8. Bagai Kayu Lapuk
“Bagaimana, Bu, apakah mau ikut menyaksikan
live musik akhir pekan? Bintang tamunya keren, lho. Duet maut Diar dan Widya.
Mereka idola semua kalangan,” sapa Maira pada Bu Retno.
Cahaya lampu di ambang petang menyentuh lembut
senyum Maira yang selalu terpancar. Sentuhan senja membuat kecantikan Maira
semakin berpijar. Senyumnya serupa multivitamin bagi karyawan dan pelanggannya.
Bu Retno segera mengelap sudut bibirnya yang
terkena bumbu makanan. Ditatapnya bola mata Maira dengan setajam pandang yang
dia bisa.
“Kamu belum menjawab pertanyaan saya, Maira.
Belajarlah menghargai orang tua. Apalagi pertanyaan itu berkaitan dengan
masalah penting.”
Suara Bu Retno diatur sedemikian rupa agar
terdengar penuh karisma.
Senyum yang mengembang di wajah Maira kembali
surut. Rasa tidak nyaman terlihat dari tatap matanya yang meredup. Namun itu
hanya sebentar. Segaris senyum kembali tergambar pada bibir ranumnya.
“Maaf tentang itu, Bu. Mohon pengertiannya
kalau agak tertunda. Lagi pula mungkin kurang tepat jika masalah penting
semacam itu dibahas dalam suasana ramai seperti sekarang ini.”
Maira mencoba meminta pengertian Bu Retno.
“Oh, jadi ibu memang kurang bijak, ya? Ibu yang
kurang pandai menyesuaikan dengan tempat dan suasana, ya?”
Nada suara Bu Retno semakin tak enak didengar.
“Baiklah kalau itu yang Ibu inginkan. Bagi
saya, pernikahan merupakan peristiwa sakral. Pernikahan hanya sekali sampai
kelak kami harus berpulang memenuhi panggilan-Nya. Saya hanya mau menikah jika mendapat restu yang
tulus dari orang tua kedua belah pihak. Jangan sampai ada keterpaksaan agar
membawa berkah dalam berumah tangga,” tutur Maira dengan bijak.
“Sudahlah, enggak usah berpanjang-panjang. Ibu
paham betul apa yang kamu katakan. Sekarang ibu ulangi pertamyaannya. Kamu
masih mau melanjutkan hubungan dengan Renza?” Bu Retno semakin mendesak.
Wanita paruh baya itu menanti kemenangan yang
sudah membentang di pelupuk matanya. Dia akan punya tugas baru, memantau segala
kegiatan Maira, mengatur penggunaan keuangan, hingga mengambil kebijakan
penting.
“Sebaiknya untuk saat ini, saya dengan Mas
Renza harus mengambil jarak dulu, Bu. Sama-sama bijak menghadapi keputusan apa
pun nanti yang akan kami ambil setelah memikirkannya matang-matang.”
Maira menyampaikannya dengan tenang, tidak
larut dalam emosi.
“A… apa, May? Kita harus mengambil jarak dulu?”
Renza terkejut bukn kepalang. Dia tak menyangka
jawaban Maira akan seperti itu. Belum apa-apa hatinya sudah kebat-kebit. Waswas
dengan akhir cerita yang bakal terjadi antara dirinya dengan gadis yang
berhasil membuatnya move on dari keterpurukannya setelah ditinggal kawin oleh
gadis cinta pertamanya.
“Benar, Mas. Kita harus menata ulang niat kita.
Juga menakar banyaknya manfaat dan madarat dari langkah yang akan kita ambil. Aku
ingin menjalani pernikahan yang penuh berkah,” jawab Maira setenang permukaan
air laut tanpa embusan angin.
Bu Retno sama terperanjatnya dengan Renza.
“Berani sekali, kamu Maira. Jangan-jangan kamu
nanti yang akan menyesal,” ancam Bu Retno.
“Kita lihat saja nanti ya, Bu. Waktu akan
membantu membuktikannya.” jawab Maira membuat paras Bu Retno semakin gelap
membiru.
“Baiklah kalau begitu. Silakan duduk dengan
nyaman untuk menyaksikan acara selanjutnya. Atau jika ingin salat dulu, silakan
ada musala di sebelah timur,” lanjut Maira tanpa terpengaruh oleh sikap sang
tamu.
“Kita pulang saja. Tak ada gunanya kita tetap
di sini.”
Bu Retno mulai lagi dengan penyakitnya. Mudah
tersulut emosi.
Renza yang tengah duduk sambil menekur mencoba meyakinkan
diri bahwa apa yang sedang terjadi saat ini bukanlah mimpi. Lelaki itu tidak
siap jika harus kehilangan Maira. Gadis itu tahu betul yang penyebab sikapnya
kurang bersahabat dan selalu curiga pada wanita yang mendekatinya. Hanya
karenanya, Renza mampu bangkit dan bisa menatap hidup dengan penuh harapan.
Mairalah yang membuat Renza kembali percaya
akan kesempatan kedua. Pikirannya tak melulu pada rasa sakit hati karena
ditinggal gadis cinta pertamanya. Kebahagiaan kini rasanya sudah di depan mata.
Hanya tinggal memetik dan menikmatinya sebagai anugerah tak terhingga.
Sikap Bu Retno yang terlalu berlebihan
menyebabkan hubungan keduanya seperti berjalan di atas kerikil panas. Meski
sebenarnya Renza ingin berontak, di hadapan ibunya apalah daya. Wanita kuat itu
tak suka dibantah. Jalan terbaik untuk menyurutkan kemarahannya adalah dengan
menuruti kemauannya. Renza berpikir, pada saat yang tepat akan memberi
pengertian bahwa dirinya sangat mencintai Maira. Dia tak ingin ibunya menjadi
penghalang kebahagiaannya.
Renza semakin rajin menjadi pengunjung setia
Café Joss. Tak lagi hanya di waktu sore. Kadang-kadang siang, berkali-kali
menghabiskan malam hingga café tutup. Seringnya dia datang sendiri, sesekali
bersama teman-temannya. Lelaki itu selalu memuaskan diri makan minum di tempat
itu. Berharap bisa melihat senyum Maira dan bercengkrama dengannya meski
sekejap.
Renza tidak lagi terpukau pada lukisan laut itu.
Dimintanya pada Ilham agar memindahkan lukisan itu ke tempat yang lebih
strategis. Ketertarikan atas kenangan yang tersimpan pada laut dan batu karang
hilang tak berbekas. Kini dia lebih fokus melatih bola matanya agar mampu
menangkap keberadaan Maira. Betapa rindunya pada gadis itu, pada semangat
hidupnya, serta pada sikapnya yang selalu dewasa. Namun setiap kali dia berada
di café, Maira tak pernah menampakkan diri.
Betapa
inginnya Renza berteriak memanggil Maira. Begini rasanya tersiksa merindui
orang yang tak lagi bisa ditemui. Ingin sekali mengatakan, betapa sakitnya
menanggung rindu sedang gadis yang dirindu tak ingin lagi bertemu. Lelaki itu
tak yakin bahwa Maira benar-benar melakukan itu. Mendiamkannya, memutus kontak,
hingga seperti menghilang ditelan bumi.
Sampai senja kesepuluh ini pun Renza tetap
belum percaya kalau Maira benar-benar tak bisa ditemui. Untuk pertama kalinya, Renza
menyadari bahwa dirinya memang sangat lemah. Mempertaruhkan kebahagiaan diri hanya
karena tak mampu mengatakan ‘tidak’ pada ibunya. Membiarkan ibunya mengatakan
hal-hal yang berpotensi menyakiti Maira hingga gadis itu tidak mau lagi bertemu
dengannya.
Lelaki itu terpaksa harus merayakan sepi yang
mulai mencengkram jiwanya. Bahagia canda tawa terbang bersama serpihan
daun-daun menguning yang terseret angin. Terbang melayang tak tentu arah. Hanya
jika ada belas kasihan sang bayu, barulah serpihan daun mati itu bisa mencapai
bumi kembali. Menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi tanah sekitarnya.
Beruntungnya daun kering! Sedang dirinya masih belum tahu bagaimana menjalani
akhir cerita yang terasa sangat menakutkan ini.
Maira, apa kamu mulai membenciku ataukah hendak
mempertimbangkan untuk kembali padaku? Tolong perlihatkan dirimu sekejap saja.
Cukuplah sedikit mengobati hatiku yang tengah dilanda rindu. Aku sangat membutuhkanmu.
Aku ingin bercerita bahwa sekarang teman-teman pun mulai mengasihaniku.
Mereka tahu bahwa aku tak bisa bertemu denganmu
gegara kelemahanku. Sebagai lelaki seharusnya aku bisa mengambil sikap. Tak
seharusnya aku patuh tunduk pada kehendak ibu. Aku tak membantah saat mereka bilang
aku gila. Kautahu Maira? Aku gila sebab merindukanmu. Hari-hari terlewati tanpa
makna sama sekali. Bahkan senja yang indah berlalu tanpa bisa kunikmati. Hanya
rasa sedih yang menggerogoti hati.
Renza tak henti bermonolog menyuarakan jeritan hatinya.
**
Mohon krisannya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar