Kamis, 17 Februari 2022

Cerpen: Mendulang Cinta

 

“Ya Allah, Gustiii… padahal soal kacamata aku tidak pernah sembarangan. Pasti kusimpan di tempatnya,” Bu Mar mengatupkan bibirnya sambil menahan marah. Wanita lebih dari paruh baya itu bertolak pinggang di depan bufet tempat menyimpan kacamatanya. Rambut putihnya yang biasa tertutup ciput kini terlihat berumbai-rumbai tak beraturan. Semrawut seperti suasana hatinya kini.

“Bener kok, pasti kusimpan di dalam tas gantung wadah kacamata ini. Sengaja kugunakan tas bening ini biar mudah dilihat,” demikian dalih Bu Mar saat suaminya mengatakan kalau-kalau ia lupa menyimpan kacamata di sembarang tempat.

Pak Sam yang tengah membersihkan kandang Si Dhenok dan Cah Bagus melirik istrinya yang masih mondar-mandir mencari kacamata. Tak tega sebenarnya melihat istrinya kebingungan begitu. Tapi pekerjaannya belum tuntas betul dan tak bisa ditinggal untuk membantu istrinya. Dia tak bisa meninggalkan perkutut kesayangannya di saat tanggung. Membersihkan kandang dan melengkapi fasilitasnya belum dituntaskan.

“Sudahlah, Bu, nanti Bapak bantu. Bentar, ya? Bapak masih bersih-bersih kandang. Barangkali kalau Bapak yang nyari, bisa cepat ketemu,” kata Pak Sam. “Lagian Ibu kan punya banyak kacamata, pake yang ada kan bisa.”

“Banyak gimana? Sembarangan aja kalau bicara!” Bu Mar agak tersinggung dengan ucapan suaminya. “Memangnya aku pemboros apa? Masa kacamata punya dua aja dibilang banyak. Lagi pula yang satu udah patah framenya”

“Lha iya, toh? Lebih dari satu itu bisa dibilang banyak, Bu! Banyak bukan berarti boros, kok. Ibu kan tambah ayu kalau pake kacamata yang beda-beda.”

“Bapak ini… pake muji segala! Biar aku gak tambah marah, kan? Pujian yang kayak gitu udah tahu dari dulu! Wis gak usum!” kata Bu Mar sambil memonyongkan bibirnya.

“Lha ya, sudah! Gimana, udah ketemu kacamatanya?”

“Kalau sudah ketemu, aku gak pusing kayak gini, Pak! Cepet dong bantu carikan,” Bu Mar mulai terlihat gusar.

Suami istri Pak Sam dan Bu Mar tinggal bertiga saja. Kedua anak lelakinya telah berumah tangga dan tinggal di luar kota. Bu Mar mengisi waktu dengan menulis artikel atau cerita. Kemampuannya dalam mengolah kata tidak perlu diragukan lagi. Itu sebabnya, tulisan beliau sering dimuat di surat kabar dan majalah.

Bagi Bu Mar, menulis memberi kebahagiaan tersendiri. Bisa jadi teman pengisi hari sehingga ia terhindar dari rasa jenuh. Bisa juga jadi pengobat lara manakala merindukan anak cucu namun tak bisa bersua. Apalagi di saat pandemik Corona sekarang ini. Kedua anak lelakinya tak bisa mudik karena hampir semua kota menerapkan PSBB.

Setelah pensiun dari tugas negara, Pak Sam menyibukkan diri dengan burung-burungnya. Cukup banyak burung peliharaannya. Si Dhenok dan Cah Bagus adalah perkutut kesayangannya. Nyanyian burung-burung itulah yang menjadi hiburan yang paling membahagiakan dirinya. Bisa dikatakan, di usia senja suami istri itu mampu mendulang kebahagiaan dengan caranya masing-masing.

“Udah dicari di mana saja, Bu? Biar sekarang Bapak bantu nyari ke tempat yang belum ibu jelajahi,” Pak Sam menawarkan diri.

“Rasanya sih, udah ke semua tempat, Pak!” kata Bu Mar sambil matanya tetap menyapu tempat-tempat penyimpanan kacamata di ruang keluarganya. “Duh, sampai pusing kayak gini.”

“Ya, sudah, kalau sudah lelah, Ibu duduk saja dulu. Biar Bapak sekarang yang nyari,” kata Pak Sam.

Pak Sam sangat menyayangi istrinya dan tidak ingin dia terlalu lelah. Pak Sam takut, sebab menurut artikel, kondisi tertekan pada seseorang bakal berakibat buruk pada tubuh dan pikirannya. Lelah lahir batin bisa menjadi penyebab seseorang terkena depresi.

Nayla yang baru selesai mencuci, mencoba urun tangan. Lupa menyimpan kacamata termasuk kejadian yang memiliki frekuensi tinggi. Sering banget, malah. Tapi, untuk menyenangkan ibunya, semua orang harus ikut bergerak.

Nayla mencari di bufet, lemari, kamar dan semua tempat yang biasa didatangi ibunya. Pencariannya tak boleh menggunakan kata agar tak mengundang omelan berlebih dari sang ibu.    

Nayla melihat ibunya mengambil tisu dan mengelap keringat pada keningnya, pada hidungnya, dan lehernya. Ibunya mengangkat kedua tangannya untuk memijit kepalanya yang cenut-cenut dan memanas gara-gara kacamatanya.

“Hah? Apa ini?”

Tiba-tiba Bu Mar menarik tangannya, terkekeh sendiri, lalu meledaklah tawanya.

Tentu saja Pak Sam yang baru beranjak hendak menjelajah mencari kacamata jadi kaget dan tersentak. Ia takut kalau-kalau istrinya mendadak depresi gegara kacamata. Ia sering membaca jika terlalu lelah atau tertekan, seorang istri bisa terkena depresi. Hal ini terjadi pada istri kawannya. Bahkan lebih jauh lagi, jika tidak ditangani dengan benar, bisa terganggu pikiran dan bisa terus berhalusinasi. Hii… Pak Sam bergidik lalu mengucap istigfar.

Cepat-cepat ia mendekat dan menyaksikan istrinya yang masih tertawa. Pandangan Pak Sam beralih pada tangan istrinya yang sedang memegang kacamata.

“Udah ketemu to, Bu? Dari mana?” Pak Sam kelihatan senang.

“Aduuh, Pak, udah pusing nyari-nyari ke semua tempat, ternyata menclok di kepala,” jawab Bu Mar dengan sisa-sisa tawanya.

“Ealaah…!” Pak Sam tertawa terbahak-bahak.

“Tuh kan, Bapak malah ngetawain!” kata Bu Mar sambil melotot.

Pak Sam tak menjawab. Ia pergi menyembunyikan tawanya. Nayla hanya mesem lalu melanjutkan pekerjaannya menjemur pakaian.

Sesungguhnya, Nayla tengah galau. Ibunya berharap agar gadis bungsunya segera mendapat pendamping. Namun sayang, Pak Sam tak menyetujui pilihan Nayla. Kang Yandi yang berhasil memikat hatinya, tak sesuai kriteria ayahnya.

“Penghidupan kayak apa nanti kalau kamu pilih pemuda itu. Wong Si Dhenok aja gak suka!”

Lagi-lagi itu yang dibahas. Alasan yang tak bisa diterima Nayla.

Ya, saat itu, Yandi datang ke rumah Nayla hendak memberikan ikan dari kolamnya yang baru saja dikuras. Ikan gurami besar itu masih hidup. Gurami itu meronta dan gerakan yang ditimbulkannya sangat kuat. Yandi pun hampir kewalahan memegang tali pengikatnya.

Si Dhenok yang tengah berjemur terlihat kaget dan ketakutan. Ia menjerit dan kebingungan ke sana kemari mencari tempat persembunyian di kandangnya. Karena panik, burung itu membentur-bentur dinding kandangnya. Bulu-bulu perkutut kesayangan Pak Sam beterbangan hingga Dhenok yang begitu mulus jadi terlihat kumal dan jelas-jelas terkena depresi. Sikap Dhenok inilah yang menjadi dasar penolakannya pada Yandi.

Pak Sam percaya, perkutut bukan sekadar burung. Perkutut burung bertuah yang mendatangkan berkah pada keluarganya. Bukan karena Pak Sam tak menyembah Gusti Allah, justru beliau penganut agama yang taat. Namun, beliau sangat menghargai warisan budaya keluarga yang memelihara dan menghormati burung perkutut. Perilaku dan sikap burung itu selalu diterjemahkannya sebagai penanda atau firasat atas suatu kejadian.

Sejak itulah Pak Sam tak menyukai Yandi. Padahal pemuda itu jelas asal-usulnya, baik budi pekertinya, sarjana yang mengabdikan diri pada bidang perikanan dan pertanian masyarakat. Sungguh calon menantu idaman. Semua orang tua yang punya anak gadis berharap mendapatkan Yandi sebagai menantu. Namun hati Yandi hanya tertambat pada Nayla. Demikian pula sebaliknya.

“Pak, ayolah, demi anak kita. Kasihan Nayla. Umurnya sudah seperempat abad dan bayangan jodohnya …,”

Entah ke berapa kali, tak bosan Bu Mar menyampaikan kekhawatirannya atas jodoh untuk Nayla.

”Ah, sudahlah, Bu. Lupakan pemuda itu. Dia bukan jodoh anak kita. Ingat, Si Denok pun tak suka padanya,” Pak Sam mencibir.

“Bapak nih. Mestiii… arahnya ke situ. Dhenok kaget kan gegara gurami, bukan tak suka pada Yandi,” Bu Mar mengulang jawaban yang sama setiap kali berdebat soal Yandi.

Pak Sam tak menjawab lagi. Dengan cekatan, ayah Nayla itu mengerek kandang Cah Bagus setelah Si Dhenok berada di ketinggian yang disukainya. Kepala Pak Sam mendongak, tengadah mengikuti arah kandang yang melaju tegak lurus. Lalu berhenti setara dengan ketinggian kandang Si Dhenok. Mulutnya terus menyuarakan bunyi perkutut yang bersambut dengan Cah Bagus. Benar-benar sepenggalah hari yang menyenangkan.

Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba Cah Bagus bisa membuka pintu kandang lalu terbang berputar-putar di sekitar kandangnya. Pak Sam kaget luar biasa. Dia tak pernah lalai menutup pintu kandang. Hatinya serasa lenyap bersamaan dengan perkututnya yang terbang berpindah-pindah.

Setelah puas bersahutan dengan Si Dhenok, Cah Bagus terbang dan menclok di pagar rumah. Sungguh besar harapan Pak Sam bisa mendapatkan perkututnya kembali. Mulutnya komat-kamit sambil tangannya terjulur merayu Cah Bagus agar sudi kembali. Namun burung itu malah terbang menjauh ke arah selatan.

Dari jauh, terlihat Yandi berjalan bersama Pak Lurah menuju arah Pak Sam. Kedua orang itu melihat kegusaran Pak Sam yang terpancar dari raut mukanya. Ditambah dengan langkah Pak Sam yang mondar-mandir penuh kepanikan.

“Selamat siang, Pak Sam. Mengapa, eh, ada apa, Pak?” sapa Pak Lurah sambil memperbaiki letak maskernya.

Pak Sam tak segera menjawab. Keringat dingin membasuh tubuhnya. Orang tua itu limbung karena kakinya yang ndredeg tak mampu menopang berat badannya. Dengan sigap, Yandi dan Pak Lurah menahannya agar tak sampai jatuh membentur tanah. Mereka mendudukkan Pak Sam di bangku panjang.

Setelah istrinya memberi minum, Pak Sam menarik napas panjang lalu memandang Yandi dengan sorot mata yang memerah.

“Ini! Ya, ini! Dua kali saya ketemu orang ini, dua kali pula Dhenok dan Bagus kena masalah. Pasti tak salah lagi! Kamu pembawa gerhana di rumahku!” suara Pak Sam bergetar saking marahnya. Inginnya melakukan yang lebih kasar tapi sungkan pada Pak Lurah.

“Kenapa dengan Dhenok dan Bagus Pak?” lanjut Pak Lurah. Yandi hanya diam menyimak.

Pak Lurah mendapat sedikit penjelasan dari Bu Mar. Beliau mengangguk-angguk, menunjukkan sikap prihatin. Setelah sedikit berbasa-basi, keduanya berdiri hendak melanjutkan perjalanan.

Tiba-tiba terdengar siulan nyaring Cah Bagus. Siulan yang biasa dibunyikan saat perkutut itu merasa bahagia. Ya, Pak Sam hafal betul dengan warna siulan burung pujaannya itu. Saat Cah Bagus sedih, sakit, murung, atau bahagia. Semua dengan warna suara yang berbeda.

Keheranan Pak Sam kian bertambah, perkututnya terbang mendekat dan hinggap di bahu Yandi. Tangan pemuda itu secara refleks mengusap lembut bulu abunya yang disambut dengan sundulan kepala perkutut pada dagu dan pipi Yandi. Dua makhluk yang baru bersentuhan itu begitu akrab dan bersahabat.

Pak Sam mengulurkan tangannya hendak merayu Cah Bagus agar kembali padanya. Namun burung itu menghindar dan hinggap di pohon jambu.

“Maaf. Maaf Cah Bagus! Maafkan semua kekeliruanku selama ini.”

Kedua tangan Pak Sam ditangkup di dada, kepalanya menunduk khidmat menghadap perkututnya. Seakan tengah meminta maaf pada makhluk yang diseganinya.

Entah bagaimana pula, Cah Bagus kembali meluncur dan hinggap lagi di bahu Yandi yang masih terheran-heran. Tangan kanan Yandi dengan lembut memegang Cah Bagus.

“Kembalilah pada Bapak, ya? Jangan biarkan beliau kehilanganmu.”

Seakan mengerti ucapan pemuda tampan itu, Cah Bagus diam saja saat Yandi menyerahkannya kepada Pak Sam.

Sebelum kedua orang itu pamit, Pak Sam menepuk bahu Yandi dan berbisik, “Kutunggu dalam seminggu ini. Datanglah dengan orang tuamu.”

Mata Yandi berbinar. Dia tahu, Nayla melihatnya dari balik jendela.

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar