Kuselipkan tulisan pada kertas kecil berisi deretan angka yang belum tiga menit kuterima. Entah keberapa kali aku menerima nomor kontak baru yang tetiba muncul di balik pintu. Sesekali kutemukan di dalam wadah sabun mandi atau di kaki kursi. Aku tahu seseorang telah meletakkannya tanpa setahuku. Juga tanpa setahu Ahsan dan Fauzan, kedua anakku.
Beberapa kali yang kutemukan tidak hanya nomor kontak, tetapi disertai bungkusan berisi uang. Aku tahu harus bersegera untuk menyimpan dan mengamankannya. Sebagaimana pesan Mas Rizwan, uang itu harus dihemat dan digunakan untuk membiayai pendidikan mereka. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, makan minum sederhana, cukup kupenuhi dari hasil berjualan.
Aku membuat makanan goreng-gorengan yang kujual di selasar teras depan rumah. Tempat yang tidak terlalu luas itu kugunakan untuk menopang hidup kami. Tak pernah sampai lewat zuhur, makanan yang kugoreng dan kujajakan sering habis terjual. Kalaupun ada sisa, paling hanya beberapa keping, pasti kuberikan pada anak-anak yang lewat.
Sebenarnya aku takut dengan pikiranku sendiri. Mas Rizwan tak pernah membicarakan apa yang dikerjakannya atau siapa yang membuatnya merasa terancam. Dia menghilang dan muncul secara rahasia. Tempat tinggalnya pun aku tidak tahu di mana. Dia tidak ingin berjumpa dengan siapa pun. Tidak juga dengan kami, keluarganya.
Kulihat jam dinding. Waktu menunjukkan saatnya salat zuhur. Sebelum mengambil air wudu, kulihat lagi catatan kecil yang tadi kusimpan. Kumasukkan nomor dan kucermati isyarat waktu. Tak sabar rasanya menanti saat jelang magrib seperti yang dijanjikannya.
Meski tak bisa berlama-lama bersua dengannya, cukuplah bagiku sebagai penawar dahaga rindu. Sesekali Mas Rizwan melakukan pertemuan ‘khusus’ denganku di tempat tertentu. Bisa di rumah kosong atau tempat kos yang disewanya.
Antara sedih dan tawa getir, aku membayangkan hidupku seperti dalam cerita film. Empat tahun ini kami harus berpisah dan tidak saling mengontak. Saat itu dimulai, Ahsan baru berusia sebelas dan Fauzan sembilan tahun. Katanya, dia harus bersembunyi demi menyelamatkan diri dan menjaga keselamatan keluarga.
Selama itu, pertemuan denganku dilakukan secara rahasia. Nafkah lahir tak menentu, apalagi nafkah batin. Masih beruntung, beberapa kali dia mengirimkan uang melalui cara yang tak pernah terlihat olehku.
Jika kutemukan bungkusan uang, informasi segera muncul melalui gawai. Itu pun hanya pesan singkat yang tak bisa kubalas atau kuhubungi lagi. Syukurlah, uang yang terkumpul cukup untuk biaya pendidikan anak-anakku. Tentu saja hal ini membuat perasaanku agak tenang.
Anak-anak hanya tahu, ayahnya merantau ke luar negeri demi mencari nafkah. Keduanya hanya diberi tugas untuk belajar dan menjadi anak saleh. Karena itulah kutitipkan pendidikannya pada sekolah plus. Sekolah umum berpola semipesantren. Dua minggu sekali aku bisa bertemu dengan mereka karena lembaga pendidikannya mengizinkan siswa pulang.
“Assalamualaikum….”
Seseorang mengucap salam sambil mengetuk pintu. Kurapikan mukena dan kusimpan di tempatnya. Kukenakan kerudung sambil bergerak menuju pintu.
“Oh, Ceu Irah. Ada apa, ya?” bisik batinku.
Kubuka gerendel pintu dan kulihat Ceu Irah menenteng kresek putih penuh berisi sayuran.
“Waalaikumsalam,” jawabku. “Ceu Irah?”
“Iya, Mak Ahsan,” demikian dia memanggilku sebagai emaknya Ahsan. “Ini ada sedikit sayuran hasil metik di samping rumah.”
“Wah, terima kasih, Ceu. Ahamdulillah. Ahsan dan Fauzan bisa makan banyak kalau saya bikinkan opor daun singkong.”
“Syukurlah. Mereka ada di rumah? Memang sudah jadwal pulang?” tanya Ceu Irah. Dia sangat memerhatikan anak-anakku.
“Belum, Ceu. Masih seminggu lagi.”
Aku tersenyum. Bahagia rasanya memiliki tetangga yang memberi perhatian tulus.
Belum lanjut pembicaraan dengan Ceu Irah, gawaiku berbunyi nyaring. Kulirik benda berkelip-kelip yang tersimpan di nakas.
“Sebentar, ya, Ceu. Silakan duduk dulu ya? Saya mau nerima telepon.”
Tanpa menunggu jawaban Ceu Irah, aku segera meraih gawai. Kudekatkan pada pendengaranku samil melangkah menuju kamar.
“Cerdaslah ya, kalau ngobrol dengan tetangga. Bersiaplah. Sore hampir menjelang. Pastikan meninggalkan rumah dengan tertib. Periksa semua dalam kondisi aman.”
Suara Mas Rizwan lembut namun tegas. Setelah menyebutkan nama sebuah hotel, dia menutup gawainya. Tentu saja, aku tak bisa menghubunginya lagi. Sebab gawainya langsung nonaktif.
Kulongokkan kepala pada jendela yang terbuka. Siapa tahu aku bisa melihatnya. Kupikir pasti ada di sekitar rumah sebab dia tahu kedatangan tetanggaku. Namun aku tak bisa melihatnya. Rupanya Mas Rizwan mengamati gerak-gerikku entah dari arah mana.
“Udah neleponnya, Mak San?” tanya Ceu Irah.
“Iya, sudah, Ceu.” Jawabku setelah menyimpan gawai di kamar.
“Mm… kalau sudah, ada sesuatu yang ingin kusampaikan.”
Suara Ceu Irah berubah jadi pelan. Matanya melihat ke kiri dan ke kanan. Seakan-akan tak ingin didengar oleh orang lain. Tentu saja aku jadi sedikit heran dan bertanya-tanya. Apa gerangan ‘sesuatu’ itu hingga Ceu Irah seperti tengah berahasia.
“Mak San kapan terakhir ketemu bapaknya Ahsan?”
Aku tak segera menjawab. Pertanyaan yang cukup sensitif itu menakutiku. Jangan-jangan berakibat buruk jika kujawab dengan jujur.
“Memang kenapa, Ceu?” Aku balik bertanya.
“Lha, ditanya malah balik nanya.” Paras Ceu Irah sedikit mengeruh. Kelihatannya dia kurang suka dengan pertanyaanku.
“Maaf, Ceu. Habis, pertanyaannya aneh gitu,” jawabku jujur.
“Begini. Kemarin sore, selagi manen sayuran di kebun deket sawah Juragan Beni, aku melihat seorang laki-laki melintas dengan cepat. Aku yakin dia suamimu, Mak. Karena itulah kupanggil namanya. Meski pake topi, aku yakin dia suamimu. Bajunya kaos hitam dengan celana hijau tentara. Dia menoleh dan menatap. Hanya sebentar, lantas pergi tergesa-gesa. Jalannya makin cepat.”
Suara Ceu Irah yang tadi berbisik kini semakin keras dan penuh tekanan. Matanya membulat.
“Enggak salah lihat, Ceu?” tanyaku berusaha dengan nada wajar. Kusembunyikan debar di hati yang menyertai degup kencang di dada. Andai itu benar, berarti Mas Rizwan ada di sekitar sini.
“Yakin, aku tidak salah lihat! Tapi yang jadi pertanyaanku, kenapa suamimu buru-buru pergi, ya?” Ceu Irah menatapku seperti meminta jawaban.
“Berarti, Ceu Irah melihat orang yang benar-benar mirip Mas Rizwan. Sebab bapaknya Ahsan masih terikat kontrak dan belum bisa pulang. Begitu kabar yang tadi saya terima.”
Kuputus pembicaraan sore itu. Diam-diam kuulang-ulang istigfar di dalam hati. Aku mohon ampun atas dustaku barusan. Ceu Irah beranjak meninggalkan rumahku dengan pandang masygul.
Kukenakan gamis terbaik dan berdandan sepenuh hati setelah selesai salat asar. Selayak orang yang tengah kasmaran, perasaanku tak karuan hendak bertemu dengan orang yang selalu kurindu.
Terakhir bertemu dengan Mas Rizwan saat itu di taman anggrek, enam bulan yang lalu. Suamiku terlihat sehat namun agak kurus. Lama kami saling memandang. Mencoba menyesapi kebersamaan yang tidak bisa berlangsung lama. Saat itu, sebelum mata mengerjap, Mas Rizwan segera berlalu. Menyisakan rindu yang kian menyesak. Ah.
Kukendarai motor dengan kecepatan sedang. Angin sore yang menemani perjalanan terasa begitu bersahabat. Mentari yang kian redup memberi keteduhan. Hamparan jingga menyambut senja yang bakal kulalui bersamanya. Ah, tak sabar rasanya. Jalan tempuh yang tak seberapa jauh terasa begitu panjang.
Kulanjutkan langkah menuju lobi hotel. Pandanganku tertuju pada seorang lelaki yang duduk menghadap dinding. Meski saat aku datang posisinya membelakangi arah pintu masuk, aku tak pernah silap. Dia memilih tempat duduk di salah satu pojok asri berhias bambu hoki yang berdaun lebat. Mas Rizwan tengah menanti kedatanganku.
“Assalamualaikum,” bisikku saat berdiri di belakangnya.
“Waalaikumsalam,” jawabnya tanpa mengubah posisi. Sepertinya dia tidak ingin menarik perhatian orang lain. “Duduklah. Pemandangan dari sini terlihat indah.”
Meski tatapnya tetap lurus ke arah pemandangan yang terpampang di kaki bukit, aku merasakan getar kerinduan pada suaranya. Saat aku duduk, Mas Rizwan menggenggam tanganku. Seketika tubuhku beroleh getar arus listrik yang demikian menyengat. Tak lama kemudian, Mas Rizwan mengajakku dan menunjukkan kamarnya. Kerinduan yang kami simpan dalam-dalam pun menemukan muaranya.
“Pulanglah, Mas. Kami rindu,” bisikku.
“Belum saatnya. Malam ini aku hanya bisa mengantar pulang. Kita masih harus bersabar,” jawabnya.
Sebelum tengah malam, aku pulang berboncengan dengannya. Kerlip bintang menemani perjalanan yang kami tempuh. Sayang, hanya sampai pertigaan dia menyertaiku. Selebihnya, kulanjutkan sendiri hingga tiba di rumah. Kubayangkan dengan sedih, Mas Rizwan melangkah sendiri menembus malam. Entah ke mana.
Kubaringkan tubuhku kembali di kamar sepi. Andai saja permintaanku tadi dikabulkannya, tentu malam ini aku bisa kembali mengecap kebahagiaan. Bersama bercengkrama di rumah kami. Berdua membayar waktu yang tertunda selama ini. Entah kapan semua itu bisa terwujud. Kubenamkan wajahku pada guling yang membasah. Kusimpan isakku hingga aku tertidur.
Kubuka jendela kamar. Kusesap udara pagi yang terasa sejuk. Cahaya mentari masih belum sepenuhnya terpancar. Serpihan bias keemasan yang mengintip dari sela-sela rerimbun daun ibarat berjuta harap yang masih berkilau dan menjadi penerang jiwaku. Aku yakin, Tuhan tidak akan membiarkan harapanku menggantung begitu saja.
Aku kembali menjalani hari sambil menunggu kedatangan kedua anakku di akhir pekan. Biasanya mereka mengabari sehari sebelumnya melalui gawai wali kelasnya. Namun hingga Jumat sore, tak ada kabar kepulangan dari Ahsan dan Fauzan. Aku menjadi gelisah. Kuputuskan nanti akan menghubungi wali kelasnya setelah salat magrib.
Belum sempat kuambil gawai, tetiba kudengar pintu dapur berderit. Ah, rupanya mereka datang hendak memberi kejutan. Kuhampiri dengan hati berbunga.
“Ssst… jangan kaget. Ayo berkemas. Bawa yang penting dan yang berharga saja. Ahsan dan Fauzan sudah menunggu.”
Suara Mas Rizwan pelan namun tegas seperti biasanya. Aku terkejut namun tak bisa terpana berlama-lama. Kuikuti instruksinya seraya menyimpan beribu tanya.
Dengan cepat, suamiku menyimpan dua tas besar berisi barang bawaanku ke dalam bagasi mobil. Kulihat kedua jagoanku duduk di dalam mobil dan tersenyum padaku. Hatiku tenang melihatnya. Aku mengambil tempat duduk di antara Ahsan dan Fauzan. Sementara Mas Rizwan memegang kemudi. Selanjutnya aku tidak tahu jalan tempuh karena tertidur selama perjalanan.
Menjelang subuh kami tiba di sebuah rumah besar dan asri. Interior kekinian dengan warna dinding yang sangat menyejukkan mata. Kunikmati dengan decak kagum.
Saat pagi membuka hari, selesai semua membersihkan diri, kami dibawa ke ruang makan. Aku terheran-heran dengan hidangan yang tersaji lengkap di meja makan besar.
“Inilah buah kesabaranmu, Mak Ahsan. Di sinilah rumah kita sekarang. Semua ini milik kita.”
Aku, Ahsan, dan Fauzan saling memandang. Lalu mata kami tertuju pada ayah dua anak itu yang tengah menatap kami. Sambil tersenyum, Mas Rizwan memandangi kami bergantian. Kami tak bisa menyembunyikan rasa heran dan penasaran. Segera kulangkahkan kaki mendekatinya.
“Lalu, bagaimana dengan keselamatan anak-anak? Bagaimana dengan ancaman kelompokmu pada keluarga kita?” bisikku hati-hati.
Mas Rizwan tersenyum.
“Maaf atas semuanya, Ma. Percayalah, selama ini tidak ada ancaman apa pun untuk kita. Semuanya baik-baik saja.”
“Jadi? Selama ini…,” aku belum sempat melanjutkan karena suamiku segera menimpali.
“Ya, benar. Selama ini aku berusaha keras mewujudkan impian kita. Sungguh, aku sangat bersyukur memiliki istri setia, cerdas, dan kuat. Juga anak-anak hebat yang hormat pada orang tua. Mulai saat ini, kita akan selalu bersama,” tegas Mas Rizwan.
Aku membelalak dengan dada berguncang. Rasanya ingin meradang karena merasa dibohongi. Namun, aku tidak ingin merusak kebahagiaan anak-anakku. Mereka berlari dan memeluk ayahnya. Dalam naungan pagi kupandangi tiga lelaki yang kucinta dengan mata membasah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar