1. Terlena Bayang Semu
“Jangan!
Jangan buru-buru. Santai aja, kenapa?”
Chat-nya selalu begitu. Menunda
dan terus menunda pertemuan. Perkenalan yang sudah berlangsung hampir delapan
bulan sepertinya masih dianggap mentah. Kecocokan dalam banyak hal tidak menjadi
jalan keberanian untuk mengambil langkah. Meski hanya dalam bentuk perjumpaan.
Aneh memang. Peringatan yang disampaikan pada diri
sendiri agar selalu waspada terhadap perkenalan yang ditempuh melalui jalan
dumay, justru ditepisnya kuat-kuat. Kedekatan dengan Johan tak bisa disangkal
memang lain daripada yang lain.
Jika pada beberapa perkenalan sering berakibat
pada peristiwa yang tidak diinginkan, sepertinya tidak berlaku pada Maira dan
Johan. Di hadapan Maira, pria ini tak pernah neko-neko. Tidak mengumbar janji
juga tak meminjam uang sebagaimana orang-orang yang memanfaatkan perkenalan
dalam lorong gelap dumay.
“Kok gak jawab?” lanjutnya.
“Jangan salahkan aku ya, jika suatu hari aku
akan datang tiba-tiba dan Kak Jo pasti kucari hingga benar-benar bisa ketemu.”
Maira menambahkan mimik marah dan mata melotot.
“Wah, gawat! Ngebet amat sih, Ra? Emang
sungguhan pengen ketemu aku?” tulis Johan.
“Delapan bulan hubungan kayak gini, buat wanita
mah udah bikin kesel, tahu! Pengen dong dengerin suara Kak Jo seperti yang
kudengar lewat telepon. Apa iya kalau dari deket suaranya sebagus itu. Siapa
tahu itu hanya karena bantuan teknologi suara.”
“Ya, enggaklah! Kayak anak muda aja! Suaraku
tuh emang keren seiring dengan matengnya umurku yang menuju kepala tiga. Sedang
kamu baru lulus SMK, kan?”
“Widih, siapa bilang! Eh, iya juga sih. Aku mah
baru lulus SMK lima tahun lalu. Bukan lulus dari kuliahan kayak Kak Jo.”
Dilengkapinya dengan emot sedih.
“Nah, nah, mulai lagi. Aku tak pernah
persoalkan lulusan mana, yang penting wanita berkepribadian dan berpikiran
maju.”
Kak Jo menambahkan gambar wanita yang ngebut di
balik kemudi mobil.
“Ya, udah. Aku ke ruang saji dulu. Kasihan
temen-temenku. Akhir pekan gini biasanya rame pengunjung. Bye!”
Maira tidak menunggu jawaban. Kencan sejenak di
sela-sela kesibukannya sebagai pemilik Café Joss itu pun selesai sudah. Meski
selalu menyisakan rasa penasaran, dinikmatinya juga hubungan yang tak merugikan
itu. dalam hatinya dia berjanji, pekan depan dia akan datang tiba-tiba.
Mengejutkan Johan, lalu… waktu akan membuktikan, bagaimana kelanjutan kisahnya
dengan pemuda tampan dengan postur tinggi atletis itu.
Sejak Johan tahu bahwa Maira seorang wanita
mandiri, dia sering menyampaikan rasa hormatnya secara terang-terangan.
Sementara dirinya yang lulusan perguruan tinggi masih belum percaya diri untuk
memulai usaha yang diangan-angankannya selama ini.
Berdasarkan ceritanya, Johan pernah bekerja di
beberapa instansi. Namun, karena diakuinya kurang pandai beradaptasi, sudah
lima kali dia keluar dari instansi yang berbeda. Dalam satu instansi atau
perusahaan, paling lama dia bertahan kerja sekira dua tiga bulan saja. Anehnya,
orang seperti itu malah begitu mudahnya diterima setiap kali melamar kerja ke
perusahaan. Sedangkan orang yang memiliki kesungguhan dan daya tahan luar biasa
untuk mengabdi di tempat kerja, kadang-kadang begitu sulit mendapat kesempatan
kerja. Saat ini, dia merintis bisnis online
“Bye! Moga rezekinya melimpah dan banyak
untungnya, ya!”
Maira membacanya sambil lalu. Beberapa
pengunjung yang duduk melingkar di beberapa meja bundar menuntut layanan cepat
dan tanggapan cermat. Diingatkannya pada semua karyawan agar jangan sampai
salah menu atau salah meja. Apalagi salah bersikap. Bisa-bisa cafenya
ditinggalkan pelanggan.
“Silakan, Mas. Silakan, Mbak. Selamat
menikmati.”
Senyum dan keramahan yang diterapkan sebagai
bentuk layanan prima terhadap pelanggan menjadi andalan utama Café Joss. Jika
dilihat dari menu yang tersedia serta variasi kopi sebagai branded
utama, sebenarnya tidak ada sesuatu yang teramat istimewa. Namun, tempat ini
memberi kenyamanan, keramahan, suasana, disertai fasilitas kekinian yang
dibutuhkan pengunjung.
Bersama tiga kawan dekatnya semasa SMK, tiga
tahun lalu Maira merintis warung kopi. Ya, awalnya hanya warung kopi. Idenya
terbit setelah menyaksikan kebiasaan ngopi ayahnya juga kakaknya. Keduanya hobi
ngopi. Dalam sehari mereka bisa menikmati lebih dari tiga atau empat gelas
kopi. Bahkan bisa lebih lagi jika mereka ditemani kawan bicara.
Maka muncullah keinginan untuk membuka warung
kopi. Selain menghasilkan uang, ayah dan kakaknya bisa minum kopi gratis di
tempatnya. Beruntung, orang tuanya memiiki tempat tinggal sederhana di
pertigaan Jalan Kencana. Sangat strategis jika digunakan untuk membuka warung
kopi. Untuk memberi keleluasaan bergerak dalam usahanya, kedua orang tua Maira
kembali ke desa menemani Maknya yang sudah sepuh.
“Hai, Teh May. Wah, Mak Bos-nya turun gunung,
nih?” sapa Darin. Dia datang bersama tiga pemuda lain, sama-sama karyawan PLN.
Maira kenal mereka sebagai pelanggan setia yang sering mampir selepas main
futsal. “Biasa Teh, ya? Bikin empat kopi Joss spesial.”
“Siap, Kakak!” jawan Maira dengan senyum. “Nah,
silakan dipilih menu tambahannya.”
Disodorkannya daftar menu yang siap saji di
akhir pekan. Sudah diduga, mereka pasti memesan Mi Rebus Endolita. Salah satu
menu unggulan yang digemari.
Denyut kehidupan Café Joss kian menunjukkan
geliatnya. Warung sederhana telah berubah menjadi café kekinian. Baik dalam fasilitas
ruang saji, variasi menu, maupun layanan prima yang diterapkannya. Maira
beserta kru bergerak cepat melayani pembeli sesuai hidangan yang diminta.
Sesuai janji pada dirinya sendiri, diam-diam
Maira berangkat menuju Cisarua Bogor. Jarak Tasik Bogor ditempuhnya dengan
menggunakan mobil rental. Rencananya, dia akan memberi kejutan pada Johan,
lelaki yang berhasil memikat hatinya. Bahkan, selama sekian lama berhubungan
melalui medsos, harapan dan kepercayaan pada lelaki itu tumbuh demikian kuat.
Dia yakin, keputusannya sudah tepat untuk menerima Johan sebagai pendamping
hidupnya.
Berbekal alamat serta petunjuk arah, Maira tiba
di sebuah rumah tua yang agak terpisah dari bangunan sekitarnya. Setelah
bertanya pada pemilik warung, Maira tiba di tempat yang dituju.
Seorang anak lelaki tengah asyik bermain bola
di samping rumah Johan. Halaman rumah yang cukup luas itu beralas rumput gajah
yang terpelihara. Separuh halaman di bagian kiri rumah dikelilingi pagar besi
yang disambung dengan jaring tinggi hingga membentuk sebuah ruangan persegi
yang cukup luas. Anak itu sibuk menendang-nendang bola sekuat tenaga. Sepertinya
dia tak perlu khawatir bolanya bakal melesat keluar atau mengenai kaca jendela
karena ada jaring yang mengurungnya.
“Hai, Dek,” seru Maira sambil melambaikan
tangan. Anak itu berbalik menghadap Maira. Tak disangka dia menendang bolanya
ke arah Maira dan mengenai tangannya yang tengah menyentuh jaring. Tentu saja
Maira meringis kesakitan.
“Haha… sukurin!” teriak anak itu sambil tertawa
riang.
Anak itu pun melanjutkan aktivitasnya tanpa
memedulikan Maira yang terheran-heran.
“Ngomong sama siapa, Rul?” tanya seseorang dari
dalam rumah.
Hampir saja Maira melonjak kegirangan. Dia kenal
suara itu. Pasti Johan. Yakin itu Johan!
Tetiba dari pintu depan, keluar sosok lelaki
dengan handuk biru melingkar di lehernya. Maira menahan langkahnya. Hampir saja
dia berlari ke arah lelaki pemilik suara Johan itu.
Ya, suaranya memang mirip Johan. Tetapi
tubuhnya sejauh bumi dan langit. Sama
sekali tidak atletis sebagaimana foto profilnya. Lelaki ini begitu tambun.
Rambutnya agak panjang. Pada bagian depan rambutnya rebah menyamping, menutupi
bagian kepala yang berkilau tanpa rambut selembar pun.
“Oh… ada orang. Cari siapa, Mbak?” tanyanya.
Sekai lagi Maira menajamkan pendengarannya.
Suara itu, benar milik Johan!
“Kak Johan?” tanya Maira sedikit tergagap.
“Hah? Kamu, May… Maira?”
Suara dan ekspresi lelaki itu menampakkan
keterkejutan yang luar biasa.
Maira hanya bisa mengangguk. Bola matanya tak
lepas dari sosok asing yang jauh berbeda dengan foto profil yang selama ini
diakrabinya.
“Ngapain ke sini? ‘Kan aku udah bilang, kita
gak perlu ketemu. Kamu enggak sabaran amat!”
Astagfirullahalazim. Berulang
Maira merapal istigfar dalam hatinya.
Ke mana nada bicara Johan yang kalem dan bijak
itu? Mengapa jadi segarang ini? Lagian, kenapa pula tampilannya jadi aneh
begitu? Batin Maira tak henti bertanya-tanya.
Mata Maira berkunang-kunang. Dicarinya sandaran
pada pagar yang menjadi pembatas area bermain anak itu.
*
Udah dulu ya…
Ditunggu like dan krisannya.
Mudah-mudahan bisa berlanjut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar