“Teteh? Lho, kok ada di sini?”
Tetiba seorang wanita cantik menyapa sambil menepuk
lenganku. Aku yang tengah menuju warung sedikit terperanjat. Kusipitkan mataku
yang memang sudah sipit. Kuingat-ingat senyumnya, sepertinya sudah begitu
familiar.
“Aeh, ini Neng Lita? Pakabar, Neng? Duh, makin
cantik aja, nih!” jawabku jujur.
Lita yang dulu kukenal gadis lugu sahabat
adikku, kini kujumpa dengan tampilan yang sangat berbeda. Kulitnya putih mulus
dan matanya semakin bercahaya. Tapi pandangannya membuatku sedikit bergidik. Garis-garis
pada bola matanya berwarna cokelat terang. Aku melihat mata Si Mpus seperti
berpindah pada matanya. Kukedipkan mataku untuk sedikit menghindar dari tatapan
anehnya.
“Iya, saya Lita, Teh. Alhamdulillah baik. Cuma saya
heran aja, kenapa Teteh ada di sini? Apa mataku yang salah, ya?”
Gadis itu kembali mengajukan pertanyaan yang
sama. Sebelum menjawab, kutatap lagi matanya lekat-lekat.
“Nah, Teteh juga mikirnya begitu. Mata Neng
Lita teh kenapa? Kok jadi aneh begitu?”
Kututup mulut dengan jariku. Ah, kebiasaan yang
bikin malu. Tak bisa menahan kepo. Untunglah dia tersenyum.
“Ini mah karena softlens, Teh. Biar tampil
beda. Cuma pertanyaan saya, kenapa Teteh ada di sini?”
Rupanya Lita begitu keukeuh dengan
pertanyaannya.
“Oh… itu! Ya iyalah teteh ada di sini. Kan masih
tinggal di Seladarma ini,” jawabku santai.
“Masalahnya, saya baru nyampe dari Ciamis. Waktu
melintas depan cafe Adem Ayem, saya melihat Kang Dori masuk ke situ. Dikira Teteh
yang digandengnya. Eh, malah ada di sini,” ujarnya.
Serr…. Tubuhku seperti disengat listrik. Meski tak
menyebabkan kejang-kejang tapi berhasil membuat darahku mendidih. Kepalaku
berdenyut kencang.
“Ya, udah, Teh, saya duluan ya?”
Aku tak sanggup mengangguk atau mengiyakan saat
Lita pamit dijemput angkutan online. Kakiku bergetar hingga tubuhku sedikit
oleng. Cepat-cepat aku berbalik arah kembali ke rumah.
“Kamu, ya! Dasar lelaki buaya! Mestiii
nyar-nyari kesempatan buat bikin ulah!”
Emosiku memuncak. Kurebut buku yang tengah
dibaca Kang Dori. Kulemparkan ke kolam kecil penghias taman di samping rumah. Kupukuli
dadanya. Kutarik kaos oblongnya juga sarungnya. Tangisku tak bisa kutahan lagi.
“E... e… eh apa-apaan, ini Bu? Kok main pukul,
main buka sarung segala!”
“Terus, siapa wanita yang tadi diajak masuk restoran
Adem Ayem, hah? Seumur-umur aku gak pernah diajak makan di luar, kamu malah
ngajak pelakor!”
“Lho, Bu. Siapa yang masuk restoran? Siapa yang pelakor? Dua hari
ini aku 'kan enggak masuk kerja lantaran kakiku keseleo. Lha, Ibu kenapa?”
Apaaa? Kutatap pergelangan kakinya yang masih
bengkak. Aduh, bagaimana aku bisa lupa?
Kutatap Kang Dori yang terheran-heran. Cepat-cepat
kubantu dia memperbaiki letak sarungnya yang melorot. Lalu kupeluk erat-erat.
“Aduh, Bu. Jangan diinjak. Kakiku masih sakit!”
Kupeluk dia lebih erat lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar