Selasa, 22 Februari 2022

Cerpen: Hanya Tersedak

                 “Beneran? Besok mau ikutan gowes?” tanyaku pada Garda.

Tentu saja aku bertanya begitu. Selama ini kakak tingkatku itu termasuk orang yang tak acuh. Tampilannya selalu kusut. Pakaiannya kolor gombrang tak tersentuh setrikaan. Untungnya dia enak dipandang. Gantengnya nyaris sempurna.

“Ya, iyalah. Pengen juga gowes bareng kamu,” jawabnya sambil garuk-garuk kepala.

“Halah… paling juga besok enggak jadi!” ujarku sekenanya.

“Lihat aja. Besok pagi depan warung Kang Komar. Kamu ‘kan kalau gowes mesti lewat situ.”

“Yee… diam-diam ngintip juga!” Aku tergelak. “Ya, udah, sampe besok!”

Aku berlalu meninggalkan Garda yang masih berdiri di mulut gang. Kukayuh lagi sepeda kesayanganku. Aku masih punya waktu dua jam untuk mempersiapkan diri. Hari ini aku ada jadwal bimbingan tugas akhir. Segar rasanya menyempatkan gowes keliling jalan kampung.

Berteman nyanyian burung dari rumah Pak RT yang bersebelahan dengan tempat tinggalku, pagi itu kukayuh sepeda seperti biasa. Kumanfaatkan waktu sehari satu jam untuk gowes. Olahraga rutin yang kusukai dalam dua tahun ini.

Dari jauh kulihat Garda telah siap di warung Kang Komar. Tampilannya luar biasa. Setidaknya untuk pagi ini. Cycling jersey biru merah lengkap dengan helm-nya. Baru kali ini kulihat dia memakai baju yang benar.

“Ha! Ternyata …,” teriakku sambil tertawa.

“Bener, ‘kan?” sergahnya. “Aku tertarik lihat kamu gowes. Kok kayaknya enak banget gowes tiap pagi.”

Sejak itu aku punya teman gowes. Ternyata asyik juga gowes bareng. Jadi ada teman kalau turun dan menikmati sarapan bubur ayam.

Dari gowes berlanjut ngobrol. Aku merasa Garda mulai berubah. Tampilannya tak selusuh sebelumnya. Sesekali dia suka cari perhatian. Minta komentar atas pakaian yang dikenakannya. Tampilannya semakin keren. Apalagi saat dia mulai dapat pekerjaan. Sedang aku baru lulus sarjana.

Kuajukan lamaran pekerjaan ke berbagai tempat. Selain lamaran online, aku juga memasukkan lamaran pekerjaan langsung ke perusahaan.

Garda selalu siap dengan motornya mengantarku ke mana pun lamaran kusampaikan. Suaranya berisik dan asap berhamburan dari knalpotnya. Awalnya aku tak mau dibonceng dengan motornya itu. Namun, melihat kesungguhannya, tiap hari menjemput dan mengantar pulang, hatiku meleleh dibuatnya.

Akhirnya aku mendapat panggilan kerja di kantor cabang Purwokerto. Aku bersyukur sekali karena Lita adikku kuliah di sana. Jadi aku bisa langsung menuju tempat kosnya.

Seminggu aku berkemas. Seminggu itu pula Garda membantuku beli ini itu untuk kubawa ke tempat baru. Dia mengajakku merayakannya dengan makan siang di Saung Sawah. Rumah makan lesehan yang jauh dari pesawahan.

“Sebelum kamu pergi, aku ingin menitipkan sesuatu. Boleh yaa...!” Tak biasanya Garda bersuara lirih.

“Titip apaan? Kalau mau oleh-oleh, aku belum tahu makanan khas di sana. Nyampe tempat juga belum!” sahutku sedikit bercanda.

“Ri, aku serius. Aku ingin menitipkan wanita yang telah tersimpan di hatiku. Aku ingin kamu menjaga Lita sebagaimana kamu menjaga diri sendiri. Izinkan aku menjadi iparmu, Ri,” ucapnya dengan rona wajah serius.

Sepertinya aku tak mampu menyimak dengan jelas kalimat-kalimat selanjutnya. Bahagia yang telah bersarang dalam hatiku tetiba menjadi bara yang membakar kerongkongan.

Aku tersedak. Tak kutahan batuk yang menyerang hingga berlelehan air mataku. Tak kuminum juga air yang disodorkan Garda. Biarlah dia tahu, hanya karena tersedak, air mata luka ini membanjir tak bisa kutahan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar