Minggu, 13 Februari 2022

Meretas Jejaring Kasih (2)

 2.    Tempatmu Bukan di Sini

“Eh, eh, eh! Euleuh, kenapa itu Si Eneng?”

Bu Rahmi yang baru pulang dari warung terheran-heran melihat seorang wanita cantik tengah berpegangan pada pagar. Kelihatan betul kalau tubuhnya lemah dan limbung. Sementara itu, Johan yang tengah berdiri di teras hanya memandanginya dengan mata membulat.

“Kamu itu, Jo! Sini atuh! Bantuin amah bisi Si Eneng roboh. Kasihan! Lagian amah enggak bakal kuat nyangga sendirian kalau Si Eneng sampai pingsan,” seru Bu Rahmi dengan cemas.

“Eh, iya, iya, Amah. Tunggu sebentar!”

Johan seperti baru tersadar. Tubuh gempalnya sedikit kesulitan untuk bergerak cepat meski hanya melalui tiga tahapan tangga teras menuju halaman yang menurun. Kepalanya menunduk mengikuti arah langkah kakinya. Dia memang selalu hati-hati jika hendak melangkah. Sebab kalau terpeleset atau terjatuh, tentu bakal menyulitkan banyak orang.

“Enggak apa-apa, Bu. Saya masih kuat jalan, kok. Maaf, jadi merepotkan,” ujar Maira. Suaranya begitu lirih.

Bulir-bulir keringat membasahi dahinya, tangannya, juga punggungnya. Hanya selang beberapa menit, baju bagian belakangnya pun ikut membasah.

Maira bergerak pelan menuju teras yang letaknya agak tinggi. Dengan berpegangan pada lengan wanita paruh baya yang sangat ramah, gadis itu seakan beroleh tambahan kekuatan. Lagipula, perasaan malu sebab kehadirannya jadi merepotkan tuan rumah, membuatnya berusaha tegar dan menguatkan diri untuk melangkah.

“Nah, begitu. Pelan saja, Neng. Duh, ini tangan lembut teh mani anyep begini. Sepertinya masuk angin. Kalau Eneng suka dikerok, nanti amah bantu, ya?”

Bu Rahmi tak henti memperlihatkan keramahan dan ketulusannya. Kebiasaannya menolong orang yang memerlukan, membuatnya selalu peduli pada keadaan orang lain. Apalagi Maira berada di lingkungan rumahnya.

“Tidak, Bu, terima kasih. Saya tak pernah kerokan. Kalau masuk angin paling hanya minum air hangat saja,” jawab Maira sambil menyandarkan punggungnya pada kursi. Matanya terpejam. Hidungnya berhias bulir-bulir keringat yang bergerumbul di pucuknya.

Maira mendapat segelas teh manis hangat yang dibuat Bu Rahmi dengan cepat. Air yang mengalir masuk ke dalam tubuhnya, benar-benar memberi kehangatan yang membuatnya merasa lebih nyaman.

“Eneng teh temannya Johan? Duh, mani cantik kayak gini, Jo!” katanya seraya melirik pada putranya.

“Iya, Amih. Maira teman saya. Jauh-jauh dari Tasikmalaya temanku ini ingin membuktikan keberaniannya datang sendirian ke sini,” jawab Johan.

“Wah, syukurlah. Makasih ya, Neng, udah bersedia mampir ke rumah kampung. Tinggallah di sini beberapa hari. Siapa tahu Eneng bisa ikutan usaha online kayak Jo.”

Mendengar obrola ibu dan anak itu, Maira hanya diam sambil memejamkan mata. Sebenarnya hatinya merasa kesal karena Jo telah berbohong padanya. Wajah dan tampilannya tidak sesuai dengan foto yang dimunculkannya.

Andai Maira tahu, lelaki itu saat ini tengah didera rasa bersalah. Gara-gara kebohongan yang dibuatnya, Maira tertarik pada dirinya. Bahkan dalam percakapan dua bulan terakhir ini, Maira mengajaknya untuk melanjutkan hubungan ke tahap yang lebih serius.

Tentu saja keinginan Maira sangat masuk akal. Johan yang dikenalnya adalah lelaki tampan bertubuh atletis. Meski selama ini Jo tak pernah mengeluarkan rayuan, apalagi menggombal demi mendapatkan keuntungan sepihak, rupanya Maira memang tidak main-main. Wanita itu menginginkan hubungan yang serius.

Hanya saja, karena kondisi tubuhnya yang mekar di semua lini, Johan tidak percaya diri. Lelaki itu tidak berani tampil dengan foto profil dirinya. Padahal dia ingin memiliki teman wanita. Dia sadar betul, tak akan ada wanita yang tertarik pada penampilan asli dirinya. Maka dipampanglah foto kawannya yang memang good looking. Kepandaiannya mengedit foto membuat tampilan profilnya begitu menawan.

Bu Rahmi meninggalkan Maira untuk membereskan kamar depan. Dia ingin memberi kesempatan pada Maira untuk beristirahat.

“Nah, kamarnya sudah dibereskan. Ayo Eneng istirahat dulu sementara amah mau masak dulu. Atau kalau mau ke kamar mandi dulu, jangan sungkan ya, Neng.”

Sikap Bu Rahmi sedikit mencairkan perasaan Maira yang merasa tertipu, dibohongi, bahkan kesal yang menggumpal.

“Iya, Bu. Terima kasih. Maaf jadi merepotkan.”

Siang yang mulai redup karena hari segera menuju sore membuat istirahat Maira berubah jadi tidur yang nyenyak. Saat terbangun, langit mulai beranjak gelap. Maira bingung, sejenak tak menyadari di mana dia berada.

Tetiba Bu Rahmi melongokkan kepala, lalu masuk dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.

“Syukurlah, Eneng bisa tidur nyenyak. Itu teh tandanya Eneng kerasan di rumah amah.”

Bu Rahmi duduk di bibir pembaringan. Tatapnya tidak lepas dari wajah Maira yang terlihat lebih segar dibandingkan saat tiba.

“Kalau mau mandi dulu boleh, mau salat dulu juga boleh. Nanti kita makan sama-sama.”

Maira tidak ingin membuat tuan rumah lama menunggu. Segera dia membersihkan diri agar bisa memenuhi undangan makan bersama.

Saat tiba di meja makan, Maira melihat dua orang lelaki selain Johan, yang juga ikut duduk bersama. Sekilas aku tahu, keduanya orang yang berkebutuhan khusus. Mau tidak mau hatiku berdesir tak karuan. Seperti agak takut atau khawatir.

Pandangan keduanya entah mengarah ke mana. Yang satu sibuk memainkan sendok dan garpu di piring. Suara yang ditimbulkannya cukup berisik hingga berdecit-decit. Yang seorang lagi duduk menunduk tak banyak beraktivitas. Tangannya diletakkan di lutut dan bibirnya bergerak-gerak serupa ikan yang kehabisan air. Entah dia sedang berdoa atau apa. Suaranya mendesis-desis sambil mencondongkan badan.

“Ini dua adik saya, Ra. Arul yang tadi kamu lihat main bola. Setiap hari dia tak bosan menendang bola. Katanya tengah mempersiapkan diri buat pertandingan. Ini Yuda yang tak banyak cakap tapi terampil membuat kerajinan yang rumit sekalipun. Lihatlah, perahu dan mobil-mobil kayu di atas meja itu buatan tangannya. Bagus, ‘kan?” Johan memperkenalkan saudaranya.

Maira mengikuti arah pandang Johan. Benar saja. Di meja yang cukup besar itu terdapat berbagai hasil kerajinan tangan berbahan kayu dan bambu. Semuanya bernilai artistik dan sangat keren. Beberapa saat Maira memanjakan matanya untuk menikmati keindahan barang-barang hasil karya Yuda.

“Hebat. Luar biasa. Ini mah karya seni yang sangat rumit dikerjakan oleh seorang ahli. Yuda keren. Adiknya Kak Jo benar-benar seorang seniman.” Maira tak menyembunyikan kekagumannya.

Yuda tetap menunduk, sedangkan Arul semakin keras membunyikan sendok garpu yang dipukul-pukulkan pada piring. Hingga menimbulkan suara yang sangat berisik.

Dengan sabar, Bu Rahmi meminta Arul memegang sendok dan garpu. Diangkatnya piring itu lalu diisi dengan nasi. Semua menikmati makan malam tanpa banyak bicara.

Sesekali Maira mencuri pandang pada Arul dan Yuda. Keduanya makan dengan kontrol tangan yang berbeda. Arul menyendok nasi dengan kasar hingga nasi berantakan di meja, berjatuhan ke lantai, bahkan nasi yang berhamburan itu mengenai bajunya.

Dengan sabar Bu Rahmi memootivasi Arul agar makan yang banyak. Maira melihat, nasi yang masuk mulut Arul sebanding dengan yang berhamburan.

Lain lagi dengan Yuda. Kepalanya sama sekali tak pernah menengadah atau memandang lurus pada orang di depannya. Makan pun dia lakukan sambil terus menunduk. Mulutnya hampir menyentuh alas di piring. Sesekali nasi yang masuk mulut keluar lagi jatuh di piringnya. Dengan cepat nasi itu dimakannya kembali.

Maira tak bisa makan banyak. Pemandangan di depannya membuat perutnya serasa diaduk-aduk. Ditahannya sekuat tenaga agar makanan di mulutnya bisa ditelan sempurna. Kepalanya pening memikirkan banyak hal dan segala kemungkinan yang direka-reka dalam benaknya.

“Jangan takut, Ra. Kujamin, tempatmu bukan di sini. Percayalah!” bisik Johan saat kami meninggalkan meja makan.

*

 

Udah dulu ya…

Ditunggu like dan krisannya.

Mudah-mudahan bisa berlanjut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar