3. Sahabat Sampai Nanti
Maira menatap Johan sekilas. Lelaki itu seperti
bisa membaca pikirannya. Keinginan dan harapan yang sering Maira sampaikan
menguap tanpa bekas sejak bertemu langsung dengan sosok yang sesungguhnya. Kesal
dan kecewa mengiringi rasa kaget karena tak mengira bakal seperti ini jadinya.
“Nanti setelah isya, kita ngobrol ya, Ra. Bukan
untuk membahas keinginanmu yang selama ini selalu kau sampaikan. Hanya untuk
membuka matamu agar kamu tahu, mengapa selama ini aku tak pernah serius
menanggapi harapanmu,” bisik Johan.
Maira mengangguk tanda setuju. Dihampirinya Bu
Rahmi yang sedang membereskan bola-bola yang berserakan di ruang keluarga.
Benda-benda berbagai ukuran itu memenuhi kardus besar di samping tempat
penyimpanan mainan lainnya. Arul yang menjadi pemiliknya ikut membantu memungut
dan menyimpan beberapa bola yang diambil dari bawah kursi. Namun dia menyimpan
dengan cara melempar sembarangan hingga bola-bola itu semakin jauh bertebaran.
“Adduh!”
Tetiba Maira mengaduh. Salah satu bola yang
dilempar Arul mengenai kepalanya.
“Haha… kena! kena!” Arul berjingkrak
kegirangan.
Sebelum lemparan bola berikutnya, Johan segera
menangkap lengan adiknya. Arul tertawa sambil meronta. Namun, tenaga Johan
bukan tandingannya. Tangan kirinya masih mendekap Arul sedang tangan kanannya mengambil
bola yang dipegang adiknya lalu melemparnya jadi penghuni kardus. Diacaknya
rambut Arul dengan sayang.
“Eit, kalau gitu lagi, besok enggak boleh main
bola, lho!” kata Johan.
“Main bola! Bola! Bolaaa…!” teriak Arul sambil
melepaskan diri dari pelukan kakaknya.
“Iya, boleh main bola tapi tenang dulu dan
enggak teriak, ya?” bujuknya.
Arul meludahi lengan kakaknya. Tentu saja Johan
segera membekap mulut adiknya. Sementara itu, Yuda ikut tersenyum sambil
bertepuk tangan. Sikapnya lebih tenang dibandingkan dengan adiknya. Namun,
melihat keributan itu Yuda ikut-ikutan bersorak.
“Sudah! Sudah! Malu tuh, ada tamu!” bujuk Bu
Rahmi. Dipeluknya Arul menggantikan lengan Johan.
“Aul enggak mau tamu! Suruh pulang aja!”
teriaknya.
“Eh, tak baik bilang begitu sama tamu,” lanjut
Bu Rahmi.
“Suruh pulang!
Suruh pulaang!” ulangnya. Tangis Arul semakin menjadi-jadi.
“Iya, iya, besok Teteh pulang ya?” Spontan Maira
urun suara. Dia ingin membantu situasi yang berubah tiba-tiba.
Mendengar ucapan Maira, Arul segera berhenti
menangis. Sikapnya mulai tenang lalu duduk di lantai. Tangannya menjangkau bola
yang didekatnya lalu dimasukkan ke dalam kardus. Seperti tidak pernah terjadi sesuatu.
“Maaf ya, Ra. Situasinya bikin enggak enak.
Nah, itu azan isya. Silakan kalau mau salat dulu,” kata Johan dengan pandang
serba salah.
“Enggak apa-apa, kok. Santai aja. Iya, permisi
aku mau salat dulu.”
Maira segera beranjak menuju kamar mandi. Dia
segera menunaikan kewajibannya.
Dalam benaknya terbayang kerepotan Bu Rahmi
beserta Johan. Setiap hari mengurus dan membimbing Arul tentu bukan hal yang
mudah. Beruntung, Yuda memiliki sikap yang agak tenang.
Setelah Maira masuk kamar, tetiba semua lampu
rumah dipadamkan. Yang menyala hanyalah lampu kamarnya dan lampu di luar. Maira
sempat bertanya-tanya walau hanya dalam hati. Namun, sebagai tamu, dia hanya
diam menerima kondisi yang ada. Tidak sampai satu jam kemudian, lampu ruang
keluarga kembali menyala.
Didorong oleh rasa penasaran, Maira keluar dari
kamar. Tampak Bu Rahmi tengah duduk. Dilambainya Maira agar duduk di
sampingnya.
“Duduk sini, Neng. Alhamdulillah Arul dan Yuda
sudah tidur. Semua ruangan harus gelap agar mereka cepat tidur.” kata Bu Rahmi.
“Oh, begitu, ya, Bu,” jawab Maira.
“Maaf ya, Neng. Gara-gara Johan, Eneng jadi
harus mengalami situasi yang tidak menyenangkan. Maafkan juga Johan yang jadi
sebab Eneng datang ke sini.”
“Apa Kak Johan cerita sama Ibu?” tanya Maira.
“Iya. Tentu saja Jo cerita.”
“Semuanya, Bu?”
“Iya. Jo sangat bahagia saat bilang punya
kenalan seorang gadis yang baik. Ibu tidak tahu kalau Jo berbohong soal dirinya
pada Eneng.”
Bu Rahmi terlihat sedih.
Tak lama, Johan datang dan bergabung.
“Nah, itu Johan. Silakan ya, Neng. Jangan
ngobrol terlalu malam, Jo. Kasihan, Enengnya biar istirahat. Amah mau tidur.”
Tanpa menunggu lagi, Bu Rahmi yang terlihat
lelah segera masuk kamar dan beristirahat.
“Nah, sekarang kamu sudah tahu semuanya, Ra.
Tentu saja aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas kelancanganku mengaku
sebagai pria ganteng. Tak terbersit dalam pikiranku bakal menyeret kamu untuk
masuk dalam kehidupanku. Maksudku hanya ingin kenalan dan berbagi cerita saja.
Itu awalnya. Adapun ketika semua jadi berkembang, itu di luar dugaanku.”
Johan mulai membuka cerita.
“Aku jadi malu, Kak. Aku yang memaksa ingin
bertemu lantaran tertarik dengan sikapmu yang low profile. Kakak
membuatku jatuh hati dan berharap lebih. Maaf jika sikapku berubah setelah
perjumpaan ini.”
Maira berterus terang karena tak ingin
memperpanjang masalah.
“Itulah sebabnya aku tak pernah menanggapi
keinginanmu agar kita melangkah ke arah hubungan yang serius. Aku selalu
menghindar setiap kali kamu membicarakan hal ini. Aku tahu betul risiko yang
bakal kamu hadapi jika kita melanjutkan ke arah hubungan yang serius. Kamu
pasti kecewa dan tak akan siap menghadapinya.”
“Iya, aku sangat berterima kasih atas pengertian
yang Kak Jo berikan.”
“Aku maklum, Ra. It’s okay. Jangan
terlalu dipikirkan. Mudah-mudahan saja setelah ini kita tetap jadi sahabat.
Tanpa embel-embel lain. Siapa tahu kamu mau jadi partnerku dalam usaha bisnis
online.”
“Oh, iya. Itu salah satu tujuanku datang ke
sini. Selain ingin membuktikan keberadaan Kak Jo, aku juga penasaran dengan
bisnis yang sering Kakak sebut dalam percakapan kita.” Maira mulai terlihat
bersemangat.
Maira yang memang punya jiwa bisnis, sangat
antusias menyimak peluang usaha yang dilakukan Johan selalu dropshipper.
Bahkan dalam dua tahun ini, lelaki itu mengembangkan usaha menjadi reseller
dari produk pakaian dan alat rumah tangga berkualitas. Johan berjanji, besok
sebelum pulang, Maira akan diajaknya melihat-lihat stok barang yang terdapat
dalam gudangnya.
“Berjanjilah untuk terus menjadi sahabatku, Ra.
Aku siap membantumu jika kamu tertarik memulai usaha sepertiku. Kamu boleh
konsultasi dua puluh empat jam dan aku siap membantumu. Anggaplah ini sebagai
permintaan maafku,” lanjut Johan bersungguh-sungguh.
“Kak Jo punya rencana menikah?” tanya Maira
hati-hati.
“Rencana sih, ada, Ra. Tapi aku harus berpikir
realistis. Aku tidak bisa meninggalkan Amah yang selalu direpotkan oleh kedua
adikku. Aku tak bisa membiarkannya berkutat dengan sikap mereka tanpa bantuan
tenaga laki-laki. Aku harus ada karena aku menyayangi mereka, Amah dan kedua
adikku. Sudah kusampaikan dalam percakapan kita, kalau aku menjadi tumpuan dan
sandaran keluarga. Jadi, aku akan tetap di sini sampai kapan pun.”
Maira tak mampu berkata-kata. Dia paham betul
situasi keluarga yang menjadi tanggung jawab Johan.
“Jadi, mari kita lanjutkan hubungan kita
sebagai sahabat.”
Maira mengangguk pasti.
“Tidurlah. Besok kucarikan mobil untuk
mengantarmu pulang.”
Malam berhias siur angin. Dingin namun tak
begitu menusuk. Malam tanpa bintang mengantar Maira dan Johan pada kepastian
langkah yang telah mereka sepakati.
Dalam kamar yang sepi, diam-diam Bu Rahmi menyembunyikan
isaknya.
*
Udah dulu ya…
Ditunggu like dan krisannya.
Terima kasih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar