih dari cukup untuk
memenuhi keingintahuannya. Videonya pun telah banyak yang ditonton. Hingga Katrin
merasa lelah dan pandangannya beralih pada dinding ruang keluarganya.
Dengan perasaan yang tak karuan lantaran
kegundahan mulai memenuhi hatinya, Katrin menatap dan menikmati foto keluarga
yang telah lama menghiasi rumahnya. Seakan baru menyadari keindahan yang
terpancar dari foto itu.
Saat itu kedua anak lanangnya tengah
berkumpul. Fajrin bisa mengambil cuti saat Dimas yang masih kuliah tengah libur
akhir semester. Momen istimewa itu dimanfaatkan dengan membuat foto keluarga.
Katrin dengan Danang, diapit dua jagoannya. Sungguh, pancaran kebahagiaan itu
tampak dari keempat pasang mata yang ada dalam bingkai keemasan itu.
Katrin mulai dirambati perasaan bersalah.
Entah kapan dan di mana ia memulai langkah petualangan yang tak sengaja dia
lakukan dengan Ferdi. Dikatakan tak sengaja karena memang dia tak berniat
melakukan hal yang tak elok. Apalagi berselingkuh. Tidak! Sedikit pun tak
tebersit niat seperti itu. Namun, makin lama makin sering bertemu, makin sering
tak menjaga hati, makin terbukalah kesempatan itu. Kesempatan untuk mengisi
hati yang tak terhijab. Walau hanya sebatas chat, makan berdua, serta duduk
berendeng, dan berpelukan
Mereka dikenal sebagai rekan kerja yang kompak
dan sama-sama sudah married. Katrin dengan dua anak lelaki dan Ferdi
dengan sepasang anak kembar. Dari saling berbagi cerita tentang kelucuan anak,
saling mengusulkan hadiah terbaik buat anak dan pasangan masing-masing, saling
menolong di tempat kerja, ternyata berlanjut pada kedekatan hati. Perasaan yang
tumbuh berlanjut makin terpupuk karena kemunculannya tak berusaha dihalau.
Justru makin bertambah hari, keduanya makin menikmati kebersamaan dan percikan
keindahan yang ditimbulkannya. Mereka bermain api justru di tengah kebahagiaan
keluarga masing-masing yang tak bermasalah.
Katrin benar-benar gundah. Dia tak mungkin
memberi tahu Danang. Bagaimana jika gara-gara terpapar Covid-19 suaminya jadi
tahu kenakalannya selama ini? Membayangkan
hal itu, Katrin dihinggapi rasa takut dan malu. Dia takut, semua akan terkuak
karena penelusuran yang dilakukan tim medis. Jadi, sebelum itu terjadi, aku
harus segera periksa mandiri, begitu pikirnya.
Sambil mengepak pakaian ke dalam kopernya,
menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk jika harus menjalani karantina,
Katrin mengingat kembali percakapan telepon dengan teman terkasihnya.
“Apa? Kapan kamu diperiksa?”
“Lima hari yang lalu, Cin... Aku udah dua
tahap pemeriksaan. Sampel darah juga. Hasilnya benar-benar positif,” suara
Ferdi merendah. “Para petugas medis menanyakan kedekatanku dengan siapa saja.
Seisi rumahku sudah tes semua. Istriku juga kena. Untung Kakak sama Adek di
luar kota. Gak mungkin, kan, aku bilang kedekatanku sama kamu, Cintaa…!”
“Ya, ampuun…,” Katrin benar-benar
terhenyak. “Aku harus bagaimana?” suaranya berubah menjadi bisikan yang
berbalut rasa takut.
Katrin didera rasa panik. Tenggorokannya
tetiba berasa kering. Napasnya memburu dan tubuhnya menggigil.
“Periksalah secara mandiri sebelum petugas
mendatangimu. Kita pasti jadi bahan berita. Apalagi jika informasi diambil dari
kantor. Bisa berabe.”
“Ke mana aku harus periksa?”
“Pergilah ke rumah sakit swasta. Kamu
harus gerak cepat tapi tetap tenang yaa…! Kangen selalu, Ciin…!”
Ucapan sayang Ferdi tak lagi menggetarkan
hatinya. Yang ada saat ini adalah penyesalan dan rutukan atas kebodohannya. Ya,
tiga hari lalu Ferdi mengajak keluar bareng. Hanya cari tempat yang indah buat
melepas kangen karena tak lagi sering jumpa gara-gara pandemic Covid-19 ini.
Katrin sudah pandai membuat alasan keluar agar suaminya tak menaruh curiga. Ke
salon, mencari bahan kue, ke dokter kecantikan, dan lainnya. Pertemuannya pun
tak lama. Cukup saling melepas kangen dengan mengobrol, berpegangan tangan, dan
beberapa pelukan hangat.
Katrin memegangi dadanya yang berdetak
makin cepat. Ketakutan akan mati muda dan rasa bersalah pada keluarganya, langsung
menyergap sehingga kepalanya jadi sedemikian sakit.
“Hei, Bunda Syantik, mau ke mana, nih? Kok
kayak yang udah siap,” tiba-tiba suaminya sudah berada di sampingnya saat
Katrin selesai packing. Katrin tak mendengar suara mobil Danang saking
galaunya. “Eh, kok nangis? Kenapa, Sayang? Ada apa?”
Suara lembut Danang dengan segala
perhatiannya, membuat Katrin makin terluka. Luka karena ulahnya sendiri.
Danang memeluk istri tercintanya sambil
membelai wajah cantiknya. Dikecupnya kening dan mata basah yang memiliki sejuta
pesona itu. Katrin balas memeluk suaminya erat-erat. Tangisnya tak tertahan
lagi. Dilepasnya semua beban perasaan di dadanya yang bidang, yang selalu siap
memberinya rasa nyaman. Sikap Katrin ini membuat Danang kebingungan.
Belum sempat menjelaskan kegundahan
hatinya, dari luar rumah terdengar derum mobil berhenti disertai suara-suara
agak gaduh dari beberapa orang. Danang dan Katrin mengintip dari balik gorden.
Danang melihat mobil dari Dinas Kesehatan terparkir di depan rumahnya. Beberapa
tetangga keluar dari rumahnya dan melihat dari balik pagar.
Katrin makin gemetar. Tubuhnya benar-benar
menggigil. Sungguh tak terbayangkan takutnya jika dia benar-benar terpapar
virus yang mematikan itu. Apa yang harus dikatakan pada suaminya jika petugas menjelaskan
sebab-sebabnya?
Pertanyaan dan ketakutan dalam pikiran
Katrin serasa makin menghimpit. Berada di ruang tamu yang teduh dan nyaman ini
tak terasa lagi kenikmatannya. Ruang dan waktu begitu menyesakkan dadanya. Ya,
Tuhan, apa yang harus dikatakan pada suaminya? Beranikah menyampaikan dengan
jujur dan meminta maaf pada lelaki yang sangat mencintainya ini? Katrin kembali
ke ruang tengah untuk menenangkan diri.
Katrin berpikir, orang-orang yang melihat
petugas turun dari mobil dengan pakaian APD tentu bertanya-tanya dalam hatinya,
ada apakah gerangan? Apakah di daerahnya ada orang yang terpapar virus Corona?
Bagaimana kalau mereka menuju rumah ini? Bagaimana jika informasi kedekatanku
dengan pasien positif Corona telah diketahui tim medis? Duh, Gustiii…
Jantung Katrin serasa hendak copot saat
mendengar ketukan di pintu rumahnya. Dia menyaksikan suaminya membuka pintu dan
menjaga jarak dengan orang yang datang. Siapa, ya?
Katrin melongokkan kepala. Jantungnya
benar-benar berdentum dengan dahsyatnya hingga ia terduduk lemas. Ya, Allah,
petugas kesehatan itu ternyata membidik rumahnya. Mereka datang hendak
memeriksanya.
Katrin tak punya daya lagi. Tubuhnya lemas
tak bertenaga. Dia menerima pemeriksaan dan menurut saja ketika petugas
mengajaknya keluar rumah. Diambilnya koper yang telah disiapkan dari tadi.
Petugas mengiringi langkah lunglainya menuju mobil kesehatan. Sebelum pergi,
Katrin melihat pada suaminya yang tengah mendapat penjelasan dari petugas medis
lainnya.
Pandangan Danang yang biasanya lembut dan
penuh dengan rasa sayang itu kini terlihat memerah. Katrin tak tahu, mata suaminya
memerah itu karena menahan tangisan haru atau karena mendengar penjelasan
petugas itu. Maksudnya, penjelasan tentang riwayat keterkaitan dirinya dengan
penderita Covid -19 yang bekerja satu ruangan di kantornya. Katrin tak yakin
tentang hal itu. Wanita yang didera rasa bersalah ini hendak menghampiri
suaminya dan ingin menyampaikan permintaan maafnya. Sayang, petugas menghalangi
dan suaminya terlihat sangat marah.
Danang bertolak pinggang, memandangi
istrinya sambil menggelengkan kepala. Kekecewaan dan bayang hati yang terluka
tergambar pada ekspresinya. Bibirnya terkatup. Gerahamnya menegang. Lelaki
tangguh dan selalu mengayomi keluarga itu berbalik saat Katrin menangkupkan
kedua tangannya tanda meminta maaf. Saat memunggungi istrinya, Danang menundukkan
kepala lalu mengusap muka dengan perasaan gundah.
Katrin berbaring di ruang sepi. Kamar yang
tak luas ini hanya berisi satu tempat tidur. Satu-satunya tempat yang bisa
digunakan untuk merenung dan berbaring. Di sekeliling tempat tidurnya terdapat
gorden plastik yang menjadi pembatas pandangannya. Sebuah meja kecil tersimpan
di dekat pintu masuk, tempat perawat menyimpan jatah makanannya. Katrin merasa,
hidupnya akan berakhir di tempat sepi ini. Tanpa tangis dan tanpa tatap duka
dari siapa pun. Yang ada paling hanya pandang belas kasihan.
Berita-berita yang mengabarkan kondisi
pasien Covid-19 membuat perasaan Katrin makin tak karuan. Kesedihan dan
kesepian telah menjadi bagian dari hari-hari yang dilalui di kamar sempitnya.
Apalagi saat mengetahui kabar kematian Ferdi, harapan hidupnya makin menipis.
Ferdi saja tak mampu bertahan dari penyakit itu, apalagi dirinya yang rapuh.
Yang menggerogoti tubuhnya kini bukan
hanya virus itu, melainkan rasa bersalah pada suaminya. Katrin tak begitu sedih
mengetahui Ferdi meninggalkannya walau telah mengisi sebagian ruang hatinya. Karena
kesedihan terdalamnya saat ini hanyalah rasa takut tak mendapat maaf dari
suaminya. Apalagi dari berita diketahui bahwa suaminya pun positif terpapar
virus ini.
Sungguh Katrin merasa sangat tertekan.
Jiwanya melemah. Selain tertekan atas penyakit yang menimpanya, media yang
memberitakan kronologi tertularnya seorang karyawati yang berselingkuh dengan
karyawan positif Covid-19 juga turut membuat kondisi Katrin makin menurun.
Apalagi saat Fajrin dan Dimas menanyakan kebenaran atas berita itu.
“Maafkan bunda, Nak. Bunda tak akan
memaksa kalian untuk percaya. Berita-berita itu sedemikian derasnya. Bunda
hanya minta, tolong maafkan bunda. Doakan setiap saat agar jika bunda harus
pergi, bunda telah mendapatkan maaf dari kalian, buah hati bunda. Semoga kalian
mendapatkan perlindungan-Nya dan berhasil menjadi orang yang jujur.”
Fajrin dan Dimas tak lagi mempermasalahkan
hal itu. Mereka telah cukup dewasa. Dalam keadaan sempit, Katrin masih bisa
bersyukur. Kedua anaknya tak termakan oleh berita itu.
Katrin selalu teringat pada suaminya. Entah
di mana Danang dirawat. Karena selama menjalani masa karantina, dia tak bisa
menghubungi suaminya. Andai sembuh dan bisa kembali ke pangkuan keluarga, Katrin
hendak bersimpuh memohon maaf pada Danang. Apa pun keputusan Danang, akan
diterimanya sebagai penebus kesalahannya. Andai tak sempat jumpa, dia hanya
berharap sedikit maaf dari suami yang amat dicintainya.
“Assalamualaikum. Bagaimana kabar Mas? Di
mana Mas dirawat?”
Berhari-hari Katrin menunggu jawaban atas
sapaan itu. Gawainya tak menampakkan tanda-tanda munculnya balasan chat
dari suaminya.
“Maafkan saya, Mas. Sungguh saya hanya
berharap Mas memaafkan kesalahan saya. Saya bersalah telah melabuhkan perasaan
pada orang lain. Padahal saya tahu, saya sangat mencintai Mas Danang juga kedua
anak kita. Saya telah khilaf. Maafkan saya. Saya hanya berharap Mas memaafkan
kesalahan saya sebelum saya harus menghadap-Nya.”
Itu pun tak ada jawaban. Gawai suaminya
tidak aktif. Betapa bilur-bilur penyesalannya telah memenuhi seluruh ruang
hatinya. Betapa hidup serasa sia-sia karena tak mendapat rida suami. Betapa
jauuh dari keridaan-Nya jika tak mendapat tatapan surgawi dari suaminya. Betapa
semua ini sangat mengoyak harapannya.
Ternyata, saat dimintai kabar, Fajrin dan Dimas
pun tak bisa mengontak ayahnya. Mereka tak mengetahui tempat ayahnya dirawat. Katrin
menanyakan tempat rawat inap suaminya kepada petugas medis, namun mereka hanya
menggelengkan kepala. Kedatangannya ke ruangan hanya untuk mengecek kondisinya
dan memberikan vitamin. Selanjutnya Katrin selalu sendiri di dalam ruangan.
Saat kerongkongan terasa begitu kering,
saat sesak kadang melanda, sering Katrin merasa hidupnya segera berakhir di
tempat ini. Karena itulah, dia jarang tidur. Hari-hari diisinya dengan menyebut
asma-Nya. Senantiasa memohon ampunan atas segala kesalahannya selama ini. Tiada
malam tanpa sujud panjangnya. Tiada detik tanpa permohonan ampunan-Nya. Katrin
berusaha mengatasi rasa sakit dan rasa takutnya dengan terus mendekatkan diri
pada-Nya. Di satu sisi dia merasa ajal segera menjemput, namun di sisi lain dia
berusaha menjaga semangat hidupnya. Satu yang membuatnya sangat ingin bertahan
hidup adalah harapannya untuk berjumpa dan meminta maaf pada suaminya.
Beban yang menindih sukma Katrin makin
lama makin berat. Dia makin tak mampu memikulnya. Hal ini tentu sangatlah berpengaruh
pada kondisi kesehatannya. Di ujung kepasrahannya, dia mengalami kondisi puncak.
Tangannya berusaha menggapai bel tanda panggilan darurat saat merasa sulit
bernapas. Katrin segera ditangani dengan ventilator agar mendapatkan asupan
oksigen yang cukup. Namun, meski sudah menggunakan alat bantu gagal napas,
kondisi Katrin tak juga membaik.
Sebelum benar-benar napasnya berhenti,
Katrin masih bisa mendengar gawainya berkali-kali berbunyi, pertanda pesan yang
masuk. Wajahnya bersinar. Segaris senyum tipis tersungging di bibirnya. Sesaat
kemudian, Katrin tiba pada penghujung hidup.
“Innalillahi wainna ilaihi rajiun …,”
Hampir bersamaan, dokter dan perawat yang
menanganinya melafazkan kalimat istirja, mengantar kepergian pasiennya.
Perawat melihat gawai milik pasien yang
terus berbunyi. Dia tak berani mengambil atau membacanya. Mungkin merasa
sungkan pada dokter. Namun dokter rupanya cukup mengerti. Melalui isyarat,
dokter mengizinkan perawat untuk membacanya.
“Cepat sembuh, ya, Sayang. Maaf, HP Mas
hilang. Mungkin jatuh saat menuju tempat rawat inap. Nomornya baru diaktifkan
lagi setelah Mas dinyatakan negatif. Jangan berpikir yang berat-berat. Cepatlah
sembuh. Kujemput nanti agar kita bisa menua bersama dan bermain dengan cucu. Peluk
cium Mas yang selalu sayang.”
Siang yang terik berangsur meredup. Semilir
angin mengiringi kepergian seorang wanita tanpa pengantar air mata duka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar