2. Tempatmu Bukan di Sini
“Eh, eh, eh! Euleuh, kenapa itu Si
Eneng?”
Bu Rahmi yang baru pulang dari warung
terheran-heran melihat seorang wanita cantik tengah berpegangan pada pagar.
Kelihatan betul kalau tubuhnya lemah dan limbung. Sementara itu, Johan yang
tengah berdiri di teras hanya memandanginya dengan mata membulat.
“Kamu itu, Jo! Sini atuh! Bantuin amah
bisi Si Eneng roboh. Kasihan! Lagian amah enggak bakal kuat nyangga sendirian kalau
Si Eneng sampai pingsan,” seru Bu Rahmi dengan cemas.
“Eh, iya, iya, Amah. Tunggu sebentar!”
Johan seperti baru tersadar. Tubuh gempalnya
sedikit kesulitan untuk bergerak cepat meski hanya melalui tiga tahapan tangga
teras menuju halaman yang menurun. Kepalanya menunduk mengikuti arah langkah
kakinya. Dia memang selalu hati-hati jika hendak melangkah. Sebab kalau terpeleset
atau terjatuh, tentu bakal menyulitkan banyak orang.
“Enggak apa-apa, Bu. Saya masih kuat jalan,
kok. Maaf, jadi merepotkan,” ujar Maira. Suaranya begitu lirih.
Bulir-bulir keringat membasahi dahinya,
tangannya, juga punggungnya. Hanya selang beberapa menit, baju bagian
belakangnya pun ikut membasah.
Maira bergerak pelan menuju teras yang letaknya
agak tinggi. Dengan berpegangan pada lengan wanita paruh baya yang sangat
ramah, gadis itu seakan beroleh tambahan kekuatan. Lagipula, perasaan malu sebab
kehadirannya jadi merepotkan tuan rumah, membuatnya berusaha tegar dan
menguatkan diri untuk melangkah.
“Nah, begitu. Pelan saja, Neng. Duh, ini tangan
lembut teh mani anyep begini. Sepertinya masuk angin. Kalau Eneng suka dikerok,
nanti amah bantu, ya?”
Bu Rahmi tak henti memperlihatkan keramahan dan
ketulusannya. Kebiasaannya menolong orang yang memerlukan, membuatnya selalu
peduli pada keadaan orang lain. Apalagi Maira berada di lingkungan rumahnya.
“Tidak, Bu, terima kasih. Saya tak pernah
kerokan. Kalau masuk angin paling hanya minum air hangat saja,” jawab Maira
sambil menyandarkan punggungnya pada kursi. Matanya terpejam. Hidungnya berhias
bulir-bulir keringat yang bergerumbul di pucuknya.
Maira mendapat segelas teh manis hangat yang dibuat
Bu Rahmi dengan cepat. Air yang mengalir masuk ke dalam tubuhnya, benar-benar
memberi kehangatan yang membuatnya merasa lebih nyaman.
“Eneng teh temannya Johan? Duh, mani cantik
kayak gini, Jo!” katanya seraya melirik pada putranya.
“Iya, Amih. Maira teman saya. Jauh-jauh dari
Tasikmalaya temanku ini ingin membuktikan keberaniannya datang sendirian ke
sini,” jawab Johan.
“Wah, syukurlah. Makasih ya, Neng, udah
bersedia mampir ke rumah kampung. Tinggallah di sini beberapa hari. Siapa tahu
Eneng bisa ikutan usaha online kayak Jo.”
Mendengar obrola ibu dan anak itu, Maira hanya
diam sambil memejamkan mata. Sebenarnya hatinya merasa kesal karena Jo telah
berbohong padanya. Wajah dan tampilannya tidak sesuai dengan foto yang
dimunculkannya.
Andai Maira tahu, lelaki itu saat ini tengah
didera rasa bersalah. Gara-gara kebohongan yang dibuatnya, Maira tertarik pada
dirinya. Bahkan dalam percakapan dua bulan terakhir ini, Maira mengajaknya
untuk melanjutkan hubungan ke tahap yang lebih serius.
Tentu saja keinginan Maira sangat masuk akal.
Johan yang dikenalnya adalah lelaki tampan bertubuh atletis. Meski selama ini
Jo tak pernah mengeluarkan rayuan, apalagi menggombal demi mendapatkan
keuntungan sepihak, rupanya Maira memang tidak main-main. Wanita itu
menginginkan hubungan yang serius.
Hanya saja, karena kondisi tubuhnya yang mekar
di semua lini, Johan tidak percaya diri. Lelaki itu tidak berani tampil dengan
foto profil dirinya. Padahal dia ingin memiliki teman wanita. Dia sadar betul,
tak akan ada wanita yang tertarik pada penampilan asli dirinya. Maka
dipampanglah foto kawannya yang memang good looking. Kepandaiannya
mengedit foto membuat tampilan profilnya begitu menawan.
Bu Rahmi meninggalkan Maira untuk membereskan
kamar depan. Dia ingin memberi kesempatan pada Maira untuk beristirahat.
“Nah, kamarnya sudah dibereskan. Ayo Eneng
istirahat dulu sementara amah mau masak dulu. Atau kalau mau ke kamar mandi
dulu, jangan sungkan ya, Neng.”
Sikap Bu Rahmi sedikit mencairkan perasaan
Maira yang merasa tertipu, dibohongi, bahkan kesal yang menggumpal.
“Iya, Bu. Terima kasih. Maaf jadi merepotkan.”
Siang yang mulai redup karena hari segera
menuju sore membuat istirahat Maira berubah jadi tidur yang nyenyak. Saat
terbangun, langit mulai beranjak gelap. Maira bingung, sejenak tak menyadari di
mana dia berada.
Tetiba Bu Rahmi melongokkan kepala, lalu masuk
dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
“Syukurlah, Eneng bisa tidur nyenyak. Itu teh
tandanya Eneng kerasan di rumah amah.”
Bu Rahmi duduk di bibir pembaringan. Tatapnya
tidak lepas dari wajah Maira yang terlihat lebih segar dibandingkan saat tiba.
“Kalau mau mandi dulu boleh, mau salat dulu
juga boleh. Nanti kita makan sama-sama.”
Maira tidak ingin membuat tuan rumah lama
menunggu. Segera dia membersihkan diri agar bisa memenuhi undangan makan bersama.
Saat tiba di meja makan, Maira melihat dua
orang lelaki selain Johan, yang juga ikut duduk bersama. Sekilas aku tahu,
keduanya orang yang berkebutuhan khusus. Mau tidak mau hatiku berdesir tak
karuan. Seperti agak takut atau khawatir.
Pandangan keduanya entah mengarah ke mana. Yang
satu sibuk memainkan sendok dan garpu di piring. Suara yang ditimbulkannya
cukup berisik hingga berdecit-decit. Yang seorang lagi duduk menunduk tak
banyak beraktivitas. Tangannya diletakkan di lutut dan bibirnya bergerak-gerak
serupa ikan yang kehabisan air. Entah dia sedang berdoa atau apa. Suaranya
mendesis-desis sambil mencondongkan badan.
“Ini dua adik saya, Ra. Arul yang tadi kamu
lihat main bola. Setiap hari dia tak bosan menendang bola. Katanya tengah
mempersiapkan diri buat pertandingan. Ini Yuda yang tak banyak cakap tapi
terampil membuat kerajinan yang rumit sekalipun. Lihatlah, perahu dan
mobil-mobil kayu di atas meja itu buatan tangannya. Bagus, ‘kan?” Johan
memperkenalkan saudaranya.
Maira mengikuti arah pandang Johan. Benar saja.
Di meja yang cukup besar itu terdapat berbagai hasil kerajinan tangan berbahan
kayu dan bambu. Semuanya bernilai artistik dan sangat keren. Beberapa saat
Maira memanjakan matanya untuk menikmati keindahan barang-barang hasil karya
Yuda.
“Hebat. Luar biasa. Ini mah karya seni yang
sangat rumit dikerjakan oleh seorang ahli. Yuda keren. Adiknya Kak Jo
benar-benar seorang seniman.” Maira tak menyembunyikan kekagumannya.
Yuda tetap menunduk, sedangkan Arul semakin
keras membunyikan sendok garpu yang dipukul-pukulkan pada piring. Hingga
menimbulkan suara yang sangat berisik.
Dengan sabar, Bu Rahmi meminta Arul memegang
sendok dan garpu. Diangkatnya piring itu lalu diisi dengan nasi. Semua
menikmati makan malam tanpa banyak bicara.
Sesekali Maira mencuri pandang pada Arul dan
Yuda. Keduanya makan dengan kontrol tangan yang berbeda. Arul menyendok nasi
dengan kasar hingga nasi berantakan di meja, berjatuhan ke lantai, bahkan nasi
yang berhamburan itu mengenai bajunya.
Dengan sabar Bu Rahmi memootivasi Arul agar
makan yang banyak. Maira melihat, nasi yang masuk mulut Arul sebanding dengan
yang berhamburan.
Lain lagi dengan Yuda. Kepalanya sama sekali
tak pernah menengadah atau memandang lurus pada orang di depannya. Makan pun
dia lakukan sambil terus menunduk. Mulutnya hampir menyentuh alas di piring.
Sesekali nasi yang masuk mulut keluar lagi jatuh di piringnya. Dengan cepat
nasi itu dimakannya kembali.
Maira tak bisa makan banyak. Pemandangan di
depannya membuat perutnya serasa diaduk-aduk. Ditahannya sekuat tenaga agar
makanan di mulutnya bisa ditelan sempurna. Kepalanya pening memikirkan banyak
hal dan segala kemungkinan yang direka-reka dalam benaknya.
“Jangan takut, Ra. Kujamin, tempatmu bukan di sini.
Percayalah!” bisik Johan saat kami meninggalkan meja makan.
*
Udah dulu ya…
Ditunggu like dan krisannya.
Mudah-mudahan bisa berlanjut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar