5. Perkenalan
“Silakan, Pak, Bu. Selamat menikmati,” kata
Maira pada pengunjung cafenya.
“Makasih, Mbak.”
Setiap akhir pekan atau saat jumlah pengunjung
meningkat, Maira tak segan ikut melayani kebutuhan pelanggan.
Terlihat seorang pengunjung mengangkat tangan
meminta Maira agar mendekat. Tak lain tak bukan, dialah pengunjung setia
penyuka lukisan laut.
“Maaf, boleh saya minta Mbak menemani saya
minum?” tanyanya cukup sopan.
Maira mengedarkan pandang pada sekitar.
Dilihatnya jumlah pengunjung tengah banyak dan suasana café memang sedang ramai-ramainya.
Maira berpikir cepat. Tenaganya sedang
dibutuhkan tetapi layanan pelanggan pun perlu dipertimbangkan. Selama ini belum
pernah ada pelanggan yang memintanya menemani minum.
“Tak apa jika tak bisa. Saya tahu café masih
sangat ramai. Saya Renza,” katanya sambil berdiri dan mengulurkan tangan.
“Maira.”
Dengan sopan, Maira menerima salam perkenalan
dari lelaki itu.
“Jika tidak keberatan, nanti saja atau
kapan-kapan saat tidak sedang sibuk, saya akan meminta Mbak menemani saya minum.
Silakan dilanjut. Maaf sudah mengganggu.”
“Terima kasih atas pengertiannya. Kalau begitu,
saya permisi kembali ke dapur,” jawab Maira.
Pandangan yang teduh dari Maira membuat Renza
tersihir. Sinar matanya menunjukkan kecerdasan. Rasa ingin kenal berlanjut pada
angan-angan yang kian melaju.
Di luar, titik-titik hujan tiba-tiba jatuh.
Tanpa aba-aba turunnya semakin menderas. Renza mendengar sejak awal bunyi hujan
yang pelan dari atas genting. Hujan membuat hatinya kian senang karena tak
harus pulang segera. Dia bisa minta Maira menemaninya jika pengunjung mulai
surut.
Namun, hingga café hendak tutup, masih banyak
pengunjung yang mengelilingi beberapa meja. Rupanya mereka menunggu hujan reda.
Meski sudah diserang kantuk, kru Café Joss tetap setia menemani pelanggan.
Maira yang ditunggu oleh Renza, tidak
menampakkan lagi keberadaannya. Padahal pengunjung café telah berkurang. Lelaki
itu membayangkan bisa menikmati suasana romantis di malam hujan gerimis bersama
gadis bermata cerdas itu.
“Ah, ke mana gadis itu? Apakah ini isyarat
kalau dia tak berkenan kuajak?”
Belum apa-apa hatinya mulai tak menentu.
Kegagalan pada hubungan sebelumnya menyebabkan rasa percaya dirinya sering
terganggu.
Biarlah, besok aku akan datang. Tak akan
kubiarkan dia lepas begitu saja. Demikian tekadnya.
Ternyata, berdasarkan info dari seorang
pramusaji, pada malam akhir pekan ini ada kesibukan ekstra di Café Joss.
Seorang pengunjung setia menyewa satu ruang khusus. Dia meminta setingan
istimewa bernuansa romantis. Ruang yang terletak di samping ruang utama itu ditata
sedemikian rupa hingga melahirkan suasana sesuai pesanan. Tempat itu akan
digunakan oleh sepasang kekasih yang hendak meresmikan hubungan di hadapan
keluarga besarnya.
Acara semacam itu tentu memerlukan penanganan
langsung dari Maira. Karena itulah dia tidak datang memenuhi undangan dari
Renza. Tentu saja malam itu menoreh kecewa di hati Renza.
Kesempatan kadang-kadang sering terasa aneh.
Saat dicari dan ditunggu-tunggu, terasa sulit menjangkaunya. Saat kita pasrah
dan berdoa agar dipertemukan dengan gadis pujaan hati, kesempatan tetiba datang
dan menuntutnya untuk bertindak cepat.
Sore itu Renza pulang dengan membawa sebungkus
roti. Aroma roti yang baru matang terasa sedapnya. Langkahnya yang tergesa saat
dia keluar dari mall menyebabkan dia menabrak seorang gadis yang juga tengah
bergerak lincah menuju pintu masuk.
“Aduh!” seru gadis itu mendapati ponsel yang
tengah dipegangnya terlempar cukup jauh.
Tentu saja Renza pun kaget. Apalagi saat
mengetahui siapa gadis yang baru saja ditabraknya.
“Maaf. Maaf. Saya benar-benar tidak sengaja,”
katanya sambil bergerak cepat mengambil ponsel yang terjatuh.
“Maaf, Mbak. Jika ada kerusakan, saya siap
mengganti. Silakan dicoba HP-nya.”
Maira tersenyum mendengar ucapan Renza.
“Tidak apa-apa. Hanya kaget saja,” jawab Maira.
“Bagaimana kalau kita minum sebentar di sana.
Mudah-mudahan kali ini Mbak tidak keberatan,” ajak lelaki itu.
“Boleh. Maaf kalau saya tak bisa berlama-lama,”
jawab Maira.
Begitulah. Pucuk dicinta ulam tiba. Mereka
akhirnya memiliki kesempatan untuk berkenalan.
Pada
mulanya, beberapa saat menunggu hidangan tiba, mereka hanya terdiam. Seperti kehilangan
kata, seperti sama-sama sedang merenungi pertemuan yang tak terduga ini. Pendingin
ruangan yang sejuk justru mengundang bulir-bulir keringat yang bermunculan di
dahi Renza. Juga di telapak tangannya.
“Terima kasih sudah menerima ajakan saya untuk
minum di sini. Meski minum di Café Joss selalu terasa istimewa bagiku.”
Renza membuka percakapan.
“Terima kasih kembali. Senang mendengar Bapak
menjadi pelanggan café kami,” jawab Maira.
“Cafenya keren. Penataan ruangnya juga memberi
kenyamanan, dan lukisannya sangat luar biasa,” pujinya.
Maira jadi teringat kalau lelaki di hadapannya
seperti tergila-gila pada lukisan lautnya.
“Bapak suka lukisan laut?” tanyanya.
“Ya, laut membuat saya terkenang pada banyak
hal. Oh, ya, bagaimana kalau jangan panggil saya ‘Pak’. Apa saya terlihat tua?”
Pertanyaannya mengundang tawa keduanya.
“Tidak juga. Hanya saja saya lihat Bapak selalu
datang dengan seragam dinas kantor. Jadi kami menghormati dengan panggilan
‘Bapak’. Maaf kalau kurang berkenan,” jawab Maira.
“Panggil saya ‘Mas’ atau ‘Bang’. Gimana enaknya
aja. Asal jangan ‘Bapak’.”
“Baiklah, Pak, eh, Mas.”
Keduaya tertawa hingga pertemuan itu menjadi
cair karenanya.
Pertemuan itu berlanjut pada pertemuan kedua,
ketiga, dan seterusnya. Keduanya memiliki prinsip yang sama. Saling mengenal
seraya saling memindai sikap, prinsip hidup, dan pandangan ke depan. Keduanya
telah sama-sama dewasa. Keduanya juga sama-sama pernah luka dan kecewa oleh
cinta pertama. Karena itulah keduanya sepakat untuk bersikap dewasa dan segera
saling memperkenalkan diri pada orang tua masing-masing.
Maka sore itu Maira tengah menempuh perjalanan
menuju Tawangmangu. Sebuah daerah dengan suasana sejuk dan menyenangkan yang
terletak di kaki Gunung Lawu, Karanganyar. Renza seorang karyawan yang pindah
tugas ke Kota Tasikmalaya.
Perkenalannya dengan Maira telah membuka
hatinya yang selama ini tertutup. Dia tak ingin berlama-lama terjebak dalam
masa penjajagan. Apalagi melihat usaha Maira yang terus berkembang. Selama ini
Renza menjadi tulang punggung keluarganya. Dua adiknya yang menjelang kuliah dan
kelas tiga SMP dalam tanggungannya. Sementara ayahnya sudah mulai
sakit-sakitan.
Tatap mata Bu Retno, ibundanya Renza terlalu
kentara. Menatap dengan cermat dari bawah hingga atas. Maira merasa tengah
menjadi sebuah manekin yang ditaksir pembeli. Dia membayangkan, apakah ibunya
pun akan bersikap demikian saat dirinya memperkenalkan Renza pada keluarganya?
Sepertinya tidak. Maira tahu, ibunya memiliki sikap tepaslira yag sangat
tinggi. Selalu memberi kenyamanan pada orang di sekitarnya.
“Hem… cantik! Kulitnya bening seperti kristal.
Ayo, masuk. Duduk di sini, Nak!” ajaknya kemudian.
Maira menarik napas. Sedikit lega dengan
komentar yang disampaikan oleh Bu Retno.
“Terima kasih, Bu.”
Setelah sedikit berbasa-basi tentang perjalanan
yang baru ditempuhnya, Bu Retno kembali bertanya.
“Kuliahnya dulu di mana?”
“Saya hanya lulusan SMK, Bu. Belum sempat
melanjutkan sekolah,” jawabnya apa-adanya.
“Oh, bukan sarjana, ya? Gimana dong nanti kalau
bergaul dengan orang-orang kantornya Mas Renza? Apa kamu tidak akan minder?”
Maira tak menyangka reaksi Bu Retno akan
seperti itu.
Minder? Mengapa harus minder hanya karena bukan
seorang sarjana? Apakah standar keberhasilan itu cukup ditandai dengan
pendidikan sarjana?
Sungguh, hatinya tersinggung buka kepalang.
Ingin rasanya menyampaikan panjang lebar tentang keberhasilan dirinya yang mampu
membuka usaha meski hanya lulusan SMK. Bahkan dia memiliki karyawan tetap enam
orang. Namun, mengingat posisinya sebaga tamu, ditahanlah emosinya yang serasa
mau meledak itu. Dengan istigfar, Maira meredam emosinya.
Setelah menarik napas, dia memamerkan senyum
yang membuat aura wajahnya semakin cantik.
“Pantas saja anak saya tertarik. Kamu punya
modal cantik. Sayang tak bisa sekolah tinggi,” gumam Bu Retno.
*
Udah dulu ya…
Ditunggu like dan krisannya.
Terima kasih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar