Minggu, 13 Februari 2022

Meretas Jejaring Kasih (7)

 7.    Tamu Penting

Sejenak mata indah Maira menatap Bu Retno. Sambil mencari jawaban yang tepat, Maira memperbaiki letak duduknya. Kedua sikutnya tersandar di tangan kursi. Sementara musik nan lembut mengalun mengisii ruang yang cukup luas itu.

Sebelum Maira menyampaikan isi hatinya, tetiba keseriusan mereka terjeda sejenak oleh kehadiran Renza. Lelaki itu datang dengan seragam kantor yang masih membungkus tubuhnya.

“Selamat sore semua. Bagaimana hari ini? Pengunjung mulai ramai, ya?”

Renza mengedarkan pandang pada sekitarnya. Semilir angin terasa sejuk menerobos masuk dari area sebelah utara. Bagian sisi itu hanya berbatas setengah dinding. Di sampingnya tumbuh pepohonan rindang. Daun-daunnya seperti tengah menari tertiup angin. Tarian yang mengantarkan keriangan pada sekitarnya.

“Kamu udah benar-benar pulang ngantor?”

Nada suara Bu Retno menyiratkan kebanggaan atas keberhasilan anaknya menjadi karyawan BUMN.

“Iya, Bu. Udah pulang,” jawab Renza.

“Enggak ada lembur?” lanjut Bu Retno.

“Ya, enggak, Bu. Kalau enggak sedang maintenance ya jarang-jarang ada kerja lembur.”

Renza mengambil tempat duduk di samping ibunya. Sebenarnya dia ingin duduk di kursi dekat Maira. Namun, Renza mafhum, kadang-kadang ibunya suka menampakkan air muka yang kurang enak dipandang jika Renza terlihat dekat dengan Maira. Apalagi jika merasa kalah perhatian dibandingkan dengan perhatian Renza untuk Maira.

“Emang siapa yang lagi mantenan? Masa kamu ikut lembur buat masalah gituan. Biasakan hanya mengerjakan urusan kantor. Jangan mau disuruh ini itu untuk urusan pribadi. Apalagi kalau bukan bidang pekerjaanmu.”

Bu Retno seperti paling tahu mengenai pekerjaan anaknya. Alih-alih hendak menunjukkan pemahaman lebih pada karier anaknya, malah membuat Maira dan Renza tersenyum simpul. Keduanya hanya diam tak menanggapi pernyataan Bu Retno.

Sedang suasana hening, Elis datang menghampiri. Gadis itu mengemban tugas bagian humas. Meskipun demikian, semua karyawan akan turun melayani pelanggan jika kondisi ramai pengunjung.

“Maaf, mengganggu, Bu,” katanya sambil mengangguk sopan pada Bu Retno.

“Teh, tamu istimewa kita sudah tiba. Beliau ingin berjumpa dengan Teteh. Katanya ada yang perlu disampaikan mengenai acara untuk malam nanti,” lanjutnya.

“Oh begitu. Syukurlah bintang tamunya sudah datang sebelum acara,” ujar Maira.

“Maaf, Bu, Mas Renza, saya permisi sebentar. Nanti karyawan saya akan menyampaikan hidangan buat Ibu,” kata Maira dengan sopan.

“Jangan sungkan, May. Kembalilah kerja. Apalagi itu tamu penting,” jawab Renza. Dia memaklumi pekerjaan Maira. Apalagi mengetahui ada acara istimewa pada akhir pekan.

Maira meninggalkan meja Bu Retno diiringi Elis, karyawannya.

“Apa? Ada tamu penting, katamu? Memangnya ibumu ini bukan tamu penting? Jauh-jauh datang dari Tawangmangu, sudah tiba di sini kalah penting sama tamu lain? Calon mantu macam apa? Yaah… begitulah kalau pendidikannya hanya setara SMA.”

Bu Retno merasa tersinggung oleh perlakuan Maira, juga oleh sikap Renza.

“Bukan begitu, Bu. Ibu ‘kan sudah berbincang dengan Maira. Tentu saja May tidak punya waktu banyak untuk duduk-duduk menemani kita. Lihat saja, pengunjung terus berdatangan. Di lantai ini, di atas juga, tuh lihat, mejanya sudah terisi semua. Tolong jangan tersinggung ya, Bu.”

Dengan sabar Renza mencoba memberi pengertian pada ibunya.

“Nanti, kalau sudah berumah tangga, kalian juga bakal tetap seperti ini? Kelihatannya aja hidup bersama, tapi sibuk sendiri-sendiri.” Bu Retno masih merajuk.

“Ya, enggaklah. Nanti pasti bisa menyesuaikan,” jawab Renza sambil melirik pada ibunya. Pandangan ibunya masih menyiratkan kemarahan meski mulutnya tak menyemburkan omelan.

“Tadi Ibu bilang, nanti udah berumah tangga bagaimana? Jadi… apakah itu artinya… Ibu menyetujui hubungan kami?” tanya Renza dengan mata penuh harap.

“Emang ibu bilang gitu? Ah, salah denger, kali! Kalaupun mau dilanjut, tentu harus ada semacam perjanjian.”

Jemari Bu Retno mengetuk-ngetuk meja seiring dengan pikirannya. Dia hendak mencari cara agar sikap Maira sesuai dengan keinginannya.

“Perjanjian seperti apa, to Bu? Kok aneh-aneh saja Ibu ini,” Renza mulai menampakkan sikap kurang sepaham dengan ibunya.

“Iya. Jangan sampai istrimu nanti menguasai uangmu. Sebagai laki-laki, kamu harus bisa mengendalikan istri. Mengatur keuangan, rencana ke depan, itu harus menjadi bagian dari tanggung jawabmu sebagai suami. Kalau tidak begitu, bisa-bisa kamu gigit jari. Uangmu akan habis dipake modal usahanya ini.”

Suara Bu Retno semakin penuh tekanan.

“Apa ayah juga seperti itu, Bu? Mengatur keuangan hingga urusan tetek bengek sampai sekecil-kecilnya?”

Bu Retno tidak segera menjawab. Wanita paruh baya itu tahu betul. Sejak menikah, suaminya selalu setor gaji seutuhnya. Dia tidak mengizinkan sedikit pun uang tersisa di saku suaminya. Beruntung Pak Herwan masih menerima ceperan dari kantornya meski tak seberapa. Uang itulah yang jadi pegangannya.

Renza maklum kalau ibunya tidak bisa menjawab. Selaku anak sulung, sesekali dia suka mendengar ayahnya yang curhat atas perlakuan ibunya. Justru ayahnyalah yang suka mengingatkan agar dia mencari istri yang hormat pada suami. Saling menyayangi tetapi jangan sampai mendominasi atau menguasai.

“Dibanding dengan penghasilan Maira, gaji saya itu tidak seberapa, Bu. Baiknya Ibu jangan khawatir berlebihan. Jangan-jangan nanti Ibu malah sakit mikirin yang enggak-enggak.”

“Hem… benarkah begitu? Ingat, meski nanti kamu sudah menikah, Aldi dan Hera tetap tanggung jawabmu. Mereka harus sampai jadi sarjana agar mereka punya harga diri. Kautahu, pensiun ayahmu hanya cukup buat makan. Untung saja berobatnya bisa pake BPJS.”

Pikiran Bu Retno semakin melebar ke mana-mana.

“Kalau nanti jadi menikah dengan Maira, kamu berhak atas pengelolaan keuangan perusahaan ini. Biar manajemen keuangannya bener, biar istrimu enggak boros. Biar bisa membiayai adik-adikmu.”

Akhirnya terkuak juga maksud lain di balik persetujuan anaknya berjodoh dengan Maira.

“Ya, tidak begitu, Bu. Bukankah dalam agama juga disampaikan, bahwa harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama. Sedangkan harta bawaan suami atau isteri, itu milik masing-masing sepanjang tidak ada kesepakatan lain di antara keduanya,” papar Renza agak panjang.

Renza jadi tak enak hati mengetahui ibunya ingin memanfaatkan harta Maira. Apalagi dia tahu, ibunya akan melakukan apa pun demi tercapai keinginannya. Sungguh sikap yang sering menyengsarakan ayahnya.

“Makanya! Kalau bisa, carilah gadis yang sepadan. Wanita dengan pendidikan sarjana ‘kan bisa diajak berunding dengan logika yang bener. Masa di kantormu tidak ada karyawan yang masih gadis?”

“Ya Allah, Bu. Ituuu… lagi yang jadi bahan pembicaraan. Udah, yuk! Habiskan dulu makan dan minumnya. Sayang kalau tidak dimakan. Hidangan itu enak banget lho, Bu. Jadi makanan favorit yang banyak dicari pelanggan.”

Bu Retno tidak menjawab. Diikutinya saran Renza untuk menikmati hidangan.

Sejenak Renza bisa menarik napas lega. Tak ada lagi suara ibunya yang memintanya mencari istri seorang sarjana.

Sedang asyik menikmati hidangan, seseorang berbicara melalui pelantang.

“Cek. Cek sound. Dijajal. Dijajal. Siap buat pertunjukan nanti malam.”

Suara merdu seorang lelaki mengalunkan lagu syahdu sore itu. Mengisi waktu dan mencoba peralatan.

Dengan senyum semringah, Maira menghampiri meja Bu Retno.

**

 

 

Mohon krisannya

Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar