Seorang anak kecil berusia tujuh tahunan memasuki ruang sanggar tari Wijayatri. Ayunan langkahnya tak menampakkan keraguan sedikit pun. Ia masuk ruangan setelah sebelumnya menyampaikan salam santun. Di belakangnya, Nadya, ibu anak itu mengikuti sambil mengatur jarak.
“Good afternoon. Boleh masuk, Miss?”
Alya yang menjadi guru tari di ruangan itu tersenyum manis. Betapa tidak, calon anggota barunya, gadis kecil yang mengenakan baju bermotif bunga-bunga ini terlihat begitu smart. Penuh percaya diri. Gadis kecil ini berkulit hitam dengan bibir yang selalu menyunggingkan senyum.
“Oh, silakan masuk, Sayang,” sambut Alya sambil tersenyum lalu mengangguk ramah pada Nadya. Sebelumnya, Nadya pernah datang saat mendaftarkan anaknya ke sanggar tari.
“Bunda ikut masuk?” tanya Nadya pada gadis kecil itu. Rupanya dia sedang menguji keberanian putrinya.
“Gak usah, Bun. Aku berani kok. Kelihatannya teman-teman baruku juga baik,” jawabnya membuat Alya terperangah.
Bagus betul jawaban anak itu. Positive thinking. Penuh percaya diri. Alya mencatat ‘sesuatu’ yang istimewa dimiliki anak ini.
“Iya, Bunda tahu. Anak bunda pasti berani,” kata Nadya sambil berjongkok menghadap anaknya. “Ayo, selamat bersenang-senang, anak bunda yang paling cantik!”
“Iya, betul. Anak pintar!” Alya menggandeng anak itu. “Siapa namamu?”
“My name is Erlinda. Miss bisa panggil aku ‘Er’,” jawabnya mantap.
“Saya Alya. Er bisa panggil saya Bu Alya.”
Keduanya berjabat tangan.
“Eh, aku boleh panggil ‘Miss’? tanya Erlinda.
“Boleh saja kalau itu lebih enak buat Er,” jawab Alya.
“Hei, kamu anak baru, ya? Kenalan dong.”
Anak-anak yang sudah berada di ruangan menghampiri Erlinda. Mereka saling berkenalan. Beberapa diantaranya saling berbisik dan tertawa pelan. Yang tidak tahan dengan mulut usilnya, langsung menyampaikan komentar.
“Kulit kamu kok item banget. Lagian hidung kamu lucu, deh.”
Gelak tawa pun tak terhindarkan. Alya menghampiri mereka. Khawatir Er tersinggung. Bisa berabe jika hari pertama sudah merasa tidak nyaman. Pasti selanjutnya mogok latihan.
“Gapapa. Kulit aku memang item. ‘Kan papaku dari Ambon,” jawabnya kembali mengagetkan Alya. Kok bisa setenang itu, ya?
“Hidungmu juga karena papamu dari Ambon?” Anak-anak kembali cekikikan.
“Hidungku pesek? Gapapa. Yang penting, I am happy. I love myself.”
Alya tahu dari cerita Nadya, kalau Erlinda sering dibully teman-temannya gegara warna kulit dan hidungnya. Walaupun kata Nadya, tak perlu khawatir tentang hal itu, Alya sungguh terkaget-kaget. Apalagi anak-anak binaannya. Semua sudah mengira Erlinda akan marah, menangis, atau mengajak pulang.
Suasana di ruangan Sanggar Tari Wijayatri jadi hening dan membisu. Sungguh di luar perkiraan. Erlinda begitu tenang. Sangat tenang.
“Kapan latihannya, Miss?” Erlinda memecah keheningan.
“Oh, iya. Ayo kita mulai!”
Alya memberi aba-aba penempatan barisan dengan tepukan tangan. Semua anak berbaris rapi dengan sampur yang dililit di pinggang.
Pandangan Alya tak henti pada Erlinda. Kekagumannya pada anak itu tak bisa disembunyikan. Anak sekecil itu sudah memiliki inner beauty yang memancar dalam setiap kata dan sikap tubuhnya. Benar seperti kata bundanya, Alya tidak perlu cemas jika teman-teman baru Erlinda bersikap nyinyir dan usil.
Gerakan tari Erlinda terlihat masih kaku. Pada beberapa bagian, Alya sering membantunya untuk memperbaiki gerakan tangan dan tubuhnya.
“Erlinda, kamu belum pernah masuk sanggar tari?” tanya Siska.
Erlinda menggeleng sambil berusaha menahan keseimbangan tubuhnya dengan kaki berjinjit sambil lutut menekuk dan tangan mengembang menjepit selendang. Tawanya amat riang.
“Pantesan. Kamu kaku banget,” lanjut Siska.
“Gapapa. Nanti juga aku pasti bisa. Yang penting I’m happy,” jawabnya sambil meletakkan telapak tangan pada kedua sisi pipinya. Kepalanya miring ke kanan lalu ke kiri. Senyum manis selalu lekat di wajahnya.
Siska yang memang sering usil pada anggota baru terdiam dan mengangkat bahu. Mungkin dalam hatinya kesal juga karena tak berhasil membuat Erlinda marah, tersinggung, atau menangis.
Saat istirahat, semua anak membuka bekalnya masing-masing. Mereka duduk melingkar dan saling mencicipi bekal yang dibawa. Sementara itu, tidak seorang pun yang menawari Erlinda.
Tanpa rasa ragu, Erlinda menoleh ke samping sambil menyorongkan wadah bekalnya pada gadis berkulit putih yang duduk paling dekat dengannya.
“Namanya siapa?” tanya Erlinda.
“Violita,” jawabnya pendek.
“Ambillah. Kamu pasti suka,” katanya sambil tersenyum. “Kue buatan bundaku enak, lho!”
Violita kelihatan ragu. Pandangannya menyapu berkeliling seolah-olah hendak meminta pertimbangan teman-temannya.
“Jangan, Vio. Nanti kamu ketularan itemnya,” kata Siska.
Mereka tertawa. Sebagian menyembunyikan tawanya dalam tangan yang ditangkupkan di mulutnya.
“Jangan takut. Bundaku yang bikin kue ini kulitnya putih. Cantik, lagi!”
Erlinda menoleh ke luar.
“Tuh, yang pake baju biru.”
“Oh, bundamu putih? Kok kamu gak ketularan putihnya?” Alyssa turut bertanya.
“Emang semua orang harus putih?” sahut Erlinda.
“Tapi kan, kalau item itu, gimanaa… gitu!” lanjut Alyssa.
“Gapapa dong, item juga. Yang penting I am happy. I love myself.” Erlinda tertawa renyah. Tak sedikit pun ia menunjukkan rasa sedih atau tersinggung.
Alya sudah bersiap dengan rangkaian kata yang akan membela Erlinda dari keusilan teman-teman barunya. Namun ketenangan anak itu membuatnya benar-benar kehilangan kata. Sungguh tidak habis pikir, bagaimana mungkin anak sekecil itu bisa begitu enjoy di tengah situasi asem kecut yang mengelilinginya?
“Ayo, ambil. Enak lho!” Erlinda kembali menyorongkan wadah bekal makanannya.
Beberapa teman di kiri kanannya mulai mencicipi kue bekal Erlinda.
“Wah, enak banget! Kalau latihan lagi, bawa yang banyak, ya, Er!”
“Oke. Nanti aku bilang pada bunda.”
“Wah, asyiiik,”
“Mau, dong!”
“Aku juga mau!”
Anak-anak di ruang sanggar tari jadi begitu ceria dan menyenangkan. Tak ada lagi sikap yang membuat suasana panas. Erlinda, gadis kecil berkulit hitam itulah yang jadi peneduhnya.
“Gimana latihan hari ini?” tanya Nadya sambil menyeka keringat di dahi anaknya.
“Seneng banget, Bun!” Erlinda berteriak saking senangnya.
“Gimana teman-temanmu?”
“Mereka baik, Bun! Mereka teman yang hebat! I love my friends.”
“Ada yang usil?” tanya bundanya lagi.
“Enggak, kok. Mereka malah seneng kue bikinan Bunda,”
“Kalau begitu, nanti bunda bikin yang banyak buat temen-temen di sanggar.”
“Asyiiik…,” Erlinda melonjak kegirangan. “I love you, Bunda!”
“Good. I love you too, sweatheart,” Nadya memeluk buah hatinya.
Alya tertegun. Erlinda memang anak hebat. Dia benar-benar lahir dari ibu yang hebat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar