Minggu, 13 Februari 2022

Meretas Jejaring Kasih (1)

 1.    Terlena Bayang Semu

“Jangan! Jangan buru-buru. Santai aja, kenapa?”

Chat-nya selalu begitu. Menunda dan terus menunda pertemuan. Perkenalan yang sudah berlangsung hampir delapan bulan sepertinya masih dianggap mentah. Kecocokan dalam banyak hal tidak menjadi jalan keberanian untuk mengambil langkah. Meski hanya dalam bentuk perjumpaan.

Aneh memang. Peringatan yang disampaikan pada diri sendiri agar selalu waspada terhadap perkenalan yang ditempuh melalui jalan dumay, justru ditepisnya kuat-kuat. Kedekatan dengan Johan tak bisa disangkal memang lain daripada yang lain.

Jika pada beberapa perkenalan sering berakibat pada peristiwa yang tidak diinginkan, sepertinya tidak berlaku pada Maira dan Johan. Di hadapan Maira, pria ini tak pernah neko-neko. Tidak mengumbar janji juga tak meminjam uang sebagaimana orang-orang yang memanfaatkan perkenalan dalam lorong gelap dumay.

“Kok gak jawab?” lanjutnya.

“Jangan salahkan aku ya, jika suatu hari aku akan datang tiba-tiba dan Kak Jo pasti kucari hingga benar-benar bisa ketemu.”

Maira menambahkan mimik marah dan mata melotot.

“Wah, gawat! Ngebet amat sih, Ra? Emang sungguhan pengen ketemu aku?” tulis Johan.

“Delapan bulan hubungan kayak gini, buat wanita mah udah bikin kesel, tahu! Pengen dong dengerin suara Kak Jo seperti yang kudengar lewat telepon. Apa iya kalau dari deket suaranya sebagus itu. Siapa tahu itu hanya karena bantuan teknologi suara.”

“Ya, enggaklah! Kayak anak muda aja! Suaraku tuh emang keren seiring dengan matengnya umurku yang menuju kepala tiga. Sedang kamu baru lulus SMK, kan?”

“Widih, siapa bilang! Eh, iya juga sih. Aku mah baru lulus SMK lima tahun lalu. Bukan lulus dari kuliahan kayak Kak Jo.”

Dilengkapinya dengan emot sedih.

“Nah, nah, mulai lagi. Aku tak pernah persoalkan lulusan mana, yang penting wanita berkepribadian dan berpikiran maju.”

Kak Jo menambahkan gambar wanita yang ngebut di balik kemudi mobil.

“Ya, udah. Aku ke ruang saji dulu. Kasihan temen-temenku. Akhir pekan gini biasanya rame pengunjung. Bye!”

Maira tidak menunggu jawaban. Kencan sejenak di sela-sela kesibukannya sebagai pemilik Café Joss itu pun selesai sudah. Meski selalu menyisakan rasa penasaran, dinikmatinya juga hubungan yang tak merugikan itu. dalam hatinya dia berjanji, pekan depan dia akan datang tiba-tiba. Mengejutkan Johan, lalu… waktu akan membuktikan, bagaimana kelanjutan kisahnya dengan pemuda tampan dengan postur tinggi atletis itu.

Sejak Johan tahu bahwa Maira seorang wanita mandiri, dia sering menyampaikan rasa hormatnya secara terang-terangan. Sementara dirinya yang lulusan perguruan tinggi masih belum percaya diri untuk memulai usaha yang diangan-angankannya selama ini.

Berdasarkan ceritanya, Johan pernah bekerja di beberapa instansi. Namun, karena diakuinya kurang pandai beradaptasi, sudah lima kali dia keluar dari instansi yang berbeda. Dalam satu instansi atau perusahaan, paling lama dia bertahan kerja sekira dua tiga bulan saja. Anehnya, orang seperti itu malah begitu mudahnya diterima setiap kali melamar kerja ke perusahaan. Sedangkan orang yang memiliki kesungguhan dan daya tahan luar biasa untuk mengabdi di tempat kerja, kadang-kadang begitu sulit mendapat kesempatan kerja. Saat ini, dia merintis bisnis online

“Bye! Moga rezekinya melimpah dan banyak untungnya, ya!”

Maira membacanya sambil lalu. Beberapa pengunjung yang duduk melingkar di beberapa meja bundar menuntut layanan cepat dan tanggapan cermat. Diingatkannya pada semua karyawan agar jangan sampai salah menu atau salah meja. Apalagi salah bersikap. Bisa-bisa cafenya ditinggalkan pelanggan.

“Silakan, Mas. Silakan, Mbak. Selamat menikmati.”

Senyum dan keramahan yang diterapkan sebagai bentuk layanan prima terhadap pelanggan menjadi andalan utama Café Joss. Jika dilihat dari menu yang tersedia serta variasi kopi sebagai branded utama, sebenarnya tidak ada sesuatu yang teramat istimewa. Namun, tempat ini memberi kenyamanan, keramahan, suasana, disertai fasilitas kekinian yang dibutuhkan pengunjung.

Bersama tiga kawan dekatnya semasa SMK, tiga tahun lalu Maira merintis warung kopi. Ya, awalnya hanya warung kopi. Idenya terbit setelah menyaksikan kebiasaan ngopi ayahnya juga kakaknya. Keduanya hobi ngopi. Dalam sehari mereka bisa menikmati lebih dari tiga atau empat gelas kopi. Bahkan bisa lebih lagi jika mereka ditemani kawan bicara.

Maka muncullah keinginan untuk membuka warung kopi. Selain menghasilkan uang, ayah dan kakaknya bisa minum kopi gratis di tempatnya. Beruntung, orang tuanya memiiki tempat tinggal sederhana di pertigaan Jalan Kencana. Sangat strategis jika digunakan untuk membuka warung kopi. Untuk memberi keleluasaan bergerak dalam usahanya, kedua orang tua Maira kembali ke desa menemani Maknya yang sudah sepuh.

“Hai, Teh May. Wah, Mak Bos-nya turun gunung, nih?” sapa Darin. Dia datang bersama tiga pemuda lain, sama-sama karyawan PLN. Maira kenal mereka sebagai pelanggan setia yang sering mampir selepas main futsal. “Biasa Teh, ya? Bikin empat kopi Joss spesial.”

“Siap, Kakak!” jawan Maira dengan senyum. “Nah, silakan dipilih menu tambahannya.”

Disodorkannya daftar menu yang siap saji di akhir pekan. Sudah diduga, mereka pasti memesan Mi Rebus Endolita. Salah satu menu unggulan yang digemari.

Denyut kehidupan Café Joss kian menunjukkan geliatnya. Warung sederhana telah berubah menjadi café kekinian. Baik dalam fasilitas ruang saji, variasi menu, maupun layanan prima yang diterapkannya. Maira beserta kru bergerak cepat melayani pembeli sesuai hidangan yang diminta.

Sesuai janji pada dirinya sendiri, diam-diam Maira berangkat menuju Cisarua Bogor. Jarak Tasik Bogor ditempuhnya dengan menggunakan mobil rental. Rencananya, dia akan memberi kejutan pada Johan, lelaki yang berhasil memikat hatinya. Bahkan, selama sekian lama berhubungan melalui medsos, harapan dan kepercayaan pada lelaki itu tumbuh demikian kuat. Dia yakin, keputusannya sudah tepat untuk menerima Johan sebagai pendamping hidupnya.

Berbekal alamat serta petunjuk arah, Maira tiba di sebuah rumah tua yang agak terpisah dari bangunan sekitarnya. Setelah bertanya pada pemilik warung, Maira tiba di tempat yang dituju.

Seorang anak lelaki tengah asyik bermain bola di samping rumah Johan. Halaman rumah yang cukup luas itu beralas rumput gajah yang terpelihara. Separuh halaman di bagian kiri rumah dikelilingi pagar besi yang disambung dengan jaring tinggi hingga membentuk sebuah ruangan persegi yang cukup luas. Anak itu sibuk menendang-nendang bola sekuat tenaga. Sepertinya dia tak perlu khawatir bolanya bakal melesat keluar atau mengenai kaca jendela karena ada jaring yang mengurungnya.

“Hai, Dek,” seru Maira sambil melambaikan tangan. Anak itu berbalik menghadap Maira. Tak disangka dia menendang bolanya ke arah Maira dan mengenai tangannya yang tengah menyentuh jaring. Tentu saja Maira meringis kesakitan.

“Haha… sukurin!” teriak anak itu sambil tertawa riang.      

Anak itu pun melanjutkan aktivitasnya tanpa memedulikan Maira yang terheran-heran.      

“Ngomong sama siapa, Rul?” tanya seseorang dari dalam rumah.

Hampir saja Maira melonjak kegirangan. Dia kenal suara itu. Pasti Johan. Yakin itu Johan!

Tetiba dari pintu depan, keluar sosok lelaki dengan handuk biru melingkar di lehernya. Maira menahan langkahnya. Hampir saja dia berlari ke arah lelaki pemilik suara Johan itu.

Ya, suaranya memang mirip Johan. Tetapi tubuhnya sejauh bumi dan langit.  Sama sekali tidak atletis sebagaimana foto profilnya. Lelaki ini begitu tambun. Rambutnya agak panjang. Pada bagian depan rambutnya rebah menyamping, menutupi bagian kepala yang berkilau tanpa rambut selembar pun.

“Oh… ada orang. Cari siapa, Mbak?” tanyanya.

Sekai lagi Maira menajamkan pendengarannya. Suara itu, benar milik Johan!

“Kak Johan?” tanya Maira sedikit tergagap.

“Hah? Kamu, May… Maira?”

Suara dan ekspresi lelaki itu menampakkan keterkejutan yang luar biasa.  

Maira hanya bisa mengangguk. Bola matanya tak lepas dari sosok asing yang jauh berbeda dengan foto profil yang selama ini diakrabinya.

“Ngapain ke sini? ‘Kan aku udah bilang, kita gak perlu ketemu. Kamu enggak sabaran amat!”     

Astagfirullahalazim. Berulang Maira merapal istigfar dalam hatinya.

Ke mana nada bicara Johan yang kalem dan bijak itu? Mengapa jadi segarang ini? Lagian, kenapa pula tampilannya jadi aneh begitu? Batin Maira tak henti bertanya-tanya.

Mata Maira berkunang-kunang. Dicarinya sandaran pada pagar yang menjadi pembatas area bermain anak itu.

*

 

Udah dulu ya…

Ditunggu like dan krisannya.

Mudah-mudahan bisa berlanjut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar