7. Tamu Penting
Sejenak mata indah Maira menatap Bu Retno.
Sambil mencari jawaban yang tepat, Maira memperbaiki letak duduknya. Kedua
sikutnya tersandar di tangan kursi. Sementara musik nan lembut mengalun
mengisii ruang yang cukup luas itu.
Sebelum Maira menyampaikan isi hatinya, tetiba
keseriusan mereka terjeda sejenak oleh kehadiran Renza. Lelaki itu datang
dengan seragam kantor yang masih membungkus tubuhnya.
“Selamat sore semua. Bagaimana hari ini?
Pengunjung mulai ramai, ya?”
Renza mengedarkan pandang pada sekitarnya.
Semilir angin terasa sejuk menerobos masuk dari area sebelah utara. Bagian sisi
itu hanya berbatas setengah dinding. Di sampingnya tumbuh pepohonan rindang.
Daun-daunnya seperti tengah menari tertiup angin. Tarian yang mengantarkan keriangan
pada sekitarnya.
“Kamu udah benar-benar pulang ngantor?”
Nada suara Bu Retno menyiratkan kebanggaan atas
keberhasilan anaknya menjadi karyawan BUMN.
“Iya, Bu. Udah pulang,” jawab Renza.
“Enggak ada lembur?” lanjut Bu Retno.
“Ya, enggak, Bu. Kalau enggak sedang maintenance
ya jarang-jarang ada kerja lembur.”
Renza mengambil tempat duduk di samping ibunya.
Sebenarnya dia ingin duduk di kursi dekat Maira. Namun, Renza mafhum,
kadang-kadang ibunya suka menampakkan air muka yang kurang enak dipandang jika
Renza terlihat dekat dengan Maira. Apalagi jika merasa kalah perhatian
dibandingkan dengan perhatian Renza untuk Maira.
“Emang siapa yang lagi mantenan? Masa kamu ikut
lembur buat masalah gituan. Biasakan hanya mengerjakan urusan kantor. Jangan
mau disuruh ini itu untuk urusan pribadi. Apalagi kalau bukan bidang
pekerjaanmu.”
Bu Retno seperti paling tahu mengenai pekerjaan
anaknya. Alih-alih hendak menunjukkan pemahaman lebih pada karier anaknya,
malah membuat Maira dan Renza tersenyum simpul. Keduanya hanya diam tak
menanggapi pernyataan Bu Retno.
Sedang suasana hening, Elis datang menghampiri.
Gadis itu mengemban tugas bagian humas. Meskipun demikian, semua karyawan akan
turun melayani pelanggan jika kondisi ramai pengunjung.
“Maaf, mengganggu, Bu,” katanya sambil
mengangguk sopan pada Bu Retno.
“Teh, tamu istimewa kita sudah tiba. Beliau
ingin berjumpa dengan Teteh. Katanya ada yang perlu disampaikan mengenai acara
untuk malam nanti,” lanjutnya.
“Oh begitu. Syukurlah bintang tamunya sudah
datang sebelum acara,” ujar Maira.
“Maaf, Bu, Mas Renza, saya permisi sebentar.
Nanti karyawan saya akan menyampaikan hidangan buat Ibu,” kata Maira dengan
sopan.
“Jangan sungkan, May. Kembalilah kerja. Apalagi
itu tamu penting,” jawab Renza. Dia memaklumi pekerjaan Maira. Apalagi
mengetahui ada acara istimewa pada akhir pekan.
Maira meninggalkan meja Bu Retno diiringi Elis,
karyawannya.
“Apa? Ada tamu penting, katamu? Memangnya ibumu
ini bukan tamu penting? Jauh-jauh datang dari Tawangmangu, sudah tiba di sini
kalah penting sama tamu lain? Calon mantu macam apa? Yaah… begitulah kalau
pendidikannya hanya setara SMA.”
Bu Retno merasa tersinggung oleh perlakuan
Maira, juga oleh sikap Renza.
“Bukan begitu, Bu. Ibu ‘kan sudah berbincang
dengan Maira. Tentu saja May tidak punya waktu banyak untuk duduk-duduk
menemani kita. Lihat saja, pengunjung terus berdatangan. Di lantai ini, di atas
juga, tuh lihat, mejanya sudah terisi semua. Tolong jangan tersinggung ya, Bu.”
Dengan sabar Renza mencoba memberi pengertian
pada ibunya.
“Nanti, kalau sudah berumah tangga, kalian juga
bakal tetap seperti ini? Kelihatannya aja hidup bersama, tapi sibuk
sendiri-sendiri.” Bu Retno masih merajuk.
“Ya, enggaklah. Nanti pasti bisa menyesuaikan,”
jawab Renza sambil melirik pada ibunya. Pandangan ibunya masih menyiratkan
kemarahan meski mulutnya tak menyemburkan omelan.
“Tadi Ibu bilang, nanti udah berumah tangga
bagaimana? Jadi… apakah itu artinya… Ibu menyetujui hubungan kami?” tanya Renza
dengan mata penuh harap.
“Emang ibu bilang gitu? Ah, salah denger, kali!
Kalaupun mau dilanjut, tentu harus ada semacam perjanjian.”
Jemari Bu Retno mengetuk-ngetuk meja seiring
dengan pikirannya. Dia hendak mencari cara agar sikap Maira sesuai dengan
keinginannya.
“Perjanjian seperti apa, to Bu? Kok aneh-aneh
saja Ibu ini,” Renza mulai menampakkan sikap kurang sepaham dengan ibunya.
“Iya. Jangan sampai istrimu nanti menguasai
uangmu. Sebagai laki-laki, kamu harus bisa mengendalikan istri. Mengatur
keuangan, rencana ke depan, itu harus menjadi bagian dari tanggung jawabmu
sebagai suami. Kalau tidak begitu, bisa-bisa kamu gigit jari. Uangmu akan habis
dipake modal usahanya ini.”
Suara Bu Retno semakin penuh tekanan.
“Apa ayah juga seperti itu, Bu? Mengatur
keuangan hingga urusan tetek bengek sampai sekecil-kecilnya?”
Bu Retno tidak segera menjawab. Wanita paruh
baya itu tahu betul. Sejak menikah, suaminya selalu setor gaji seutuhnya. Dia
tidak mengizinkan sedikit pun uang tersisa di saku suaminya. Beruntung Pak
Herwan masih menerima ceperan dari kantornya meski tak seberapa. Uang itulah
yang jadi pegangannya.
Renza maklum kalau ibunya tidak bisa menjawab.
Selaku anak sulung, sesekali dia suka mendengar ayahnya yang curhat atas
perlakuan ibunya. Justru ayahnyalah yang suka mengingatkan agar dia mencari
istri yang hormat pada suami. Saling menyayangi tetapi jangan sampai
mendominasi atau menguasai.
“Dibanding dengan penghasilan Maira, gaji saya
itu tidak seberapa, Bu. Baiknya Ibu jangan khawatir berlebihan. Jangan-jangan
nanti Ibu malah sakit mikirin yang enggak-enggak.”
“Hem… benarkah begitu? Ingat, meski nanti kamu
sudah menikah, Aldi dan Hera tetap tanggung jawabmu. Mereka harus sampai jadi
sarjana agar mereka punya harga diri. Kautahu, pensiun ayahmu hanya cukup buat
makan. Untung saja berobatnya bisa pake BPJS.”
Pikiran Bu Retno semakin melebar ke mana-mana.
“Kalau nanti jadi menikah dengan Maira, kamu
berhak atas pengelolaan keuangan perusahaan ini. Biar manajemen keuangannya
bener, biar istrimu enggak boros. Biar bisa membiayai adik-adikmu.”
Akhirnya terkuak juga maksud lain di balik
persetujuan anaknya berjodoh dengan Maira.
“Ya, tidak begitu, Bu. Bukankah dalam agama
juga disampaikan, bahwa harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi
harta bersama. Sedangkan harta bawaan suami atau isteri, itu milik masing-masing
sepanjang tidak ada kesepakatan lain di antara keduanya,” papar Renza agak
panjang.
Renza jadi tak enak hati mengetahui ibunya
ingin memanfaatkan harta Maira. Apalagi dia tahu, ibunya akan melakukan apa pun
demi tercapai keinginannya. Sungguh sikap yang sering menyengsarakan ayahnya.
“Makanya! Kalau bisa, carilah gadis yang
sepadan. Wanita dengan pendidikan sarjana ‘kan bisa diajak berunding dengan
logika yang bener. Masa di kantormu tidak ada karyawan yang masih gadis?”
“Ya Allah, Bu. Ituuu… lagi yang jadi bahan
pembicaraan. Udah, yuk! Habiskan dulu makan dan minumnya. Sayang kalau tidak
dimakan. Hidangan itu enak banget lho, Bu. Jadi makanan favorit yang banyak
dicari pelanggan.”
Bu Retno tidak menjawab. Diikutinya saran Renza
untuk menikmati hidangan.
Sejenak Renza bisa menarik napas lega. Tak ada
lagi suara ibunya yang memintanya mencari istri seorang sarjana.
Sedang asyik menikmati hidangan, seseorang
berbicara melalui pelantang.
“Cek. Cek sound. Dijajal. Dijajal. Siap buat
pertunjukan nanti malam.”
Suara merdu seorang lelaki mengalunkan lagu
syahdu sore itu. Mengisi waktu dan mencoba peralatan.
Dengan senyum semringah, Maira menghampiri meja
Bu Retno.
**
Mohon krisannya
Terima kasih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar