4. Lelaki Aneh
Johan tak segera kembali setelah mengantar
Maira menuju pul bus Budi Manis. Gadis itu segera kembali ke Kota Resik.
Ditatapnya punggung bus yang melaju membawa wanita itu. Sosok yang membuatnya
sempat bahagia setidaknya untuk waktu delapan bulan yang telah dilewatinya. Semua
harus berakhir setelah dia tahu siapa Johan yang sebenarnya.
Meski peristiwa ini telah masuk dalam agenda perkiraan,
tetap saja rasa sesal dan sesak sempat memenuhi lubuk hatinya. Andai saja tak
terjadi sebuah pertemuan, tentu dirinya masih berhak memeluk mimpi yang membuat
hidupnya selalu penuh arti setiap kali memulai hari.
“Kamu menempati ruang istimewa dalam hidupku, Ra.
Tapi aku tak pernah berpikir untuk mengikatmu dalam sebuah perkawinan. Aku tahu
risiko yang kita hadapi. Aku tak ingin membuatmu terbelenggu dalam hidup yang
membosankan. Kaulihat dua adikku. Demikian pula seperti itulah almarhum ayahku.
Mereka hidup dengan kondisi spesial. Begitu selalu yang dikatakan dokter yang
mengurus Yuda dan Arul,” tutur Johan dalam perjalanan menuju stasiun bus.
“Maafkan aku, Kak Jo. Aku benar-benar kaget
mengetahui kenyataan ini. Aku tak bisa menyembunyikan kekecewaanku. Terutama
saat merasa dibohongi dengan sosok Kak Jo. Jika hubungan ini dilanjut, aku
takut tak sanggup menghadapi jurang yang bakal menghadang perjalanan kita,”
jawab Maira apa adanya.
“Itulah yang kusuka darimu. Terus terang, apa
adanya, dan mampu mengatasi rasa kecewa dalam waktu cepat,” imbuhnya.
Andai saja Johan tahu, sejak pertemuan itu hilanglah kebahagiaan dan harapan Maira. Jelas-jelas
kekecewaan menjadi sebab dirinya didera rasa sakit tak terperi. Kerinduan yang dikemas
jauh-jauh hari, hendak dia tuangkan dalam banyak cerita, hanya berhenti sampai
di tenggorokan. Maira tenggelam dalam kekecewaan. Di hadapannya terentang jurang
yang tak mungkin dilewati.
Sekalipun tidak
diketahui secara pasti bagaimana kelak jalan cerita yang bakal dilewati jika
dia melanjutkan hubungan dengan Johan, namun wanita itu dapat memprediksinya.
Pada setiap tarikan napas, terbayang kecemasan, ketakutan, dan kemungkinan
beratnya cobaan sebagaimana hidup yang dijalani Bu Rahmi.
”Selamat jalan, Ra.
Semoga setelah ini kamu bisa mendapatkan pasangan yang serasi dan sangat
menyayangimu. Aku benar-benar berdoa untukmu.”
Mereka bersalaman
dengan tatap mata yang sama-sama berkabut.
Bus yang ditumpanginya terasa sepi. Hanya
beberapa penumpang yang menempati deretan kursi. Hal itu membuat ingatan Maira bergerak
lebih cepat. Mata yang terpejam membuatnya mampu melesat melewati lorong-lorong
masa lalu.
Beberapa tahun lalu, perusahaan tempat ayahnya
bekerja mengambil langkah cepat saat terjadi krisis internal. Ayahnya
dirumahkan hingga berakibat pada perekonomian keluarga yang terus memburuk.
Dirinya yang lulusan SMK saat itu masih merintis usaha kecil-kecilan. Berjualan
apa saja agar mampu mengisi periuk nasi.
Sementara itu, Danang adiknya, tengah menempuh
pendidikan di SMA dan Wulan masih di madrasah tsanawiyah. Keduanya membutuhkan
biaya yang tidak sedikit. Apalagi saat Danang harus melaksanakan praktik kerja
ke luar kota. Maira benar-benar merasa tertantang dengan kondisi yang
dihadapinya.
Beruntung setelah itu ada pembangunan proyek
industri di daerahnya. Tetangganya yang memiliki tanah luas, kebun, dan
semacamnya, terlena dengan uang pembebasan tanah yang cukup tinggi. Meski
keluarganya tak beroleh rezeki semacam itu, Maira melihat peluang usaha tengah
menari-nari di benaknya.
Dibukanya warung kopi untuk menampung orang-orang
yang beristirahat dari kerja kerasnya sepanjang siang. Gadis itu menyediakan
tempat nongkrong bagi mereka yang melepas penat dan saling berbagi cerita.
Meski bukan cerita bahagia, setidaknya mereka memiliki tempat untuk
menyampaikannya.
Sejak itu, uang selalu berpihak padanya. Maira tak pernah mempermasalahkan orang-orang
yang meminta kasbon. Toh, mereka membayar juga pada setiap gajian. Yang penting
pundi-pundi uangnya mampu mengantarkan Danang kuliah hingga berhasil meraih
gelar sarjana. Adiknya Wulan, kini mengikuti jejak Danang, kuliah di fakultas
ekonomi.
Hanya satu yang menjadi ganjalan.
Berulang-ulang ibunya mengingatkan hitungan usia yang terus bertambah.
Didorongnya Maira untuk mendapatkan pendamping hidup.
“Jangan karena terlalu sibuk cari uang, kamu
melewatkan masa mudamu. Keberhasilan usaha sebaiknya beriring dengan
keberhasilan berumah tangga,” tuturnya.
“Kalau punya punya calon, segera kenalkan pada
kami,” lanjutnya.
Itulah sebabnya, saat merasa cocok dengan
Johan, Maira tak segan-segan mencari keberadaannya. Sayang semuanya tidak
sesuai harapan.
Tidak terasa, bus telah tiba di pul tempat
pemberhentian di kotanya. Maira bertekad untuk tak lagi membina hubungan maya.
Tak akan mudah tertarik pada foto profil yang menawan. Pengalaman pahit telah
memberi pelajaran berharga dalam hidupnya.
“Selamat datang kembali Teh May. Gimana
liburannya? Pastiii hepi dan hepi banget, ‘kan?” sambut Hani yang menjadi
tangan kanan Maira.
Maira menatap mereka dengan mata secerah burung
kenari. Dia telah membuang kekecewaannya saat perjalanan tadi. Dijauhkannya
hal-hal yang akan merusak kebahagiaan pasukannya di Café Joss yang tengah naik
daun ini.
“Liburan apa? Kalau liburan pasti kalian kubawa
serta. Aku tengah mencari peluang usaha yang bisa menambah modal buat café
kita,” jawab Maira.
Diletakkannya dua kresek besar berisi oleh-oleh
yang didapat di perjalanan.
“Waah asyik dong, Teh. Kalau café kita makin
maju, pasti cuan kita pun makin tebel, dong!” Yanti yang memiliki sifat terus
terang ikut nimbrung.
“Ya, iyalah. Masa ya iya, dong!” jawab Maira.
“Ayo, dibahas oleh-olehnya. Bagi rata aja! Jangan lupa buat Mang Rayan. Aku
bersih-bersih dulu, ya?”
Tentu saja mereka jadi riuh. Oleh-oleh selalu memberi
kebahagiaan. Kebetulan pada jam-jam siang begitu pengunjung tidak begitu
banyak. Biasanya sore hingga malam, jumlah pengunjung akan meningkat tajam.
“Eh, Teh, suka merhatiin, enggak? Itu, tuh,
lelaki aneh yang belakangan sering datang ke sini. Kayaknya orang baru, deh!
Dia minta lukisan laut yang penuh batu karang itu dipindah ke dinding sebelah
situ. Katanya, supaya dia bisa menikmati lukisan itu sambil ngopi,” tutur Yanti
dengan merendahkan suara.
Maira menggunakan cermin untuk melihat lelaki
itu. Dia tidak ingin mengganggu kenyamanan pengunjung. Jangan sampai
tersinggung karena mengetahui sedang manjadi obyek pengamatan.
“Emang kenapa dibilang aneh?” tanya Maira. Juga
dengan berbisik.
“Dia betah berlama-lama di sini. Setiap sore
hingga café tutup, dia makan, minum, sambil terus menatap lukisan itu.
Tampaknya dia sedang mengenang sesuatu melalui lukisan itu,” lanjut Yanti sok
tahu. Semangatnya berapi-api mengiringi kalimat demi kalimat hasil analisisnya.
Maira jadi terkekeh mendengar penuturan anak
buahnya. Ekor matanya kembali memperhatikan tangan lelaki itu yang bergerak perlahan,
memain-mainkan sedotan dalam gelas dan memutar kubik-kubik es kecil yang
perlahan mencair di dalamnya.
“Hm… sepertinya dia sedang melamun atau
merenung. Mungkin lagi nyari ilham,” bisik Maira. “Udah, ah. Aku mandi dulu.
Nanti keburu sibuk.”
“Lha, itu Kang Ilham, Teh! Dia baru datang
habis cukur. Wih, gantengnyaa…!” Rinda mengarahkan jarinya pada Ilham yang baru
datang.
Ilham yang baru sebulan bergabung di Café Joss
terheran-heran dibuatnya. Maka gelak tawa di ruang makan kru café tak bisa
dihindari.
“Eh, ssst…!”
Maira menyilangkan telunjuk pada bibirnya.
Matanya mengikuti gerak lelaki itu yang menoleh ke arahnya. Dengan ramah, Maira
mengangguk dan berbagi senyum manisnya.
Tatap mata lelaki itu tertuju lurus pada Maira.
Dia kembali pada gelasnya setelah gadis itu hilang dari pandangan. Tangannya
pun kembali bergerak mengaduk-aduk minumannya. Sejurus kemudian dia memandangi
lukisan seperti kebiasaannya. Bola matanya tak berkedip menikmati biru laut yang
terpajang dalam lukisan. Bisa juga dia terpesona pada karang dan bebatuan yang
menempati sepertiga lukisan itu.
Dalam pandang sekilas tadi, lelaki itu membayangkan
kemungkinan sebuah rumah asri di tepi laut yang akan dihuni bersama pemilik
mata indah yang tadi tersenyum padanya. Dia akan menjadikan rumah itu sebagai
istananya dan tak membiarkan gadis itu keluar darinya. Sebab di luar sana, banyak
wanita yang terperangkap oleh jaring bermadu yang dibentang kaum jahanam.
Membayangkan semua itu, bibir lelaki itu mengatup
keras beriring geraham yang gemeretak.
*
Udah dulu ya…
Ditunggu like dan krisannya.
Terima kasih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar