MEMAHAMI KRITIK SOSIAL DALAM TEKS EKSPOSISI
DENGAN MODEL DISCOVERY LEARNING
Oleh: Teti Taryani
Memahami isi dan struktur teks
eksposisi merupakan hal penting dan mendasar bagi siswa di kelas X. Dari
pemahaman yang benar akan terbentuk pemikiran yang terstruktur hingga mampu
menghasilkan teks eksposisi yang sesuai dengan kaidah isi dan struktur.
Pemahaman yang benar terhadap teks eksposisi ini juga akan memberi kemudahan
pada siswa dalam menyampaikan tanggapan atau ulasan sekaitan dengan isi teks.
Kemampuan membaca dan memahami
teks eksposisi ini perlu dilatihkan dengan berbagai cara. Sarana pendukung
berupa teks tertulis atau audio visual dapat digunakan untuk membantu
memusatkan perhatian siswa. Dari bahan tayang dan teks tertulis diharapkan
siswa mendapatkan atau menyimpulkan inti permasalahan. Dengan cara ini,
diharapkan dapat mengembangkan potensi dan kemampuan peserta didik secara
optimal.
Teks
eksposisi adalah teks yang memaparkan informasi untuk menambah
pengetahuan pembaca. Informasi yang disampaikan cenderung singkat, padat, dan
akurat. Secara umum, teks eksposisi digunakan untuk menyampaikan
pendapat atau gagasan secara rinci.
Menurut Keraf (1995: 7)
eksposisi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menguraikan objek sehingga memperluas
pandangan atau pengetahuan pembaca. Eksposisi adalah bentuk wacana yang tujuan
utamanya adalah memberitahukan dan memberi informasi mengenai suatu objek
tertentu.
Menurut Alwasilah (2005: 111),
eksposisi adalah tulisan yang tujuan utamanya mengklarifikasi, menjelaskan,
mendidik, atau mengevaluasi sebuah persoalan. Penulis berniat untuk memberi
informasi atau memberi petunjuk kepada pembaca.
Walaupun sedikit berbeda,
kedua ahli tersebut memiliki kesamaan pandangan yang terletak pada tujuan
penulisan eksposisi.
Untuk membantu memudahkan
perserta didik, diperlukan model pembelajaran yang mudah diterapkan dan dapat
digunakan dengan efektif. Dalam hal ini, model pembelajaran Discovery
Learning diharapkan mampu membantu pemahaman siswa secara menyeluruh.
Discovery Learning merupakan
pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan
konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Dalam
menemukan konsep, siswa melakukan pengamatan, menggolongkan, membuat dugaan,
menjelaskan, menarik kesimpulan dan sebagainya untuk menemukan beberapa konsep
atau prinsip.
Menurut Robet yang dikutip Abu
Ahmadi (1997: 76), bila “Discovery merupakan tahapan mental yang
mana peserta didik mengasimilasi prinsip serta konsep”, sehingga seorang
peserta didik bisa dikatakan melakukan discovery jika peserta
didik memakai proses mentalnya untuk menemukan konsep-konsep atau
prinsip-prinsip. Dalam menemukan konsep tersebut peserta didik melakukan
tahapan antara lain melihat, mengelompokkan, menduga, menjelaskan, membuat kesimpulan
dan lainnya.
Roestiyah (2012:21) menyatakan
bahwa model Discovery Learning memiliki keunggulan yakni: (1) mengasah
kognitif siswa, (2) pengetahuan yang telah dipelajari peserta didik bertahan
lama, (3) semangat belajar peserta didik akan meningkat, (4) mengembangkan diri
peserta didik, (5) motivasi peserta didik meningkat, (6) kepercayaan diri
peserta didik meningkat, (7) merupakan model pembelajaran yang berfokus pada
peserta didik.
Berdasarkan pendapat kedua
tokoh pendidikan tersebut, model pembelajaran Discovery Learning ini
dipandang tepat digunakan dalam pembelajaran teks eksposisi.
Pembelajaran teks eksposisi
yang berisi kritik sosial ini dilaksanakan selama enam tahap. Setiap tahap
dilakukan dalam durasi dua jam pelajaran. Dengan demikian, pelaksanaan sampai
tuntas dilakukan selama dua belas jam pelajaran tatap muka atau selama tiga
pekan.
Tahap pertama,
setelah berkelompok sejumlah empat orang, peserta didik menyaksikan tayangan
video berdurasi lima menit. Video itu berisi pendidikan di Indonesia pada zaman
kolonial Belanda. Disampaikan dalam video tentang kondisi pendidikan, murid
yang boleh mengenyam pendidikan, mata pelajaran yang diajarkan, serta tujuan
menyekolahkan siswa.
Setiap kelompok menyampaikan
secara singkat simpulan atau fakta penting pendidikan zaman kolonial yang
diperoleh dari tayangan tersebut. Selain simpulan, setiap kelompok juga diminta
menyampaikan tanggapan terhadap isi tayangan tersebut.
Tahap kedua,
peserta didik menyaksikan tayangan video berdurasi empat belas menit. Tayangan
itu berisi kajian terhadap filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang
disampaikan oleh Dr. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag. Di dalam paparan itu,
terdapat beberapa pernyataan yang memotivasi siswa. Dikemukakan pula, manfaat
pendidikan yang dapat memperindah diri, bangsa, dan alam semesta.
Setelah menyaksikan tayangan,
setiap kelompok bertugas menyampaikan pernyataan inspiratif paling berkesan
yang diperoleh dari paparan tersebut. Diminta pula agar peserta didik
menyampaikan motivasi yang diperoleh dari uraian tersebut yang bakal menjadi
pijakan dalam meraih cita-cita dan kehidupan yang lebih baik.
Tahap ketiga,
peserta didik membaca artikel berisi kritik sosial dari sumber media online
(Republika.co.id). Artikel itu menyampaikan aksi negatif yang dilakukan oleh
anak-anak muda milenial yang dikenal dengan ‘klitih’. Dalam artikel itu
disampaikan gejala yang terjadi sekaitan dengan aksi klitih, langkah
penanganan yang dilakukan, hingga solusi yang menyertakan tiga matra, yaitu:
keluarga, masyarakat, dan pemerintah.
Selanjutnya, setelah membaca
teks, peserta didik mendapat tugas menyampaikan simpulan tentang klitih.
Ditugaskan pula agar siswa menyampaikan kritik dan saran sekaitan dengan
perilaku remaja yang mengganggu ketenteraman masyarakat tersebut.
Tahap keempat,
peserta didik mencermati gambar berupa komik singkat berisi kritik sosial.
Gambar tersebut memperlihatkan gejala aktual dan faktual yang muncul di dalam
kehidupan masyarakat milenial ‘Yang Penting Keren’ serta
‘Dampak Perundungan’. Kedua masalah aktual ini merupakan fenomena
yang perlu dikritisi dan dicari solusi bijak untuk mengatasinya.
Tahap kelima,
peserta didik membaca dan menyimpulkan infografik berisi jenis profesi dan
keberhasilan generasi milenial yang memanfaatkan peluang kerja kekinian. Tidak
sedikit generasi milenial yang menjadi wirausahawan muda meski masih terdaftar
sebagai siswa sekolah menengah.
Sebagai contoh, peserta didik
SMKN 1 Tasikmalaya bernama Ghani Ajghian membuka Café Boom pada tahun 2021 dan
sukses meraih omzet Rp30 juta dalam sebulan. Dia menjadi pengusaha sukses
membawahi enam karyawan. Selain itu, ada pula yang sukses menjadi YouTuber,
selebgram, membuka startup atau menjadi peracik kopi barista.
Artinya, di tengah munculnya berbagai gejala sosial yang mengundang
kekhawatiran, tidak sedikit generasi muda yang berhasil memanfaatkan
perkembangan teknologi dan kemajuan zaman menjadi ladang untuk berwirausaha.
Tugas yang dilakukan siswa
setelah langkah kelima ini adalah menyampaikan optimisme agar menjadi pribadi
yang mandiri. Peserta didik harus pandai mencari peluang agar mampu menaklukkan
tantangan zaman dan sukses dalam meraih kehidupan yang lebih baik.
Tahap keenam,
peserta didik berdiskusi untuk melakukan penyelesaian tugas. Setiap kelompok
menyusun portofolio berdasarkan hasil diskusi dan kesepahaman yang diperoleh
dari proses pembelajaran.
Semua tugas yang dikerjakan
oleh kelompok peserta didik dari tahap kesatu sampai tahap kelima itu kemudian
diolah dan dikumpulkan menjadi tugas proyek. Hasil kajian, ulasan, kritik,
saran, dan optimisme itu dijadikan portofolio dalam bentuk file Pdf, salindia,
atau video. Sesuai kesepakatan bersama, portofolio itu dikumpulkan dua pekan
setelah pertemuan tahap keenam.
Aktivitas belajar memahami
teks eksposisi dengan model discovery learning ini terbukti dapat
meningkatkan antusiasme dan kemampuan peserta didik kelas X di SMK Negeri 1
Tasikmalaya dalam mengkaji dan menyampaikan pandangan sekaitan dengan kritik
sosial. Peserta didik mampu mengoptimalkan kerja sama antaranggota kelompok,
saling mendukung, hingga menghasilkan kajian, simpulan, dan tanggapan sesuai
dengan yang diharapkan. Hal ini sejalan dengan Capaian Pembelajaran tahap E.
Melalui kegiatan belajar yang
berkesinambungan dalam enam tahap pembelajaran ini, tujuan pembelajaran dapat
tercapai tanpa hambatan yang berarti. Hasil belajar siswa lebih baik daripada
sebelumnya dan proses pembelajaran Bahasa Indonesia berlangsung dengan situasi
yang menyenangkan.
Daftar Pustaka
Ahmadi,
Abu dan Joko Tri Prasetyo, 1997. Strategi Belajar dan Mengajar. Bandung:
Pustaka Setia.
Alwasilah,
A. Chaedar dan Senny Suzanna Alwasilah. (2007). Pokoknya Menulis: Cara Baru
Menulis dengan Metode Kolaborasi. Bandung: Kiblat Buku Utama.
Aulia,
Fadillah Tri dan Sefi Indah Gumilar. 2021. Cerdas Cergas Berbahasa dan
Bersastra Indonesia untuk SMA/SMK Kelas X. Jakarta: Pusat Kurikulum dan
Perbukuan Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kementerian
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Cahyo,
Agus N. 2013. Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar Teraktual dan Terpopuler.
Jakarta: Diva Press.
Keraf,
Gorys. 1995. Eksposisi dan Deskripsi. Ende: Nusa Indah.
Roestiyah.
2012. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Sanjaya,
W. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.
https://www.youtube.com/watch?v=Zw6DrK8jkAQ, diunduh 7 Januari 2022.
https://youtu.be/Bv3Xq98nqb0 diunduh 7 Januari
2022.
https://www.kajianpendidikan.com/2016/01/pengertian-teks-eksposisi-menurut-ahli.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar