Selasa, 22 Februari 2022

Cerpen: Lho, Kok Ada di Sini?

 

“Teteh? Lho, kok ada di sini?”

Tetiba seorang wanita cantik menyapa sambil menepuk lenganku. Aku yang tengah menuju warung sedikit terperanjat. Kusipitkan mataku yang memang sudah sipit. Kuingat-ingat senyumnya, sepertinya sudah begitu familiar.

“Aeh, ini Neng Lita? Pakabar, Neng? Duh, makin cantik aja, nih!” jawabku jujur.

Lita yang dulu kukenal gadis lugu sahabat adikku, kini kujumpa dengan tampilan yang sangat berbeda. Kulitnya putih mulus dan matanya semakin bercahaya. Tapi pandangannya membuatku sedikit bergidik. Garis-garis pada bola matanya berwarna cokelat terang. Aku melihat mata Si Mpus seperti berpindah pada matanya. Kukedipkan mataku untuk sedikit menghindar dari tatapan anehnya.

“Iya, saya Lita, Teh. Alhamdulillah baik. Cuma saya heran aja, kenapa Teteh ada di sini? Apa mataku yang salah, ya?”

Gadis itu kembali mengajukan pertanyaan yang sama. Sebelum menjawab, kutatap lagi matanya lekat-lekat.

“Nah, Teteh juga mikirnya begitu. Mata Neng Lita teh kenapa? Kok jadi aneh begitu?”

Kututup mulut dengan jariku. Ah, kebiasaan yang bikin malu. Tak bisa menahan kepo. Untunglah dia tersenyum.

“Ini mah karena softlens, Teh. Biar tampil beda. Cuma pertanyaan saya, kenapa Teteh ada di sini?”

Rupanya Lita begitu keukeuh dengan pertanyaannya.

“Oh… itu! Ya iyalah teteh ada di sini. Kan masih tinggal di Seladarma ini,” jawabku santai.

“Masalahnya, saya baru nyampe dari Ciamis. Waktu melintas depan cafe Adem Ayem, saya melihat Kang Dori masuk ke situ. Dikira Teteh yang digandengnya. Eh, malah ada di sini,” ujarnya.

Serr…. Tubuhku seperti disengat listrik. Meski tak menyebabkan kejang-kejang tapi berhasil membuat darahku mendidih. Kepalaku berdenyut kencang.

“Ya, udah, Teh, saya duluan ya?”

Aku tak sanggup mengangguk atau mengiyakan saat Lita pamit dijemput angkutan online. Kakiku bergetar hingga tubuhku sedikit oleng. Cepat-cepat aku berbalik arah kembali ke rumah.

“Kamu, ya! Dasar lelaki buaya! Mestiii nyar-nyari kesempatan buat bikin ulah!”

Emosiku memuncak. Kurebut buku yang tengah dibaca Kang Dori. Kulemparkan ke kolam kecil penghias taman di samping rumah. Kupukuli dadanya. Kutarik kaos oblongnya juga sarungnya. Tangisku tak bisa kutahan lagi.

“E... e… eh apa-apaan, ini Bu? Kok main pukul, main buka sarung segala!”

“Terus, siapa wanita yang tadi diajak masuk restoran Adem Ayem, hah? Seumur-umur aku gak pernah diajak makan di luar, kamu malah ngajak pelakor!”

“Lho, Bu. Siapa yang masuk restoran? Siapa yang pelakor? Dua hari ini aku 'kan enggak masuk kerja lantaran kakiku keseleo. Lha, Ibu kenapa?”

Apaaa? Kutatap pergelangan kakinya yang masih bengkak. Aduh, bagaimana aku bisa lupa?

Kutatap Kang Dori yang terheran-heran. Cepat-cepat kubantu dia memperbaiki letak sarungnya yang melorot. Lalu kupeluk erat-erat.

“Aduh, Bu. Jangan diinjak. Kakiku masih sakit!”

Kupeluk dia lebih erat lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar