“Apa? Yang benar aja Yum. Masa Bapak berani terang-terangan di depan umum?”
Amarah Bu Win terpancar pada
bara api yang membakar bola matanya. Asapnya membumbung hingga melampaui
gundukan awan kelabu. Gelap pertanda hujan yang bakal segera turun sedikit
memudar karena asap panas yang naik dengan segera.
Yuyum melangkah mundur.
Pembantu muda itu masih trauma dengan cengkeraman tangan juragan istri gegara
tak percaya dengan berita yang dibawanya. Kuku tajamnya serasa masuk dan menusuk
pundaknya.
“Coba bilang lagi yang jelas,
siapa wanita manja yang jalan sama Bapak
itu?”
Bu Win menatap garang.
Suaranya agak menggeram serupa harimau lapar yang hendak menerkam mangsa.
Sementara Yuyum tak tentu rasa. Tubuhnya gemetar lantaran takut salah bicara
lagi. Karena kabar berita yang dibawanya itu, Bu Win marah membabi-buta.
Bagaimana kemarahan berikutnya jika semakin diperjelas dengan deskripsi yang
harus disampaikannya?
“Duh, aingah… kenapa atuh ini
mulut teh bet segala diomongkan. Jadi we, kasus!” gerutu Yuyum. Tentu hanya berani
berucap di dalam hati.
Entah bagaimana caranya
menghentikan kemurkaan juragan istri. Yuyum berharap datang keajaiban yang
bakal mampu menghentikan kemarahan Bu Win.
“Apa kamu tuli? Bilang yang
bener, gimana kelakuan Bapak sama wanita yang kamu ceritakan itu?”
Suara Bu Win semakin
menggelegar sementara nyali Yuyum makin menciut.
“I… iya… itu, Bu. Tadi … tadi
kata orang, Bapak bawa wanita cantik yang … yang terlihat manja. Terus masuk
Saung Ranggeum. Mereka makan lalu berangkat lagi. Katanya sih, ke Ciwiru.”
Ploong… lega rasa hati Yuyum
setelah menyampaikan semua hal yang diketahuinya berdasar kabar berita dari
beberapa orang.
“Katanya teh kata siapa, hah?
Akan kutanya biar jelas, siapa yang bawa kabar itu!” teriak Bu Win.
“Aduh, maaf, Bu. Banyak yang
bilang begitu, kok. Bukan hanya Kang Uja, Ceu Marni juga sama bilang begitu,”
Yuyum makin ketakutan.
Waduh! Bagaimana nanti kalau
Kang Uja dan Ceu Marni dipanggil Bu Win? Bisa berabe! Okelah, Kang Uja mah mungkin
bisa bersikap sabar. Tapi Ceu Marni? Waduh, perempuan itu sama emosionalnya,
sama cerewetnya, sama kuatnya dengan Bu Win.
Yuyum bergidik ngeri
membayangkan dua banteng betina marah yang tengah berhadapan. Dari lubang
hidungnya yang mengembang, keluar asap putih dan bunyi dengkus pertanda siap
bertarung. Banteng di kiri kanan maju lalu saling beradu kepala. Yuyum kena
tanduknya setelah menempatkan diri sebagai matador dengan kain merah yang
dikibas-kibas.
“Adduuh!” Yuyum memegang kepalanya.
Denyut halu dan rasa sakit diseruduk banteng terasa nyata karena imajinasinya
yang terlalu mendalam.
Di tengah ruang tamu yang membara
itu Bu Win dan Yuyum tersentak mendengar derum mobil berhenti di halaman.
Terlihat Pak Hadi keluar dari mobil diikuti seorang wanita cantik menuju pintu
masuk. Yuyum segera beranjak ke dapur. Kesempatan baik untuk menghindari perang
yang bakal pecah di ruangan itu.
Pak Hadi masuk rumah sambil
menyodorkan tahu sumedang dalam keranjang besar yang ditentengnya.
“Apa ini?” cibir Bu Win sambil
mengintip isi keranjang. Dilemparnya dengan kasar hingga terguling dan isinya
berhamburan di meja tamu, juga di lantai.
“Tahu sumedang, Bu. Itu tadi
oleh-oleh dari….”
Ucapan Pak Hadi tak sampai
tuntas karena melihat gelagat tak sedap dari istrinya. Lagipula ucapannya segera
disela sang istri yang tengah dikuasai amarah.
“Bagus, ya! Makin tua makin
tak tahu diri! Kamu makan enak di Saung Ranggeum. Istrimu harus puas dengan
tahu sialan itu!”
Dada Bu Win turun naik.
Napasnya memburu.
Belum sempat menjawab, Pak
Hadi dan Bu Win mendengar seseorang mengucap salam.
“Assalamualaikum….”
Suara merdu itu berasal dari balik
pintu masuk yang masih terbuka. Sebuah wajah ayu melongok ke dalam dengan
senyum nan menawan. Matanya yang ikut tersenyum tetiba berubah membesar melihat
tahu berceceran di lantai.
“Ah, maaf. Maaf. Apakah saya
mengganggu Bapak dan Ibu?” Si Cantik menarik kembali kepalanya yang sudah
telanjur masuk. Sepertinya dia mafhum di tempat itu tengah terjadi kekacauan
berbau amarah.
Pak Hadi yang masih
terheran-heran dengan sikap istrinya terlihat gelagapan. Dia bingung hingga
tidak menjawab salam dari wanita yang baru datang itu.
“Sssh…. Sudah dulu, Bu. Malu,
ada tamu!” Suara Pak Hadi menyerupai desis yang tak begitu jelas.
“Ooo… jadi itu, ya, sundel
bolong yang kamu bawa-bawa ke rumah makan terus dijak jalan-jalan ke sana
kemari!”
Mata Bu Win hampir terlonjak
saking marahnya. Tangan kanan yang tadi menempel di pinggang kini bergerak
menunjuk-nunjuk muka Pak Hadi.
“Ya, ampun Buu…! Kubilang
sudah dulu! Brenti marahnya biar bisa kujelaskan!”
Suara Pak Hadi masih mendesis
dengan telunjuk menyilang di bibir. Wajahnya menyiratkan kebingungan yang luar
biasa. Bingung dengan sikap istrinya, juga bingung menghadapi tamunya.
Sementara Bu Win masih berkutat dengan kemarahannya.
Pak Hadi menyeret langkahnya
menuju pintu. Disapanya wanita itu dengan keramahan yang mengenaskan.
“Maaf, Neng, maaf! Mari masuk….
Duh, saya juga tidak mengerti mengapa jadi begini,” ucapnya pelan.
Sejenak kemudian lelaki paruh
baya itu berjongkok dan mengambil satu per satu tahu yang terserak lalu
menyimpan begitu saja di meja.
“Kamu! Ngapain deket-deket
suami orang! Lihat baik-baik! Dia itu udah tua! Bahkan cucunya juga udah tiga!”
tuduhnya pada wanita cantik yang masih berdiri. Napasnya kian tersengal.
“Iya, Bu. Pak Hadi sama tuanya
dengan ayah saya, Lukman Wijaya. Cucunya pun empat. Ayah menitipkan saya pada
Pak Hadi karena keduanya bersahabat sejak kecil. Saya mendapat tugas menjadi
tenaga penyuluh lapangan di sini, di Kecamatan Ciwiru.”
Tutur kata wanita cantik itu
demikian tenang. Tak ada keraguan sedikit pun meski sikap Bu Win seperti hendak
menelannya bulat-bulat.
Bu Win serasa mendapat pukulan
palu godam berton-ton beratnya. Bagi seorang wanita, tidak ada aib yang lebih
besar daripada didera rasa malu. Selain salah tuduh, dia mencemburui wanita
cantik putri dari sahabat suaminya.
Dulu, saat suaminya terjerat
penyalahgunaan dana bantuan rakyat, hanya Pak Lukman yang peduli dan
membangkitkan lagi semangat hidupnya. Dialah yang memberi modal usaha hingga
keluarganya mampu menata kembali hidupnya.
“Aaaarrrghhh…!”
Tetiba kerongkongan Bu Win
rasa terbakar.
*Salam Jumat berkah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar