Minggu, 13 Februari 2022

Meretas Jejaring Kasih (5)

 5.    Perkenalan

“Silakan, Pak, Bu. Selamat menikmati,” kata Maira pada pengunjung cafenya.

“Makasih, Mbak.”

Setiap akhir pekan atau saat jumlah pengunjung meningkat, Maira tak segan ikut melayani kebutuhan pelanggan.

Terlihat seorang pengunjung mengangkat tangan meminta Maira agar mendekat. Tak lain tak bukan, dialah pengunjung setia penyuka lukisan laut.

“Maaf, boleh saya minta Mbak menemani saya minum?” tanyanya cukup sopan.

Maira mengedarkan pandang pada sekitar. Dilihatnya jumlah pengunjung tengah banyak dan suasana café memang sedang ramai-ramainya.

Maira berpikir cepat. Tenaganya sedang dibutuhkan tetapi layanan pelanggan pun perlu dipertimbangkan. Selama ini belum pernah ada pelanggan yang memintanya menemani minum.

“Tak apa jika tak bisa. Saya tahu café masih sangat ramai. Saya Renza,” katanya sambil berdiri dan mengulurkan tangan.

“Maira.”

Dengan sopan, Maira menerima salam perkenalan dari lelaki itu. 

“Jika tidak keberatan, nanti saja atau kapan-kapan saat tidak sedang sibuk, saya akan meminta Mbak menemani saya minum. Silakan dilanjut. Maaf sudah mengganggu.”

“Terima kasih atas pengertiannya. Kalau begitu, saya permisi kembali ke dapur,” jawab Maira.

Pandangan yang teduh dari Maira membuat Renza tersihir. Sinar matanya menunjukkan kecerdasan. Rasa ingin kenal berlanjut pada angan-angan yang kian melaju.

Di luar, titik-titik hujan tiba-tiba jatuh. Tanpa aba-aba turunnya semakin menderas. Renza mendengar sejak awal bunyi hujan yang pelan dari atas genting. Hujan membuat hatinya kian senang karena tak harus pulang segera. Dia bisa minta Maira menemaninya jika pengunjung mulai surut.

Namun, hingga café hendak tutup, masih banyak pengunjung yang mengelilingi beberapa meja. Rupanya mereka menunggu hujan reda. Meski sudah diserang kantuk, kru Café Joss tetap setia menemani pelanggan.

Maira yang ditunggu oleh Renza, tidak menampakkan lagi keberadaannya. Padahal pengunjung café telah berkurang. Lelaki itu membayangkan bisa menikmati suasana romantis di malam hujan gerimis bersama gadis bermata cerdas itu.

“Ah, ke mana gadis itu? Apakah ini isyarat kalau dia tak berkenan kuajak?”

Belum apa-apa hatinya mulai tak menentu. Kegagalan pada hubungan sebelumnya menyebabkan rasa percaya dirinya sering terganggu.

Biarlah, besok aku akan datang. Tak akan kubiarkan dia lepas begitu saja. Demikian tekadnya.

Ternyata, berdasarkan info dari seorang pramusaji, pada malam akhir pekan ini ada kesibukan ekstra di Café Joss. Seorang pengunjung setia menyewa satu ruang khusus. Dia meminta setingan istimewa bernuansa romantis. Ruang yang terletak di samping ruang utama itu ditata sedemikian rupa hingga melahirkan suasana sesuai pesanan. Tempat itu akan digunakan oleh sepasang kekasih yang hendak meresmikan hubungan di hadapan keluarga besarnya.

Acara semacam itu tentu memerlukan penanganan langsung dari Maira. Karena itulah dia tidak datang memenuhi undangan dari Renza. Tentu saja malam itu menoreh kecewa di hati Renza.

Kesempatan kadang-kadang sering terasa aneh. Saat dicari dan ditunggu-tunggu, terasa sulit menjangkaunya. Saat kita pasrah dan berdoa agar dipertemukan dengan gadis pujaan hati, kesempatan tetiba datang dan menuntutnya untuk bertindak cepat.

Sore itu Renza pulang dengan membawa sebungkus roti. Aroma roti yang baru matang terasa sedapnya. Langkahnya yang tergesa saat dia keluar dari mall menyebabkan dia menabrak seorang gadis yang juga tengah bergerak lincah menuju pintu masuk.

“Aduh!” seru gadis itu mendapati ponsel yang tengah dipegangnya terlempar cukup jauh.

Tentu saja Renza pun kaget. Apalagi saat mengetahui siapa gadis yang baru saja ditabraknya.

“Maaf. Maaf. Saya benar-benar tidak sengaja,” katanya sambil bergerak cepat mengambil ponsel yang terjatuh.

“Maaf, Mbak. Jika ada kerusakan, saya siap mengganti. Silakan dicoba HP-nya.”

Maira tersenyum mendengar ucapan Renza.

“Tidak apa-apa. Hanya kaget saja,” jawab Maira.

“Bagaimana kalau kita minum sebentar di sana. Mudah-mudahan kali ini Mbak tidak keberatan,” ajak lelaki itu.

“Boleh. Maaf kalau saya tak bisa berlama-lama,” jawab Maira.

Begitulah. Pucuk dicinta ulam tiba. Mereka akhirnya memiliki kesempatan untuk berkenalan.

 Pada mulanya, beberapa saat menunggu hidangan tiba, mereka hanya terdiam. Seperti kehilangan kata, seperti sama-sama sedang merenungi pertemuan yang tak terduga ini. Pendingin ruangan yang sejuk justru mengundang bulir-bulir keringat yang bermunculan di dahi Renza. Juga di telapak tangannya.

“Terima kasih sudah menerima ajakan saya untuk minum di sini. Meski minum di Café Joss selalu terasa istimewa bagiku.”

Renza membuka percakapan.

“Terima kasih kembali. Senang mendengar Bapak menjadi pelanggan café kami,” jawab Maira.

“Cafenya keren. Penataan ruangnya juga memberi kenyamanan, dan lukisannya sangat luar biasa,” pujinya.

Maira jadi teringat kalau lelaki di hadapannya seperti tergila-gila pada lukisan lautnya.

“Bapak suka lukisan laut?” tanyanya.

“Ya, laut membuat saya terkenang pada banyak hal. Oh, ya, bagaimana kalau jangan panggil saya ‘Pak’. Apa saya terlihat tua?”

Pertanyaannya mengundang tawa keduanya.

“Tidak juga. Hanya saja saya lihat Bapak selalu datang dengan seragam dinas kantor. Jadi kami menghormati dengan panggilan ‘Bapak’. Maaf kalau kurang berkenan,” jawab Maira.

“Panggil saya ‘Mas’ atau ‘Bang’. Gimana enaknya aja. Asal jangan ‘Bapak’.”

“Baiklah, Pak, eh, Mas.”

Keduaya tertawa hingga pertemuan itu menjadi cair karenanya.

Pertemuan itu berlanjut pada pertemuan kedua, ketiga, dan seterusnya. Keduanya memiliki prinsip yang sama. Saling mengenal seraya saling memindai sikap, prinsip hidup, dan pandangan ke depan. Keduanya telah sama-sama dewasa. Keduanya juga sama-sama pernah luka dan kecewa oleh cinta pertama. Karena itulah keduanya sepakat untuk bersikap dewasa dan segera saling memperkenalkan diri pada orang tua masing-masing.

Maka sore itu Maira tengah menempuh perjalanan menuju Tawangmangu. Sebuah daerah dengan suasana sejuk dan menyenangkan yang terletak di kaki Gunung Lawu, Karanganyar. Renza seorang karyawan yang pindah tugas ke Kota Tasikmalaya.

Perkenalannya dengan Maira telah membuka hatinya yang selama ini tertutup. Dia tak ingin berlama-lama terjebak dalam masa penjajagan. Apalagi melihat usaha Maira yang terus berkembang. Selama ini Renza menjadi tulang punggung keluarganya. Dua adiknya yang menjelang kuliah dan kelas tiga SMP dalam tanggungannya. Sementara ayahnya sudah mulai sakit-sakitan.

Tatap mata Bu Retno, ibundanya Renza terlalu kentara. Menatap dengan cermat dari bawah hingga atas. Maira merasa tengah menjadi sebuah manekin yang ditaksir pembeli. Dia membayangkan, apakah ibunya pun akan bersikap demikian saat dirinya memperkenalkan Renza pada keluarganya? Sepertinya tidak. Maira tahu, ibunya memiliki sikap tepaslira yag sangat tinggi. Selalu memberi kenyamanan pada orang di sekitarnya.

“Hem… cantik! Kulitnya bening seperti kristal. Ayo, masuk. Duduk di sini, Nak!” ajaknya kemudian.

Maira menarik napas. Sedikit lega dengan komentar yang disampaikan oleh Bu Retno.

“Terima kasih, Bu.”

Setelah sedikit berbasa-basi tentang perjalanan yang baru ditempuhnya, Bu Retno kembali bertanya.

“Kuliahnya dulu di mana?”

“Saya hanya lulusan SMK, Bu. Belum sempat melanjutkan sekolah,” jawabnya apa-adanya.

“Oh, bukan sarjana, ya? Gimana dong nanti kalau bergaul dengan orang-orang kantornya Mas Renza? Apa kamu tidak akan minder?”

Maira tak menyangka reaksi Bu Retno akan seperti itu.

Minder? Mengapa harus minder hanya karena bukan seorang sarjana? Apakah standar keberhasilan itu cukup ditandai dengan pendidikan sarjana?

Sungguh, hatinya tersinggung buka kepalang. Ingin rasanya menyampaikan panjang lebar tentang keberhasilan dirinya yang mampu membuka usaha meski hanya lulusan SMK. Bahkan dia memiliki karyawan tetap enam orang. Namun, mengingat posisinya sebaga tamu, ditahanlah emosinya yang serasa mau meledak itu. Dengan istigfar, Maira meredam emosinya.

Setelah menarik napas, dia memamerkan senyum yang membuat aura wajahnya semakin cantik.

“Pantas saja anak saya tertarik. Kamu punya modal cantik. Sayang tak bisa sekolah tinggi,” gumam Bu Retno.                                                                                 

 

 

 

*

Udah dulu ya…

Ditunggu like dan krisannya.

Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar