Minggu, 13 Februari 2022

Meretas Jejaring Kasih (8)

 8.    Bagai Kayu Lapuk

“Bagaimana, Bu, apakah mau ikut menyaksikan live musik akhir pekan? Bintang tamunya keren, lho. Duet maut Diar dan Widya. Mereka idola semua kalangan,” sapa Maira pada Bu Retno.

Cahaya lampu di ambang petang menyentuh lembut senyum Maira yang selalu terpancar. Sentuhan senja membuat kecantikan Maira semakin berpijar. Senyumnya serupa multivitamin bagi karyawan dan pelanggannya.

Bu Retno segera mengelap sudut bibirnya yang terkena bumbu makanan. Ditatapnya bola mata Maira dengan setajam pandang yang dia bisa.

“Kamu belum menjawab pertanyaan saya, Maira. Belajarlah menghargai orang tua. Apalagi pertanyaan itu berkaitan dengan masalah penting.”

Suara Bu Retno diatur sedemikian rupa agar terdengar penuh karisma.

Senyum yang mengembang di wajah Maira kembali surut. Rasa tidak nyaman terlihat dari tatap matanya yang meredup. Namun itu hanya sebentar. Segaris senyum kembali tergambar pada bibir ranumnya.

“Maaf tentang itu, Bu. Mohon pengertiannya kalau agak tertunda. Lagi pula mungkin kurang tepat jika masalah penting semacam itu dibahas dalam suasana ramai seperti sekarang ini.”

Maira mencoba meminta pengertian Bu Retno.

“Oh, jadi ibu memang kurang bijak, ya? Ibu yang kurang pandai menyesuaikan dengan tempat dan suasana, ya?”

Nada suara Bu Retno semakin tak enak didengar.

“Baiklah kalau itu yang Ibu inginkan. Bagi saya, pernikahan merupakan peristiwa sakral. Pernikahan hanya sekali sampai kelak kami harus berpulang memenuhi panggilan-Nya. Saya hanya mau menikah jika mendapat restu yang tulus dari orang tua kedua belah pihak. Jangan sampai ada keterpaksaan agar membawa berkah dalam berumah tangga,” tutur Maira dengan bijak.

“Sudahlah, enggak usah berpanjang-panjang. Ibu paham betul apa yang kamu katakan. Sekarang ibu ulangi pertamyaannya. Kamu masih mau melanjutkan hubungan dengan Renza?” Bu Retno semakin mendesak.

Wanita paruh baya itu menanti kemenangan yang sudah membentang di pelupuk matanya. Dia akan punya tugas baru, memantau segala kegiatan Maira, mengatur penggunaan keuangan, hingga mengambil kebijakan penting.

“Sebaiknya untuk saat ini, saya dengan Mas Renza harus mengambil jarak dulu, Bu. Sama-sama bijak menghadapi keputusan apa pun nanti yang akan kami ambil setelah memikirkannya matang-matang.”

Maira menyampaikannya dengan tenang, tidak larut dalam emosi.

“A… apa, May? Kita harus mengambil jarak dulu?”

Renza terkejut bukn kepalang. Dia tak menyangka jawaban Maira akan seperti itu. Belum apa-apa hatinya sudah kebat-kebit. Waswas dengan akhir cerita yang bakal terjadi antara dirinya dengan gadis yang berhasil membuatnya move on dari keterpurukannya setelah ditinggal kawin oleh gadis cinta pertamanya.

“Benar, Mas. Kita harus menata ulang niat kita. Juga menakar banyaknya manfaat dan madarat dari langkah yang akan kita ambil. Aku ingin menjalani pernikahan yang penuh berkah,” jawab Maira setenang permukaan air laut tanpa embusan angin.

Bu Retno sama terperanjatnya dengan Renza.

“Berani sekali, kamu Maira. Jangan-jangan kamu nanti yang akan menyesal,” ancam Bu Retno.      

“Kita lihat saja nanti ya, Bu. Waktu akan membantu membuktikannya.” jawab Maira membuat paras Bu Retno semakin gelap membiru.

“Baiklah kalau begitu. Silakan duduk dengan nyaman untuk menyaksikan acara selanjutnya. Atau jika ingin salat dulu, silakan ada musala di sebelah timur,” lanjut Maira tanpa terpengaruh oleh sikap sang tamu.

“Kita pulang saja. Tak ada gunanya kita tetap di sini.”

Bu Retno mulai lagi dengan penyakitnya. Mudah tersulut emosi.

Renza yang tengah duduk sambil menekur mencoba meyakinkan diri bahwa apa yang sedang terjadi saat ini bukanlah mimpi. Lelaki itu tidak siap jika harus kehilangan Maira. Gadis itu tahu betul yang penyebab sikapnya kurang bersahabat dan selalu curiga pada wanita yang mendekatinya. Hanya karenanya, Renza mampu bangkit dan bisa menatap hidup dengan penuh harapan.

Mairalah yang membuat Renza kembali percaya akan kesempatan kedua. Pikirannya tak melulu pada rasa sakit hati karena ditinggal gadis cinta pertamanya. Kebahagiaan kini rasanya sudah di depan mata. Hanya tinggal memetik dan menikmatinya sebagai anugerah tak terhingga.

Sikap Bu Retno yang terlalu berlebihan menyebabkan hubungan keduanya seperti berjalan di atas kerikil panas. Meski sebenarnya Renza ingin berontak, di hadapan ibunya apalah daya. Wanita kuat itu tak suka dibantah. Jalan terbaik untuk menyurutkan kemarahannya adalah dengan menuruti kemauannya. Renza berpikir, pada saat yang tepat akan memberi pengertian bahwa dirinya sangat mencintai Maira. Dia tak ingin ibunya menjadi penghalang kebahagiaannya.

Renza semakin rajin menjadi pengunjung setia Café Joss. Tak lagi hanya di waktu sore. Kadang-kadang siang, berkali-kali menghabiskan malam hingga café tutup. Seringnya dia datang sendiri, sesekali bersama teman-temannya. Lelaki itu selalu memuaskan diri makan minum di tempat itu. Berharap bisa melihat senyum Maira dan bercengkrama dengannya meski sekejap.

Renza tidak lagi terpukau pada lukisan laut itu. Dimintanya pada Ilham agar memindahkan lukisan itu ke tempat yang lebih strategis. Ketertarikan atas kenangan yang tersimpan pada laut dan batu karang hilang tak berbekas. Kini dia lebih fokus melatih bola matanya agar mampu menangkap keberadaan Maira. Betapa rindunya pada gadis itu, pada semangat hidupnya, serta pada sikapnya yang selalu dewasa. Namun setiap kali dia berada di café, Maira tak pernah menampakkan diri.

 Betapa inginnya Renza berteriak memanggil Maira. Begini rasanya tersiksa merindui orang yang tak lagi bisa ditemui. Ingin sekali mengatakan, betapa sakitnya menanggung rindu sedang gadis yang dirindu tak ingin lagi bertemu. Lelaki itu tak yakin bahwa Maira benar-benar melakukan itu. Mendiamkannya, memutus kontak, hingga seperti menghilang ditelan bumi.

Sampai senja kesepuluh ini pun Renza tetap belum percaya kalau Maira benar-benar tak bisa ditemui. Untuk pertama kalinya, Renza menyadari bahwa dirinya memang sangat lemah. Mempertaruhkan kebahagiaan diri hanya karena tak mampu mengatakan ‘tidak’ pada ibunya. Membiarkan ibunya mengatakan hal-hal yang berpotensi menyakiti Maira hingga gadis itu tidak mau lagi bertemu dengannya.

Lelaki itu terpaksa harus merayakan sepi yang mulai mencengkram jiwanya. Bahagia canda tawa terbang bersama serpihan daun-daun menguning yang terseret angin. Terbang melayang tak tentu arah. Hanya jika ada belas kasihan sang bayu, barulah serpihan daun mati itu bisa mencapai bumi kembali. Menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi tanah sekitarnya. Beruntungnya daun kering! Sedang dirinya masih belum tahu bagaimana menjalani akhir cerita yang terasa sangat menakutkan ini.

Maira, apa kamu mulai membenciku ataukah hendak mempertimbangkan untuk kembali padaku? Tolong perlihatkan dirimu sekejap saja. Cukuplah sedikit mengobati hatiku yang tengah dilanda rindu. Aku sangat membutuhkanmu. Aku ingin bercerita bahwa sekarang teman-teman pun mulai mengasihaniku.

Mereka tahu bahwa aku tak bisa bertemu denganmu gegara kelemahanku. Sebagai lelaki seharusnya aku bisa mengambil sikap. Tak seharusnya aku patuh tunduk pada kehendak ibu. Aku tak membantah saat mereka bilang aku gila. Kautahu Maira? Aku gila sebab merindukanmu. Hari-hari terlewati tanpa makna sama sekali. Bahkan senja yang indah berlalu tanpa bisa kunikmati. Hanya rasa sedih yang menggerogoti hati.

Renza tak henti bermonolog menyuarakan jeritan hatinya.

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  

 

**

 

 

Mohon krisannya

Terima kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar