Hampir setahun aku tak pernah membuka pintu belakang yang terhubung ke halaman rumah Kak Ersa. Dialah satu-satunya kakakku karena kami hanya dua bersaudara. Kakak yang selalu melindungiku di masa kecil. Selalu membuat hidupku tenteram saat itu. Dia akan selalu tampil sebagai pelindung dan pengayom bagiku jika aku berada pada suasana tertekan karena ulah beberapa teman lelaki yang suka menggoda kami.
Pernah suatu kali. Tengah aku menangis lantaran sekelompok anak laki-laki menggodaku, tetiba kakakku datang dan menghujani mereka dengan lemparan kerikil. Saat itu, di depan kelasku teronggok gunungan kerikil yang akan menjadi salah satu bahan bangunan untuk memperbaiki ruang kelas yang sedang dibongkar. Untunglah tak ada yang terluka.
Rumah kami berdiri di atas tanah warisan orang tua. Tanah milik ayah ibu itu cukup luas dengan bentuk memanjang ke arah belakang dari jalan raya. Tanah memanjang itu dibagi dua. Entah bagaimana, aku mendapat tanah bagian depan, yang menghadap jalan raya. Sedangkan kakakku beroleh tanah di belakangku. Setelah dibangun, rumah kami sama-sama menghadap ke arah utara atau menghadap ke jalan raya.
Kurelakan sebagian tanah bagian samping untuk jalan masuk ke arah rumah kakakku dengan lebar 1,2 meter. Cukup untuk jalan lewat kendaraan roda dua. Otomatis rumah yang kubangun tidak lebih lebar dari rumah kakakku.
Aku baru tahu kemudian, mengapa kakakku lebih memilih tanah bagian belakang daripada tanah depan yang bersisian dengan jalan raya. Saat kelakar, dia mengatakan kalau yang mendapat tanah bagian depan harus rela menyisakan lahan untuk jalan menuju rumah di belakang. Harus rela pula halamannya menjadi tempat memarkir mobil milikku, juga miliknya.
Awalnya aku merasa dicurangi oleh Kak Ersa. Pantas saja dia langsung memilih tanah bagian belakang. Lahannya tidak akan berkurang oleh keperluan lain. Rumah yang dibangunnya sangat megah dan memiliki ruang-ruang yang cukup artistik. Sedang rumahku, hanya memiliki ruang-ruang utama tanpa area tambahan untuk itu-ini.
Tentu saja hal itu berdampak pada bangunan yang kumiliki. Rumahku lebih kecil dibandingkan dengan rumah kakakku. Karena itulah, kami membangun lantai dua untuk menambah dua kamar untuk anak bujangku. Sementara, aku tinggal di lantai bawah.
Oh, iya, untuk mengurangi pikiranku yang kadang suntuk, suamiku mengusulkan agar kami membuka toko kelontong. Selain memberi kesibukan untukku, juga salah satu upaya untuk perbaikan ekonomi keluarga. Pemilihan usaha menjual barang-barang keperluan rumah tangga itu atas dasar pemikiran karena diperlukan orang sepanjang masa. Tidak akan basi juga tak akan susut. Sementara itu, suamiku tetap menjalani profesinya sebagai pegawai pemerintah daerah. Jika ada waktu, Kang Hendi pun turut membantu melayani pembeli.
Kuisi waktu dengan menjaga warung kelontong yang menjadi bagian dari sumber penghasilan keluargaku.
Situasi pandemi yang menuntut orang untuk tinggal di rumah, membuat tokoku kebanjiran pembeli. Hal ini terjadi karena beralihnya kegiatan masyarakat pada pemeliharaan tanaman hias membukakan pintu rezeki bagi kami. Beragam pot dan wadah peralatan rumah tangga mendominasi penjualan selama hampir dua tahun ini. Stok barang yang kulipatgandakan pun tak pernah bersisa. Permintaan masyarakat semakin meningkat. Sejak itu aku merasa bersyukur memiliki rumah di bagian depan.
Pagi itu Kak Ersa kembali mengambil enam buah pot model siput untuk aglonema jaipongnya yang terus bertambah. Untuk kakakku, aku tak begitu perhitungan. Kalau dia membayar kuterima, kalau tidak pun tak akan kutagih.
“Tanamannya nambah terus ya, Kak?” tanyaku sambil membereskan barang yang baru datang. Aku biasa dibantu oleh Titi, gadis piatu yang sangat rajin. Dia sedang menggoreng nasi untuk sarapan dan belum masuk toko.
Ada Heni juga yang membantu bagian administrasi dan keuangan. Hanya saja hari ini dia belum datang. Sesekali, kuizinkan dia datang agak siang kalau tidak terdesak oleh pekerjaan administrasi.
“Iya, nih! Udah lebih dari selusin. Ini nambah lagi potnya. Uangnya nanti ya, Lin!”
Kakakku berdiri di dekat meja administrasi lalu beranjak keluar.
“Iya, Kak. Santai aja!” jawabku. Aku hanya melihat punggung Kak Ersa yang berlalu dari tokoku.
Selesai menata pot dan barang lainnya, aku teringat pada amplop berisi uang yang akan kusetorkan tunai pada Pak Jali. Dia lebih suka uang tunai daripada transfer. Katanya lebih praktis dan bisa langsung dipergunakan lagi.
Uang sejumlah lima belas juta itu seingatku pagi-pagi kusimpan di meja administrasi. Tergeletak begitu saja diwadahi kresek hitam di antara lembaran nota catatan keuangan.
Aku dibuat panik karena uang itu tak ada di tempat. Aku teringat kakakku yang tadi berdiri di dekat meja. Tapi, masa iya? Kutepis prasangka sambil terus mencari-cari kresek berisi amplop.
“Ti, lihat kresek hitam di meja ini, enggak?” tanyaku saat Titi masuk toko. Bibirnya masih mendesis. Rupanya dia baru selesai menyantap nasi goreng pedas.
“Enggak, Bu. Kapan Ibu nyimpennya? Soalnya tadi saya beli bumbu dapur juga wadahnya pake kresek hitam. Ibu perlu kresek? Nanti saya ambilkan.”
“Bukan. Bukan. Ya, udah, enggak apa-apa.” Jawabku memutus pembicaraan.
Ya, aku tahu sejak subuh tadi Titi sibuk di dapur. Suamiku pamit berangkat tugas ke luar kota setelah salat subuh dijemput mobil kantor. Baru aku sendiri yang masuk toko dan menyimpan uang itu di meja.
Terpaksa aku berangkat menuju bank untuk mengambil uang. Setor pada Pak Jali tak bisa ditunda.
Lalu, ke mana uang dalam kresek itu? Haruskah kutanyakan pada Kak Ersa? Bagaimana kalau kakakku tersinggung? Aku jadi bingung sendiri.
Dua hari setelah itu, Kak Ersa membelikan sepeda motor gres buat Danang. Aku jadi semakin gelisah dengan pikiranku sendiri.
Soalnya, beberapa hari yang lalu, Kak Ersa hendak meminjam uang untuk membeli motor buat anaknya. Aku belum bisa memberinya karena utang kakakku sudah cukup banyak dan belum dibayar sedikit pun. Tiba-tiba saja Danang membeli motor baru. Bukankah itu cukup untuk membangkitkan prasangka?
Dengan sangat hati-hati aku menanyakan hal ini pada Kak Ersa.
“Wah, Danang motor baru, ya? Dapat rezeki nomplok, Kak?” Kuukir senyum semringah.
“Ya, iyalah. Memangnya cuma kamu yang punya banyak uang?”
Deg. Jawaban kakakku terasa aneh. Ketus dan tak nyaman didengar.
“Ya, enggak begitu. Lagian kan Kakak bilang sedang perlu uang buat beli motor. Eh, tak tahunya udah langsung dapat,” jawabku berusaha tak terpancing emosi.
Kakakku hanya mendengus.
“Bayar kontan, Kak?” tanyaku, kepo.
“Apa perlu aku tunjukin kuitansinya? Ya, kontanlah!”
Kak Ersa melengos hendak meninggalkanku. Kutahan dengan memegang tangannya.
“Em… kalau Kakak sedang banyak rezeki, boleh dong mm… uangku dicicil sedikit-sedikit. ‘Kan itu modal usaha.”
Meski takut kakakku bakal tersinggung, kuberanikan juga untuk menyampaikannya.
Sontak muka kakakku memerah. Dihentakkannya tanganku lalu berlari menuju rumahnya sambil menguar tangis. Aku berdiri mematung. Tak tahu apa yang harus kulakukan. Namun, Langkah kaki mengarah pada pintu rumah kakakku yang terbuka. Aku ingin meminta maaf.
Baru tiba di depan pintu, dari dalam rumah pintu ditutup sekerasnya dan membentur mukaku. Aku terhuyung ke belakang, meringis menahan sakit.
Sejak itu kami tak bertegur sapa. Kakakku menutup pintunya untukku. Aku pun menutup pintu belakangku yang menghadap ke arah rumahnya.
Hampir setahun sejak kejadian itu, aku mulai merasakan rindu pada kakakku. Sering kutatap diam-diam kalau Kak Ersa lewat di depan rumahku. Mobilnya tetap diparkir di halaman rumahku meski sepi dari sapa sayang. Beberapa kali kami sempat berpapasan. Namun bola mata kami berusaha saling menghindar. Kami sama angkuhnya. Aku tidak tahu apakah kakakku juga merinduiku.
Pagi itu seperti biasa, aku dan Titi membereskan dan menata barang. Ada beberapa sisa pot dan barang lain sisa masa populer. Penjualan pot tidak sebooming dulu lagi. Maka kutata ulang agar penempatannya lebih menarik.
Kurapikan tumpukan barang dan kuangkat satu per satu, terutama yang bentuknya tidak sejenis. Mataku tertumbuk pada kresek hitam yang sudah lusuh. Teronggok di antara tumpukan pot berwarna hijau.
Kuambil dengan tangan gemetar. Kubuka perlahan. Ternyata isinya masih utuh. Masih lima belas juta. Juga masih tersimpan rapi. Hampir setahun kurayu hatiku agar tidak diliputi sikap suuzon. Kehilangan uang menimbulkan prasangka buruk. Meski tak terucap tapi sangat mengotori hatiku dan mengganggu perasaanku.
Aku teringat Kak Ersa. Rinduku tak tertahan lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar