“Beneran? Besok mau ikutan gowes?” tanyaku pada Garda.
Tentu saja aku bertanya begitu. Selama ini kakak
tingkatku itu termasuk orang yang tak acuh. Tampilannya selalu kusut. Pakaiannya
kolor gombrang tak tersentuh setrikaan. Untungnya dia enak dipandang.
Gantengnya nyaris sempurna.
“Ya, iyalah. Pengen juga gowes bareng kamu,”
jawabnya sambil garuk-garuk kepala.
“Halah… paling juga besok enggak jadi!” ujarku
sekenanya.
“Lihat aja. Besok pagi depan warung Kang Komar.
Kamu ‘kan kalau gowes mesti lewat situ.”
“Yee… diam-diam ngintip juga!” Aku tergelak. “Ya,
udah, sampe besok!”
Aku berlalu meninggalkan Garda yang masih
berdiri di mulut gang. Kukayuh lagi sepeda kesayanganku. Aku masih punya waktu
dua jam untuk mempersiapkan diri. Hari ini aku ada jadwal bimbingan tugas
akhir. Segar rasanya menyempatkan gowes keliling jalan kampung.
Berteman nyanyian burung dari rumah Pak RT yang
bersebelahan dengan tempat tinggalku, pagi itu kukayuh sepeda seperti biasa.
Kumanfaatkan waktu sehari satu jam untuk gowes. Olahraga rutin yang kusukai
dalam dua tahun ini.
Dari jauh kulihat Garda telah siap di warung
Kang Komar. Tampilannya luar biasa. Setidaknya untuk pagi ini. Cycling jersey
biru merah lengkap dengan helm-nya. Baru kali ini kulihat dia memakai baju yang
benar.
“Ha! Ternyata …,” teriakku sambil tertawa.
“Bener, ‘kan?” sergahnya. “Aku tertarik lihat
kamu gowes. Kok kayaknya enak banget gowes tiap pagi.”
Sejak itu aku punya teman gowes. Ternyata asyik
juga gowes bareng. Jadi ada teman kalau turun dan menikmati sarapan bubur ayam.
Dari gowes berlanjut ngobrol. Aku merasa Garda
mulai berubah. Tampilannya tak selusuh sebelumnya. Sesekali dia suka cari
perhatian. Minta komentar atas pakaian yang dikenakannya. Tampilannya semakin
keren. Apalagi saat dia mulai dapat pekerjaan. Sedang aku baru lulus sarjana.
Kuajukan lamaran pekerjaan ke berbagai tempat.
Selain lamaran online, aku juga memasukkan lamaran pekerjaan langsung ke
perusahaan.
Garda selalu siap dengan motornya mengantarku
ke mana pun lamaran kusampaikan. Suaranya berisik dan asap berhamburan dari
knalpotnya. Awalnya aku tak mau dibonceng dengan motornya itu. Namun, melihat
kesungguhannya, tiap hari menjemput dan mengantar pulang, hatiku meleleh
dibuatnya.
Akhirnya aku mendapat panggilan kerja di kantor
cabang Purwokerto. Aku bersyukur sekali karena Lita adikku kuliah di sana. Jadi
aku bisa langsung menuju tempat kosnya.
Seminggu aku berkemas. Seminggu itu pula Garda
membantuku beli ini itu untuk kubawa ke tempat baru. Dia mengajakku
merayakannya dengan makan siang di Saung Sawah. Rumah makan lesehan yang jauh
dari pesawahan.
“Sebelum kamu pergi, aku ingin menitipkan
sesuatu. Boleh yaa...!” Tak biasanya Garda bersuara lirih.
“Titip apaan? Kalau mau oleh-oleh, aku belum
tahu makanan khas di sana. Nyampe tempat juga belum!” sahutku sedikit bercanda.
“Ri, aku serius. Aku ingin menitipkan wanita
yang telah tersimpan di hatiku. Aku ingin kamu menjaga Lita sebagaimana kamu
menjaga diri sendiri. Izinkan aku menjadi iparmu, Ri,” ucapnya dengan rona
wajah serius.
Sepertinya aku tak mampu menyimak dengan jelas
kalimat-kalimat selanjutnya. Bahagia yang telah bersarang dalam hatiku tetiba
menjadi bara yang membakar kerongkongan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar