Minggu, 13 Februari 2022

Meretas Jejaring Kasih (3)

 3.    Sahabat Sampai Nanti

Maira menatap Johan sekilas. Lelaki itu seperti bisa membaca pikirannya. Keinginan dan harapan yang sering Maira sampaikan menguap tanpa bekas sejak bertemu langsung dengan sosok yang sesungguhnya. Kesal dan kecewa mengiringi rasa kaget karena tak mengira bakal seperti ini jadinya.

“Nanti setelah isya, kita ngobrol ya, Ra. Bukan untuk membahas keinginanmu yang selama ini selalu kau sampaikan. Hanya untuk membuka matamu agar kamu tahu, mengapa selama ini aku tak pernah serius menanggapi harapanmu,” bisik Johan.

Maira mengangguk tanda setuju. Dihampirinya Bu Rahmi yang sedang membereskan bola-bola yang berserakan di ruang keluarga. Benda-benda berbagai ukuran itu memenuhi kardus besar di samping tempat penyimpanan mainan lainnya. Arul yang menjadi pemiliknya ikut membantu memungut dan menyimpan beberapa bola yang diambil dari bawah kursi. Namun dia menyimpan dengan cara melempar sembarangan hingga bola-bola itu semakin jauh bertebaran.

“Adduh!”

Tetiba Maira mengaduh. Salah satu bola yang dilempar Arul mengenai kepalanya.

“Haha… kena! kena!” Arul berjingkrak kegirangan.

Sebelum lemparan bola berikutnya, Johan segera menangkap lengan adiknya. Arul tertawa sambil meronta. Namun, tenaga Johan bukan tandingannya. Tangan kirinya masih mendekap Arul sedang tangan kanannya mengambil bola yang dipegang adiknya lalu melemparnya jadi penghuni kardus. Diacaknya rambut Arul dengan sayang.

“Eit, kalau gitu lagi, besok enggak boleh main bola, lho!” kata Johan.

“Main bola! Bola! Bolaaa…!” teriak Arul sambil melepaskan diri dari pelukan kakaknya.

“Iya, boleh main bola tapi tenang dulu dan enggak teriak, ya?” bujuknya.

Arul meludahi lengan kakaknya. Tentu saja Johan segera membekap mulut adiknya. Sementara itu, Yuda ikut tersenyum sambil bertepuk tangan. Sikapnya lebih tenang dibandingkan dengan adiknya. Namun, melihat keributan itu Yuda ikut-ikutan bersorak.

“Sudah! Sudah! Malu tuh, ada tamu!” bujuk Bu Rahmi. Dipeluknya Arul menggantikan lengan Johan.

“Aul enggak mau tamu! Suruh pulang aja!” teriaknya.

“Eh, tak baik bilang begitu sama tamu,” lanjut Bu Rahmi.

“Suruh pulang!  Suruh pulaang!” ulangnya. Tangis Arul semakin menjadi-jadi.

“Iya, iya, besok Teteh pulang ya?” Spontan Maira urun suara. Dia ingin membantu situasi yang berubah tiba-tiba.

Mendengar ucapan Maira, Arul segera berhenti menangis. Sikapnya mulai tenang lalu duduk di lantai. Tangannya menjangkau bola yang didekatnya lalu dimasukkan ke dalam kardus. Seperti tidak pernah terjadi sesuatu.

“Maaf ya, Ra. Situasinya bikin enggak enak. Nah, itu azan isya. Silakan kalau mau salat dulu,” kata Johan dengan pandang serba salah.

“Enggak apa-apa, kok. Santai aja. Iya, permisi aku mau salat dulu.”

Maira segera beranjak menuju kamar mandi. Dia segera menunaikan kewajibannya.

Dalam benaknya terbayang kerepotan Bu Rahmi beserta Johan. Setiap hari mengurus dan membimbing Arul tentu bukan hal yang mudah. Beruntung, Yuda memiliki sikap yang agak tenang.

Setelah Maira masuk kamar, tetiba semua lampu rumah dipadamkan. Yang menyala hanyalah lampu kamarnya dan lampu di luar. Maira sempat bertanya-tanya walau hanya dalam hati. Namun, sebagai tamu, dia hanya diam menerima kondisi yang ada. Tidak sampai satu jam kemudian, lampu ruang keluarga kembali menyala.

Didorong oleh rasa penasaran, Maira keluar dari kamar. Tampak Bu Rahmi tengah duduk. Dilambainya Maira agar duduk di sampingnya.

“Duduk sini, Neng. Alhamdulillah Arul dan Yuda sudah tidur. Semua ruangan harus gelap agar mereka cepat tidur.” kata Bu Rahmi.

“Oh, begitu, ya, Bu,” jawab Maira.

“Maaf ya, Neng. Gara-gara Johan, Eneng jadi harus mengalami situasi yang tidak menyenangkan. Maafkan juga Johan yang jadi sebab Eneng datang ke sini.”

“Apa Kak Johan cerita sama Ibu?” tanya Maira.

“Iya. Tentu saja Jo cerita.”

“Semuanya, Bu?”

“Iya. Jo sangat bahagia saat bilang punya kenalan seorang gadis yang baik. Ibu tidak tahu kalau Jo berbohong soal dirinya pada Eneng.”

Bu Rahmi terlihat sedih.

Tak lama, Johan datang dan bergabung.

“Nah, itu Johan. Silakan ya, Neng. Jangan ngobrol terlalu malam, Jo. Kasihan, Enengnya biar istirahat. Amah mau tidur.”

Tanpa menunggu lagi, Bu Rahmi yang terlihat lelah segera masuk kamar dan beristirahat.

“Nah, sekarang kamu sudah tahu semuanya, Ra. Tentu saja aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas kelancanganku mengaku sebagai pria ganteng. Tak terbersit dalam pikiranku bakal menyeret kamu untuk masuk dalam kehidupanku. Maksudku hanya ingin kenalan dan berbagi cerita saja. Itu awalnya. Adapun ketika semua jadi berkembang, itu di luar dugaanku.”

Johan mulai membuka cerita.

“Aku jadi malu, Kak. Aku yang memaksa ingin bertemu lantaran tertarik dengan sikapmu yang low profile. Kakak membuatku jatuh hati dan berharap lebih. Maaf jika sikapku berubah setelah perjumpaan ini.”

Maira berterus terang karena tak ingin memperpanjang masalah.

“Itulah sebabnya aku tak pernah menanggapi keinginanmu agar kita melangkah ke arah hubungan yang serius. Aku selalu menghindar setiap kali kamu membicarakan hal ini. Aku tahu betul risiko yang bakal kamu hadapi jika kita melanjutkan ke arah hubungan yang serius. Kamu pasti kecewa dan tak akan siap menghadapinya.”

“Iya, aku sangat berterima kasih atas pengertian yang Kak Jo berikan.”

“Aku maklum, Ra. It’s okay. Jangan terlalu dipikirkan. Mudah-mudahan saja setelah ini kita tetap jadi sahabat. Tanpa embel-embel lain. Siapa tahu kamu mau jadi partnerku dalam usaha bisnis online.”

“Oh, iya. Itu salah satu tujuanku datang ke sini. Selain ingin membuktikan keberadaan Kak Jo, aku juga penasaran dengan bisnis yang sering Kakak sebut dalam percakapan kita.” Maira mulai terlihat bersemangat.

Maira yang memang punya jiwa bisnis, sangat antusias menyimak peluang usaha yang dilakukan Johan selalu dropshipper. Bahkan dalam dua tahun ini, lelaki itu mengembangkan usaha menjadi reseller dari produk pakaian dan alat rumah tangga berkualitas. Johan berjanji, besok sebelum pulang, Maira akan diajaknya melihat-lihat stok barang yang terdapat dalam gudangnya.

“Berjanjilah untuk terus menjadi sahabatku, Ra. Aku siap membantumu jika kamu tertarik memulai usaha sepertiku. Kamu boleh konsultasi dua puluh empat jam dan aku siap membantumu. Anggaplah ini sebagai permintaan maafku,” lanjut Johan bersungguh-sungguh.

“Kak Jo punya rencana menikah?” tanya Maira hati-hati.

“Rencana sih, ada, Ra. Tapi aku harus berpikir realistis. Aku tidak bisa meninggalkan Amah yang selalu direpotkan oleh kedua adikku. Aku tak bisa membiarkannya berkutat dengan sikap mereka tanpa bantuan tenaga laki-laki. Aku harus ada karena aku menyayangi mereka, Amah dan kedua adikku. Sudah kusampaikan dalam percakapan kita, kalau aku menjadi tumpuan dan sandaran keluarga. Jadi, aku akan tetap di sini sampai kapan pun.”

Maira tak mampu berkata-kata. Dia paham betul situasi keluarga yang menjadi tanggung jawab Johan.

“Jadi, mari kita lanjutkan hubungan kita sebagai sahabat.”

Maira mengangguk pasti.

“Tidurlah. Besok kucarikan mobil untuk mengantarmu pulang.”

Malam berhias siur angin. Dingin namun tak begitu menusuk. Malam tanpa bintang mengantar Maira dan Johan pada kepastian langkah yang telah mereka sepakati.

Dalam kamar yang sepi, diam-diam Bu Rahmi menyembunyikan isaknya.  

 

 

 

*

 

Udah dulu ya…

Ditunggu like dan krisannya.

Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar