Minggu, 13 Februari 2022

Meretas Jejaring Kasih (4)

 4.    Lelaki Aneh

Johan tak segera kembali setelah mengantar Maira menuju pul bus Budi Manis. Gadis itu segera kembali ke Kota Resik. Ditatapnya punggung bus yang melaju membawa wanita itu. Sosok yang membuatnya sempat bahagia setidaknya untuk waktu delapan bulan yang telah dilewatinya. Semua harus berakhir setelah dia tahu siapa Johan yang sebenarnya.

Meski peristiwa ini telah masuk dalam agenda perkiraan, tetap saja rasa sesal dan sesak sempat memenuhi lubuk hatinya. Andai saja tak terjadi sebuah pertemuan, tentu dirinya masih berhak memeluk mimpi yang membuat hidupnya selalu penuh arti setiap kali memulai hari.

“Kamu menempati ruang istimewa dalam hidupku, Ra. Tapi aku tak pernah berpikir untuk mengikatmu dalam sebuah perkawinan. Aku tahu risiko yang kita hadapi. Aku tak ingin membuatmu terbelenggu dalam hidup yang membosankan. Kaulihat dua adikku. Demikian pula seperti itulah almarhum ayahku. Mereka hidup dengan kondisi spesial. Begitu selalu yang dikatakan dokter yang mengurus Yuda dan Arul,” tutur Johan dalam perjalanan menuju stasiun bus.

“Maafkan aku, Kak Jo. Aku benar-benar kaget mengetahui kenyataan ini. Aku tak bisa menyembunyikan kekecewaanku. Terutama saat merasa dibohongi dengan sosok Kak Jo. Jika hubungan ini dilanjut, aku takut tak sanggup menghadapi jurang yang bakal menghadang perjalanan kita,” jawab Maira apa adanya.

“Itulah yang kusuka darimu. Terus terang, apa adanya, dan mampu mengatasi rasa kecewa dalam waktu cepat,” imbuhnya.

Andai saja Johan tahu, sejak pertemuan itu hilanglah kebahagiaan dan harapan Maira. Jelas-jelas kekecewaan menjadi sebab dirinya didera rasa sakit tak terperi. Kerinduan yang dikemas jauh-jauh hari, hendak dia tuangkan dalam banyak cerita, hanya berhenti sampai di tenggorokan. Maira tenggelam dalam kekecewaan. Di hadapannya terentang jurang yang tak mungkin dilewati.

Sekalipun tidak diketahui secara pasti bagaimana kelak jalan cerita yang bakal dilewati jika dia melanjutkan hubungan dengan Johan, namun wanita itu dapat memprediksinya. Pada setiap tari­kan napas, terbayang kecemasan, ketakutan, dan kemungkinan beratnya cobaan sebagaimana hidup yang dijalani Bu Rahmi.

”Selamat jalan, Ra. Semoga setelah ini kamu bisa mendapatkan pasangan yang serasi dan sangat menyayangimu. Aku benar-benar berdoa untukmu.”

Mereka bersalaman dengan tatap mata yang sama-sama berkabut.

Bus yang ditumpanginya terasa sepi. Hanya beberapa penumpang yang menempati deretan kursi. Hal itu membuat ingatan Maira bergerak lebih cepat. Mata yang terpejam membuatnya mampu melesat melewati lorong-lorong masa lalu.

Beberapa tahun lalu, perusahaan tempat ayahnya bekerja mengambil langkah cepat saat terjadi krisis internal. Ayahnya dirumahkan hingga berakibat pada perekonomian keluarga yang terus memburuk. Dirinya yang lulusan SMK saat itu masih merintis usaha kecil-kecilan. Berjualan apa saja agar mampu mengisi periuk nasi.

Sementara itu, Danang adiknya, tengah menempuh pendidikan di SMA dan Wulan masih di madrasah tsanawiyah. Keduanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi saat Danang harus melaksanakan praktik kerja ke luar kota. Maira benar-benar merasa tertantang dengan kondisi yang dihadapinya.

Beruntung setelah itu ada pembangunan proyek industri di daerahnya. Tetangganya yang memiliki tanah luas, kebun, dan semacamnya, terlena dengan uang pembebasan tanah yang cukup tinggi. Meski keluarganya tak beroleh rezeki semacam itu, Maira melihat peluang usaha tengah menari-nari di benaknya.

Dibukanya warung kopi untuk menampung orang-orang yang beristirahat dari kerja kerasnya sepanjang siang. Gadis itu menyediakan tempat nongkrong bagi mereka yang melepas penat dan saling berbagi cerita. Meski bukan cerita bahagia, setidaknya mereka memiliki tempat untuk menyampaikannya.

Sejak itu, uang selalu berpihak padanya.  Maira tak pernah mempermasalahkan orang-orang yang meminta kasbon. Toh, mereka membayar juga pada setiap gajian. Yang penting pundi-pundi uangnya mampu mengantarkan Danang kuliah hingga berhasil meraih gelar sarjana. Adiknya Wulan, kini mengikuti jejak Danang, kuliah di fakultas ekonomi.

Hanya satu yang menjadi ganjalan. Berulang-ulang ibunya mengingatkan hitungan usia yang terus bertambah. Didorongnya Maira untuk mendapatkan pendamping hidup.

“Jangan karena terlalu sibuk cari uang, kamu melewatkan masa mudamu. Keberhasilan usaha sebaiknya beriring dengan keberhasilan berumah tangga,” tuturnya.

“Kalau punya punya calon, segera kenalkan pada kami,” lanjutnya.

Itulah sebabnya, saat merasa cocok dengan Johan, Maira tak segan-segan mencari keberadaannya. Sayang semuanya tidak sesuai harapan.

Tidak terasa, bus telah tiba di pul tempat pemberhentian di kotanya. Maira bertekad untuk tak lagi membina hubungan maya. Tak akan mudah tertarik pada foto profil yang menawan. Pengalaman pahit telah memberi pelajaran berharga dalam hidupnya.

“Selamat datang kembali Teh May. Gimana liburannya? Pastiii hepi dan hepi banget, ‘kan?” sambut Hani yang menjadi tangan kanan Maira.

Maira menatap mereka dengan mata secerah burung kenari. Dia telah membuang kekecewaannya saat perjalanan tadi. Dijauhkannya hal-hal yang akan merusak kebahagiaan pasukannya di Café Joss yang tengah naik daun ini.

“Liburan apa? Kalau liburan pasti kalian kubawa serta. Aku tengah mencari peluang usaha yang bisa menambah modal buat café kita,” jawab Maira.

Diletakkannya dua kresek besar berisi oleh-oleh yang didapat di perjalanan.

“Waah asyik dong, Teh. Kalau café kita makin maju, pasti cuan kita pun makin tebel, dong!” Yanti yang memiliki sifat terus terang ikut nimbrung.

“Ya, iyalah. Masa ya iya, dong!” jawab Maira. “Ayo, dibahas oleh-olehnya. Bagi rata aja! Jangan lupa buat Mang Rayan. Aku bersih-bersih dulu, ya?”

Tentu saja mereka jadi riuh. Oleh-oleh selalu memberi kebahagiaan. Kebetulan pada jam-jam siang begitu pengunjung tidak begitu banyak. Biasanya sore hingga malam, jumlah pengunjung akan meningkat tajam.

“Eh, Teh, suka merhatiin, enggak? Itu, tuh, lelaki aneh yang belakangan sering datang ke sini. Kayaknya orang baru, deh! Dia minta lukisan laut yang penuh batu karang itu dipindah ke dinding sebelah situ. Katanya, supaya dia bisa menikmati lukisan itu sambil ngopi,” tutur Yanti dengan merendahkan suara.

Maira menggunakan cermin untuk melihat lelaki itu. Dia tidak ingin mengganggu kenyamanan pengunjung. Jangan sampai tersinggung karena mengetahui sedang manjadi obyek pengamatan.

“Emang kenapa dibilang aneh?” tanya Maira. Juga dengan berbisik.

“Dia betah berlama-lama di sini. Setiap sore hingga café tutup, dia makan, minum, sambil terus menatap lukisan itu. Tampaknya dia sedang mengenang sesuatu melalui lukisan itu,” lanjut Yanti sok tahu. Semangatnya berapi-api mengiringi kalimat demi kalimat hasil analisisnya.

Maira jadi terkekeh mendengar penuturan anak buahnya. Ekor matanya kembali memperhatikan tangan lelaki itu yang bergerak perlahan, memain-mainkan sedotan dalam gelas dan memutar kubik-kubik es kecil yang perlahan mencair di dalamnya.

“Hm… sepertinya dia sedang melamun atau merenung. Mungkin lagi nyari ilham,” bisik Maira. “Udah, ah. Aku mandi dulu. Nanti keburu sibuk.”

“Lha, itu Kang Ilham, Teh! Dia baru datang habis cukur. Wih, gantengnyaa…!” Rinda mengarahkan jarinya pada Ilham yang baru datang.

Ilham yang baru sebulan bergabung di Café Joss terheran-heran dibuatnya. Maka gelak tawa di ruang makan kru café tak bisa dihindari.

“Eh, ssst…!”

Maira menyilangkan telunjuk pada bibirnya. Matanya mengikuti gerak lelaki itu yang menoleh ke arahnya. Dengan ramah, Maira mengangguk dan berbagi senyum manisnya.

Tatap mata lelaki itu tertuju lurus pada Maira. Dia kembali pada gelasnya setelah gadis itu hilang dari pandangan. Tangannya pun kembali bergerak mengaduk-aduk minumannya. Sejurus kemudian dia memandangi lukisan seperti kebiasaannya. Bola matanya tak berkedip menikmati biru laut yang terpajang dalam lukisan. Bisa juga dia terpesona pada karang dan bebatuan yang menempati sepertiga lukisan itu.

Dalam pandang sekilas tadi, lelaki itu membayangkan kemungkinan sebuah rumah asri di tepi laut yang akan dihuni bersama pemilik mata indah yang tadi tersenyum padanya. Dia akan menjadikan rumah itu sebagai istananya dan tak membiarkan gadis itu keluar darinya. Sebab di luar sana, banyak wanita yang terperangkap oleh jaring bermadu yang dibentang kaum jahanam.

Membayangkan semua itu, bibir lelaki itu mengatup keras beriring geraham yang gemeretak.

 

 

*

 

Udah dulu ya…

Ditunggu like dan krisannya.

Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar