Kamis, 17 Februari 2022

Cerpen: Dalam Jejaring Rindu

 Kudengar getar gawaiku saat aku masih membuat adonan candil berbahan ketan. Kulirik sekilas layar yang berkelip-kelip. Ya, ampun Siman mengontak sepagi ini? Tak biasanya dia menghubungi pagi-pagi! Apalagi enam bulan ini kami berusaha menjaga hati dan merentang jarak. Berlomba kuat-kuatan untuk tak saling menghubungi.

Kubiarkan hingga getarnya berhenti sendiri. Kualihkan lagi perhatian pada pekerjaanku. Kumasukkan bulatan-bulatan itu ke dalam air mendidih. Kuberi gula semut dan santan secukupnya. Kututup dengan menambahkan sedikit garam. Lega rasanya, makanan favorit keluargaku siap kuhidangkan. Ya, jika tak ada halangan, selalu kusempatkan menyediakan hidangan istimewa di hari Jumat.
Kulihat lagi gawaiku. Hm... tujuh panggilan dari nomor yang sama. Nomor yang kuhafal di luar kepala meski tidak kusimpan dalam buku telepon. Kuhindari meski masih selalu kurindukan. Kujauhi walau selalu mengentak di dada. Kuabaikan meski tiap kuingat masih selalu menimbulkan getar dan debar. Entahlah, sepertinya aku selalu merindukannya hingga kapan pun.
Padahal di antara kami jelas-jelas terbentang dinding kokoh yang menjulang tinggi. Dulu kami telah bersepakat memutuskan tali kasih dan saling mendukung saat menempuh jalan yang dipilih masing-masing. Jalanku tak searah dengan jalannya. Hidupku bahagia demikian pula hidupnya. Aku telah menemukan dermaga hati yang kupilih dengan sepenuh cinta dan kesadaran. Demikian pula Siman. Dia menemukan tambatan hidupnya hingga kini telah berbuah anak-anak yang tampan.
Kami tetap menjalin tali silaturahmi yang kuharap bakal terus terentang hingga kapan pun. Tidak setahun sekali kami saling berhubungan. Sangat jarang, malah. Namun setahun terakhir ini, kontak dengannya terjalin kembali. Bahkan semakin intens. Bukan karena aku mulai memupuk kembali benih-benih yang selalu bersemi di dada, melainkan tersebab oleh kabar yang kudapat dari si bungsu.
“Bu, adek udah dapet orang yang cocok. Adek yakin, dia sesuai dengan kriteria yang Ibu inginkan.”
Kulihat binar cinta pada manik matanya. Aku sangat memahami perasaannya. Bahagia dan duka selalu tergambar jelas. Sedari kecil begitulah Refni.
“Siapa pria itu? Orang mana? Adek kenal orang tuanya?”
Aku tak kalah antusias dengan anakku. Kutunggu cukup lama datangnya kabar seperti ini.
“Lihat ini, Bu. Adakah Ibu mengenali sesuatu pada wajahnya?” Refni menyodorkan gawainya.
Aku tersenyum seraya menerima gawainya. Ah, gadisku ini. Masih saja menggoda ibunya dengan teka-teki. Sedang aku sungguh tak sabar menanti info penjelas selanjutnya tentang lelaki ini.
Kupusatkan pandang pada foto yang terpampang di layar gawainya. Aku terbelalak. Mengapa pemuda di foto itu memiliki mata, bentuk wajah, serta senyum milik Siman? Mengapa aku merasa seperti tengah bertemu dengannya di masa lalu? Tatap mata itu, benar-benar milik Siman yang tak henti kurindu. Siman, ah, Siman! Rasanya ingin kuteriakkan namanya agar lepas rasa di hati.
“Siapa dia, Dek?” suaraku tak secerah tadi. Terdengar agak parau sebab mulai terlilit benang rindu. Kacamataku berembun seiring permukaan mataku yang terhalang bulir bening.
“Ibu pasti kenal. Adek yakin, pastiii… kenal! Coba lihat ini.”
Kembali dia mengambil gawai yang tengah kupegang. Jemarinya bergerak menyusuri layar. Sepertinya dia mencari sesuatu. Kesempatan bagiku untuk segera mengeringkan air mata yang mulai berjatuhan. Ya, Tuhan, jangan sampai anakku tahu. Aku menangis karena sangat merinduinya!
“Nah, ini dia, Bu. Lihat!”
Refni menyodorkan lagi HP dengan paras kian berseri. Rona di pipinya begitu ranum. Sepertinya dia senang sekali membuat ibunya terkaget-kaget.
Foto itu berisi keluarga Siman dengan formasi lengkap. Dua anak laki-laki serupa benar dengan dirinya. Semakin bertambah usia, Siman semakin menampakkan kematangannya. Semakin dewasa dan semakin tampan menawan. Kedua anaknya mewarisi postur tubuhnya. Juga wajahnya yang rupawan.
Kutenangkan gelora yang kian meraja. Kuucap lirih kalimat istigfar. Rindu yang meraung memenuhi lorong panjang yang membentang di ruang sunyi. Suara panggilanku menggema. Tapi terasa begitu hampa. Tak ada respons yang menyambut hangatnya rinduku.
“Nah, bilang dong, Bu. Kalau Ibu kenal dengan keluarga itu.”
Refni semakin memaksakan kehendaknya. Membuatku harus memilih kalimat diplomatis dan jurus berkelit andalanku.
“Tentu saja ibu kenal. Ayahnya teman semasa SMA. Lama kami tak bertemu. Eh, memangnya kamu sudah kenal dengan keluarga itu?”
Kualihkan perhatiannya sebisa mungkin.
“Iya, Bu. Waktu aku internship di rumah sakit daerah, aku ketemu ayahnya Bang Wandi. Pak Irman ngeliatin aku terus. Lantas nanya, apa aku putrinya Bu Rani? Rani Kemalasari? Saat kujawab iya, Pak Irman geleng-geleng kepala sambil bilang masyaallah. Bayangkan saja, Bu. Saat itu aku sangat cemas melihat ekspresi wajahnya.”
Refni menarik napas. Raut mukanya tampak ceria. Sama sekali tak menampakkan kecemasan seperti cerita yang tengah disampaikannya.
“Dia bilang, pernah memiliki hubungan baik dengan Ibu. Katanya lagi, Ibu dan dia berpisah karena memang bukan jodoh. Bener, Bu?” lanjutnya sambil memamerkan senyumnya. Dia benar-benar tengah menggodaku.
“Ya, begitulah. Hanya hubungan kecil. Cinta monyet dengan teman sekelas. Syukurlah jika kalian cocok. Tentu bakal bisa menyambung tali silaturahmi.”
Kubuang rasa bersalah sebab kuakui keberadaannya tidak begitu bermakna dalam hidupku. Semua orang tahu, cinta monyet hanya memberi sedikit warna dalam hidup seseorang. Namun, tak membuat warnanya bertahan. Lama-lama pasti memudar hingga warnanya hilang sama sekali. Andai anakku tahu betapa namanya selalu melekat dalam ingatan, entah bagaimana penilaiannya padaku.
“Ibu enggak keberatan kalau aku menjalin hubungan dengan putranya Pak Irman?”
“Tentu saja ibu senang. Asalkan kamu yakin dengan pilihanmu, tugas ibu dan ayah merestui dan mendoakan yang terbaik.”
Refni memelukku, erat dan hangat. Kubalas pelukannya dengan sepenuh hati. Aku berharap anakku dapat berjodoh dengan orang yang benar-benar mencintai dan siap menjadi imamnya. Aku tak ingin dia terjerembap dalam kerinduan yang hanya akan melahirkan bait-bait kesedihan sebagaimana yang kurasakan kini. Aku berharap mereka menjadi pasangan yang bisa saling mengisi dan melengkapi.
Kupandangi lagi kerlip gawai yang menampakkan nomornya. Kuhela napas agar memberi kekuatan untuk menepis rindu yang mulai kubiarkan luruh. Aku tak akan membingkai rindu demi kisah yang hanya bisa menuai luka dan sepi. Bukankah dulu kami berpisah untuk sebuah cinta yang diyakini bakal mendulang bahagia? Sungguh, semua itu telah terwujud kini.
Kekuatan rindu yang kami bentang selama ini bisa jadi sedikit banyak telah membawa anak-anak kami melangkah dan mengarah pada muara kasih. Rindu yang terentang seakan telah meretas jalan bagi anak-anak kami hingga tiba saatnya merenda kasih dalam jalinan asmara.
Biarlah cerita lama bersama Siman, demikian sebutanku untuk Si Mantan, dan serpihan rindu yang memenuhi lorong hati beterbangan tertiup angin. Jika pun masih tersisa, kuharap rindu itu hanya menjadi penghias jalinan kekeluargaan yang sebentar lagi akan mengantar kedua anak kami menuju ke pelaminan.
**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar