Selasa, 22 Februari 2022

Cerpen: Lho, Kok Ada di Sini?

 

“Teteh? Lho, kok ada di sini?”

Tetiba seorang wanita cantik menyapa sambil menepuk lenganku. Aku yang tengah menuju warung sedikit terperanjat. Kusipitkan mataku yang memang sudah sipit. Kuingat-ingat senyumnya, sepertinya sudah begitu familiar.

“Aeh, ini Neng Lita? Pakabar, Neng? Duh, makin cantik aja, nih!” jawabku jujur.

Lita yang dulu kukenal gadis lugu sahabat adikku, kini kujumpa dengan tampilan yang sangat berbeda. Kulitnya putih mulus dan matanya semakin bercahaya. Tapi pandangannya membuatku sedikit bergidik. Garis-garis pada bola matanya berwarna cokelat terang. Aku melihat mata Si Mpus seperti berpindah pada matanya. Kukedipkan mataku untuk sedikit menghindar dari tatapan anehnya.

“Iya, saya Lita, Teh. Alhamdulillah baik. Cuma saya heran aja, kenapa Teteh ada di sini? Apa mataku yang salah, ya?”

Gadis itu kembali mengajukan pertanyaan yang sama. Sebelum menjawab, kutatap lagi matanya lekat-lekat.

“Nah, Teteh juga mikirnya begitu. Mata Neng Lita teh kenapa? Kok jadi aneh begitu?”

Kututup mulut dengan jariku. Ah, kebiasaan yang bikin malu. Tak bisa menahan kepo. Untunglah dia tersenyum.

“Ini mah karena softlens, Teh. Biar tampil beda. Cuma pertanyaan saya, kenapa Teteh ada di sini?”

Rupanya Lita begitu keukeuh dengan pertanyaannya.

“Oh… itu! Ya iyalah teteh ada di sini. Kan masih tinggal di Seladarma ini,” jawabku santai.

“Masalahnya, saya baru nyampe dari Ciamis. Waktu melintas depan cafe Adem Ayem, saya melihat Kang Dori masuk ke situ. Dikira Teteh yang digandengnya. Eh, malah ada di sini,” ujarnya.

Serr…. Tubuhku seperti disengat listrik. Meski tak menyebabkan kejang-kejang tapi berhasil membuat darahku mendidih. Kepalaku berdenyut kencang.

“Ya, udah, Teh, saya duluan ya?”

Aku tak sanggup mengangguk atau mengiyakan saat Lita pamit dijemput angkutan online. Kakiku bergetar hingga tubuhku sedikit oleng. Cepat-cepat aku berbalik arah kembali ke rumah.

“Kamu, ya! Dasar lelaki buaya! Mestiii nyar-nyari kesempatan buat bikin ulah!”

Emosiku memuncak. Kurebut buku yang tengah dibaca Kang Dori. Kulemparkan ke kolam kecil penghias taman di samping rumah. Kupukuli dadanya. Kutarik kaos oblongnya juga sarungnya. Tangisku tak bisa kutahan lagi.

“E... e… eh apa-apaan, ini Bu? Kok main pukul, main buka sarung segala!”

“Terus, siapa wanita yang tadi diajak masuk restoran Adem Ayem, hah? Seumur-umur aku gak pernah diajak makan di luar, kamu malah ngajak pelakor!”

“Lho, Bu. Siapa yang masuk restoran? Siapa yang pelakor? Dua hari ini aku 'kan enggak masuk kerja lantaran kakiku keseleo. Lha, Ibu kenapa?”

Apaaa? Kutatap pergelangan kakinya yang masih bengkak. Aduh, bagaimana aku bisa lupa?

Kutatap Kang Dori yang terheran-heran. Cepat-cepat kubantu dia memperbaiki letak sarungnya yang melorot. Lalu kupeluk erat-erat.

“Aduh, Bu. Jangan diinjak. Kakiku masih sakit!”

Kupeluk dia lebih erat lagi.

Cerpen: Hanya Tersedak

                 “Beneran? Besok mau ikutan gowes?” tanyaku pada Garda.

Tentu saja aku bertanya begitu. Selama ini kakak tingkatku itu termasuk orang yang tak acuh. Tampilannya selalu kusut. Pakaiannya kolor gombrang tak tersentuh setrikaan. Untungnya dia enak dipandang. Gantengnya nyaris sempurna.

“Ya, iyalah. Pengen juga gowes bareng kamu,” jawabnya sambil garuk-garuk kepala.

“Halah… paling juga besok enggak jadi!” ujarku sekenanya.

“Lihat aja. Besok pagi depan warung Kang Komar. Kamu ‘kan kalau gowes mesti lewat situ.”

“Yee… diam-diam ngintip juga!” Aku tergelak. “Ya, udah, sampe besok!”

Aku berlalu meninggalkan Garda yang masih berdiri di mulut gang. Kukayuh lagi sepeda kesayanganku. Aku masih punya waktu dua jam untuk mempersiapkan diri. Hari ini aku ada jadwal bimbingan tugas akhir. Segar rasanya menyempatkan gowes keliling jalan kampung.

Berteman nyanyian burung dari rumah Pak RT yang bersebelahan dengan tempat tinggalku, pagi itu kukayuh sepeda seperti biasa. Kumanfaatkan waktu sehari satu jam untuk gowes. Olahraga rutin yang kusukai dalam dua tahun ini.

Dari jauh kulihat Garda telah siap di warung Kang Komar. Tampilannya luar biasa. Setidaknya untuk pagi ini. Cycling jersey biru merah lengkap dengan helm-nya. Baru kali ini kulihat dia memakai baju yang benar.

“Ha! Ternyata …,” teriakku sambil tertawa.

“Bener, ‘kan?” sergahnya. “Aku tertarik lihat kamu gowes. Kok kayaknya enak banget gowes tiap pagi.”

Sejak itu aku punya teman gowes. Ternyata asyik juga gowes bareng. Jadi ada teman kalau turun dan menikmati sarapan bubur ayam.

Dari gowes berlanjut ngobrol. Aku merasa Garda mulai berubah. Tampilannya tak selusuh sebelumnya. Sesekali dia suka cari perhatian. Minta komentar atas pakaian yang dikenakannya. Tampilannya semakin keren. Apalagi saat dia mulai dapat pekerjaan. Sedang aku baru lulus sarjana.

Kuajukan lamaran pekerjaan ke berbagai tempat. Selain lamaran online, aku juga memasukkan lamaran pekerjaan langsung ke perusahaan.

Garda selalu siap dengan motornya mengantarku ke mana pun lamaran kusampaikan. Suaranya berisik dan asap berhamburan dari knalpotnya. Awalnya aku tak mau dibonceng dengan motornya itu. Namun, melihat kesungguhannya, tiap hari menjemput dan mengantar pulang, hatiku meleleh dibuatnya.

Akhirnya aku mendapat panggilan kerja di kantor cabang Purwokerto. Aku bersyukur sekali karena Lita adikku kuliah di sana. Jadi aku bisa langsung menuju tempat kosnya.

Seminggu aku berkemas. Seminggu itu pula Garda membantuku beli ini itu untuk kubawa ke tempat baru. Dia mengajakku merayakannya dengan makan siang di Saung Sawah. Rumah makan lesehan yang jauh dari pesawahan.

“Sebelum kamu pergi, aku ingin menitipkan sesuatu. Boleh yaa...!” Tak biasanya Garda bersuara lirih.

“Titip apaan? Kalau mau oleh-oleh, aku belum tahu makanan khas di sana. Nyampe tempat juga belum!” sahutku sedikit bercanda.

“Ri, aku serius. Aku ingin menitipkan wanita yang telah tersimpan di hatiku. Aku ingin kamu menjaga Lita sebagaimana kamu menjaga diri sendiri. Izinkan aku menjadi iparmu, Ri,” ucapnya dengan rona wajah serius.

Sepertinya aku tak mampu menyimak dengan jelas kalimat-kalimat selanjutnya. Bahagia yang telah bersarang dalam hatiku tetiba menjadi bara yang membakar kerongkongan.

Aku tersedak. Tak kutahan batuk yang menyerang hingga berlelehan air mataku. Tak kuminum juga air yang disodorkan Garda. Biarlah dia tahu, hanya karena tersedak, air mata luka ini membanjir tak bisa kutahan. 

Kamis, 17 Februari 2022

Cerpen: Bilur-bilur Sesal

 

Sudah lebih dari dua jam Katrin membuka-buka gawainya. Semua informasi yang memang sedang jadi trending topik saat ini telah dilahapnya dengan cepat. Dia tak puas hanya membaca beberapa informasi yang muncul di dinding medsosnya, tetapi semua informasi dari dalam dan luar negeri, dari info recehan hingga bahasan dari para ahli, dari koran lokal hingga internasional telah dibaca semua dan lebih dari cukup untuk memenuhi keingintahuannya. Videonya pun telah banyak yang ditonton. Hingga Katrin merasa lelah dan pandangannya beralih pada dinding ruang keluarganya.

Dengan perasaan yang tak karuan lantaran kegundahan mulai memenuhi hatinya, Katrin menatap dan menikmati foto keluarga yang telah lama menghiasi rumahnya. Seakan baru menyadari keindahan yang terpancar dari foto itu.

Saat itu kedua anak lanangnya tengah berkumpul. Fajrin bisa mengambil cuti saat Dimas yang masih kuliah tengah libur akhir semester. Momen istimewa itu dimanfaatkan dengan membuat foto keluarga. Katrin dengan Danang, diapit dua jagoannya. Sungguh, pancaran kebahagiaan itu tampak dari keempat pasang mata yang ada dalam bingkai keemasan itu.

Katrin mulai dirambati perasaan bersalah. Entah kapan dan di mana ia memulai langkah petualangan yang tak sengaja dia lakukan dengan Ferdi. Dikatakan tak sengaja karena memang dia tak berniat melakukan hal yang tak elok. Apalagi berselingkuh. Tidak! Sedikit pun tak tebersit niat seperti itu. Namun, makin lama makin sering bertemu, makin sering tak menjaga hati, makin terbukalah kesempatan itu. Kesempatan untuk mengisi hati yang tak terhijab. Walau hanya sebatas chat, makan berdua, serta duduk berendeng, dan berpelukan

Mereka dikenal sebagai rekan kerja yang kompak dan sama-sama sudah married. Katrin dengan dua anak lelaki dan Ferdi dengan sepasang anak kembar. Dari saling berbagi cerita tentang kelucuan anak, saling mengusulkan hadiah terbaik buat anak dan pasangan masing-masing, saling menolong di tempat kerja, ternyata berlanjut pada kedekatan hati. Perasaan yang tumbuh berlanjut makin terpupuk karena kemunculannya tak berusaha dihalau. Justru makin bertambah hari, keduanya makin menikmati kebersamaan dan percikan keindahan yang ditimbulkannya. Mereka bermain api justru di tengah kebahagiaan keluarga masing-masing yang tak bermasalah.

Katrin benar-benar gundah. Dia tak mungkin memberi tahu Danang. Bagaimana jika gara-gara terpapar Covid-19 suaminya jadi tahu kenakalannya selama ini?  Membayangkan hal itu, Katrin dihinggapi rasa takut dan malu. Dia takut, semua akan terkuak karena penelusuran yang dilakukan tim medis. Jadi, sebelum itu terjadi, aku harus segera periksa mandiri, begitu pikirnya.

Sambil mengepak pakaian ke dalam kopernya, menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk jika harus menjalani karantina, Katrin mengingat kembali percakapan telepon dengan teman terkasihnya.

“Apa? Kapan kamu diperiksa?”

“Lima hari yang lalu, Cin... Aku udah dua tahap pemeriksaan. Sampel darah juga. Hasilnya benar-benar positif,” suara Ferdi merendah. “Para petugas medis menanyakan kedekatanku dengan siapa saja. Seisi rumahku sudah tes semua. Istriku juga kena. Untung Kakak sama Adek di luar kota. Gak mungkin, kan, aku bilang kedekatanku sama kamu, Cintaa…!”

“Ya, ampuun…,” Katrin benar-benar terhenyak. “Aku harus bagaimana?” suaranya berubah menjadi bisikan yang berbalut rasa takut.

Katrin didera rasa panik. Tenggorokannya tetiba berasa kering. Napasnya memburu dan tubuhnya menggigil.

“Periksalah secara mandiri sebelum petugas mendatangimu. Kita pasti jadi bahan berita. Apalagi jika informasi diambil dari kantor. Bisa berabe.”

“Ke mana aku harus periksa?”

“Pergilah ke rumah sakit swasta. Kamu harus gerak cepat tapi tetap tenang yaa…! Kangen selalu, Ciin…!”

Ucapan sayang Ferdi tak lagi menggetarkan hatinya. Yang ada saat ini adalah penyesalan dan rutukan atas kebodohannya. Ya, tiga hari lalu Ferdi mengajak keluar bareng. Hanya cari tempat yang indah buat melepas kangen karena tak lagi sering jumpa gara-gara pandemic Covid-19 ini. Katrin sudah pandai membuat alasan keluar agar suaminya tak menaruh curiga. Ke salon, mencari bahan kue, ke dokter kecantikan, dan lainnya. Pertemuannya pun tak lama. Cukup saling melepas kangen dengan mengobrol, berpegangan tangan, dan beberapa pelukan hangat.

Katrin memegangi dadanya yang berdetak makin cepat. Ketakutan akan mati muda dan rasa bersalah pada keluarganya, langsung menyergap sehingga kepalanya jadi sedemikian sakit.

“Hei, Bunda Syantik, mau ke mana, nih? Kok kayak yang udah siap,” tiba-tiba suaminya sudah berada di sampingnya saat Katrin selesai packing. Katrin tak mendengar suara mobil Danang saking galaunya. “Eh, kok nangis? Kenapa, Sayang? Ada apa?”

Suara lembut Danang dengan segala perhatiannya, membuat Katrin makin terluka. Luka karena ulahnya sendiri.

Danang memeluk istri tercintanya sambil membelai wajah cantiknya. Dikecupnya kening dan mata basah yang memiliki sejuta pesona itu. Katrin balas memeluk suaminya erat-erat. Tangisnya tak tertahan lagi. Dilepasnya semua beban perasaan di dadanya yang bidang, yang selalu siap memberinya rasa nyaman. Sikap Katrin ini membuat Danang kebingungan.

Belum sempat menjelaskan kegundahan hatinya, dari luar rumah terdengar derum mobil berhenti disertai suara-suara agak gaduh dari beberapa orang. Danang dan Katrin mengintip dari balik gorden. Danang melihat mobil dari Dinas Kesehatan terparkir di depan rumahnya. Beberapa tetangga keluar dari rumahnya dan melihat dari balik pagar.

Katrin makin gemetar. Tubuhnya benar-benar menggigil. Sungguh tak terbayangkan takutnya jika dia benar-benar terpapar virus yang mematikan itu. Apa yang harus dikatakan pada suaminya jika petugas menjelaskan sebab-sebabnya?

Pertanyaan dan ketakutan dalam pikiran Katrin serasa makin menghimpit. Berada di ruang tamu yang teduh dan nyaman ini tak terasa lagi kenikmatannya. Ruang dan waktu begitu menyesakkan dadanya. Ya, Tuhan, apa yang harus dikatakan pada suaminya? Beranikah menyampaikan dengan jujur dan meminta maaf pada lelaki yang sangat mencintainya ini? Katrin kembali ke ruang tengah untuk menenangkan diri.

Katrin berpikir, orang-orang yang melihat petugas turun dari mobil dengan pakaian APD tentu bertanya-tanya dalam hatinya, ada apakah gerangan? Apakah di daerahnya ada orang yang terpapar virus Corona? Bagaimana kalau mereka menuju rumah ini? Bagaimana jika informasi kedekatanku dengan pasien positif Corona telah diketahui tim medis? Duh, Gustiii…

Jantung Katrin serasa hendak copot saat mendengar ketukan di pintu rumahnya. Dia menyaksikan suaminya membuka pintu dan menjaga jarak dengan orang yang datang. Siapa, ya?

Katrin melongokkan kepala. Jantungnya benar-benar berdentum dengan dahsyatnya hingga ia terduduk lemas. Ya, Allah, petugas kesehatan itu ternyata membidik rumahnya. Mereka datang hendak memeriksanya.

Katrin tak punya daya lagi. Tubuhnya lemas tak bertenaga. Dia menerima pemeriksaan dan menurut saja ketika petugas mengajaknya keluar rumah. Diambilnya koper yang telah disiapkan dari tadi. Petugas mengiringi langkah lunglainya menuju mobil kesehatan. Sebelum pergi, Katrin melihat pada suaminya yang tengah mendapat penjelasan dari petugas medis lainnya.

Pandangan Danang yang biasanya lembut dan penuh dengan rasa sayang itu kini terlihat memerah. Katrin tak tahu, mata suaminya memerah itu karena menahan tangisan haru atau karena mendengar penjelasan petugas itu. Maksudnya, penjelasan tentang riwayat keterkaitan dirinya dengan penderita Covid -19 yang bekerja satu ruangan di kantornya. Katrin tak yakin tentang hal itu. Wanita yang didera rasa bersalah ini hendak menghampiri suaminya dan ingin menyampaikan permintaan maafnya. Sayang, petugas menghalangi dan suaminya terlihat sangat marah.

Danang bertolak pinggang, memandangi istrinya sambil menggelengkan kepala. Kekecewaan dan bayang hati yang terluka tergambar pada ekspresinya. Bibirnya terkatup. Gerahamnya menegang. Lelaki tangguh dan selalu mengayomi keluarga itu berbalik saat Katrin menangkupkan kedua tangannya tanda meminta maaf. Saat memunggungi istrinya, Danang menundukkan kepala lalu mengusap muka dengan perasaan gundah.

Katrin berbaring di ruang sepi. Kamar yang tak luas ini hanya berisi satu tempat tidur. Satu-satunya tempat yang bisa digunakan untuk merenung dan berbaring. Di sekeliling tempat tidurnya terdapat gorden plastik yang menjadi pembatas pandangannya. Sebuah meja kecil tersimpan di dekat pintu masuk, tempat perawat menyimpan jatah makanannya. Katrin merasa, hidupnya akan berakhir di tempat sepi ini. Tanpa tangis dan tanpa tatap duka dari siapa pun. Yang ada paling hanya pandang belas kasihan.

Berita-berita yang mengabarkan kondisi pasien Covid-19 membuat perasaan Katrin makin tak karuan. Kesedihan dan kesepian telah menjadi bagian dari hari-hari yang dilalui di kamar sempitnya. Apalagi saat mengetahui kabar kematian Ferdi, harapan hidupnya makin menipis. Ferdi saja tak mampu bertahan dari penyakit itu, apalagi dirinya yang rapuh.

Yang menggerogoti tubuhnya kini bukan hanya virus itu, melainkan rasa bersalah pada suaminya. Katrin tak begitu sedih mengetahui Ferdi meninggalkannya walau telah mengisi sebagian ruang hatinya. Karena kesedihan terdalamnya saat ini hanyalah rasa takut tak mendapat maaf dari suaminya. Apalagi dari berita diketahui bahwa suaminya pun positif terpapar virus ini.

Sungguh Katrin merasa sangat tertekan. Jiwanya melemah. Selain tertekan atas penyakit yang menimpanya, media yang memberitakan kronologi tertularnya seorang karyawati yang berselingkuh dengan karyawan positif Covid-19 juga turut membuat kondisi Katrin makin menurun. Apalagi saat Fajrin dan Dimas menanyakan kebenaran atas berita itu.

“Maafkan bunda, Nak. Bunda tak akan memaksa kalian untuk percaya. Berita-berita itu sedemikian derasnya. Bunda hanya minta, tolong maafkan bunda. Doakan setiap saat agar jika bunda harus pergi, bunda telah mendapatkan maaf dari kalian, buah hati bunda. Semoga kalian mendapatkan perlindungan-Nya dan berhasil menjadi orang yang jujur.”

Fajrin dan Dimas tak lagi mempermasalahkan hal itu. Mereka telah cukup dewasa. Dalam keadaan sempit, Katrin masih bisa bersyukur. Kedua anaknya tak termakan oleh berita itu.

Katrin selalu teringat pada suaminya. Entah di mana Danang dirawat. Karena selama menjalani masa karantina, dia tak bisa menghubungi suaminya. Andai sembuh dan bisa kembali ke pangkuan keluarga, Katrin hendak bersimpuh memohon maaf pada Danang. Apa pun keputusan Danang, akan diterimanya sebagai penebus kesalahannya. Andai tak sempat jumpa, dia hanya berharap sedikit maaf dari suami yang amat dicintainya.

“Assalamualaikum. Bagaimana kabar Mas? Di mana Mas dirawat?”

Berhari-hari Katrin menunggu jawaban atas sapaan itu. Gawainya tak menampakkan tanda-tanda munculnya balasan chat dari suaminya.

“Maafkan saya, Mas. Sungguh saya hanya berharap Mas memaafkan kesalahan saya. Saya bersalah telah melabuhkan perasaan pada orang lain. Padahal saya tahu, saya sangat mencintai Mas Danang juga kedua anak kita. Saya telah khilaf. Maafkan saya. Saya hanya berharap Mas memaafkan kesalahan saya sebelum saya harus menghadap-Nya.”

Itu pun tak ada jawaban. Gawai suaminya tidak aktif. Betapa bilur-bilur penyesalannya telah memenuhi seluruh ruang hatinya. Betapa hidup serasa sia-sia karena tak mendapat rida suami. Betapa jauuh dari keridaan-Nya jika tak mendapat tatapan surgawi dari suaminya. Betapa semua ini sangat mengoyak harapannya.

Ternyata, saat dimintai kabar, Fajrin dan Dimas pun tak bisa mengontak ayahnya. Mereka tak mengetahui tempat ayahnya dirawat. Katrin menanyakan tempat rawat inap suaminya kepada petugas medis, namun mereka hanya menggelengkan kepala. Kedatangannya ke ruangan hanya untuk mengecek kondisinya dan memberikan vitamin. Selanjutnya Katrin selalu sendiri di dalam ruangan.

Saat kerongkongan terasa begitu kering, saat sesak kadang melanda, sering Katrin merasa hidupnya segera berakhir di tempat ini. Karena itulah, dia jarang tidur. Hari-hari diisinya dengan menyebut asma-Nya. Senantiasa memohon ampunan atas segala kesalahannya selama ini. Tiada malam tanpa sujud panjangnya. Tiada detik tanpa permohonan ampunan-Nya. Katrin berusaha mengatasi rasa sakit dan rasa takutnya dengan terus mendekatkan diri pada-Nya. Di satu sisi dia merasa ajal segera menjemput, namun di sisi lain dia berusaha menjaga semangat hidupnya. Satu yang membuatnya sangat ingin bertahan hidup adalah harapannya untuk berjumpa dan meminta maaf pada suaminya.

Beban yang menindih sukma Katrin makin lama makin berat. Dia makin tak mampu memikulnya. Hal ini tentu sangatlah berpengaruh pada kondisi kesehatannya. Di ujung kepasrahannya, dia mengalami kondisi puncak. Tangannya berusaha menggapai bel tanda panggilan darurat saat merasa sulit bernapas. Katrin segera ditangani dengan ventilator agar mendapatkan asupan oksigen yang cukup. Namun, meski sudah menggunakan alat bantu gagal napas, kondisi Katrin tak juga membaik.

Sebelum benar-benar napasnya berhenti, Katrin masih bisa mendengar gawainya berkali-kali berbunyi, pertanda pesan yang masuk. Wajahnya bersinar. Segaris senyum tipis tersungging di bibirnya. Sesaat kemudian, Katrin tiba pada penghujung hidup.

“Innalillahi wainna ilaihi rajiun …,”

Hampir bersamaan, dokter dan perawat yang menanganinya melafazkan kalimat istirja, mengantar kepergian pasiennya.

Perawat melihat gawai milik pasien yang terus berbunyi. Dia tak berani mengambil atau membacanya. Mungkin merasa sungkan pada dokter. Namun dokter rupanya cukup mengerti. Melalui isyarat, dokter mengizinkan perawat untuk membacanya.

“Cepat sembuh, ya, Sayang. Maaf, HP Mas hilang. Mungkin jatuh saat menuju tempat rawat inap. Nomornya baru diaktifkan lagi setelah Mas dinyatakan negatif. Jangan berpikir yang berat-berat. Cepatlah sembuh. Kujemput nanti agar kita bisa menua bersama dan bermain dengan cucu. Peluk cium Mas yang selalu sayang.”

Siang yang terik berangsur meredup. Semilir angin mengiringi kepergian seorang wanita tanpa pengantar air mata duka.


Cerpen: Mendulang Cinta

 

“Ya Allah, Gustiii… padahal soal kacamata aku tidak pernah sembarangan. Pasti kusimpan di tempatnya,” Bu Mar mengatupkan bibirnya sambil menahan marah. Wanita lebih dari paruh baya itu bertolak pinggang di depan bufet tempat menyimpan kacamatanya. Rambut putihnya yang biasa tertutup ciput kini terlihat berumbai-rumbai tak beraturan. Semrawut seperti suasana hatinya kini.

“Bener kok, pasti kusimpan di dalam tas gantung wadah kacamata ini. Sengaja kugunakan tas bening ini biar mudah dilihat,” demikian dalih Bu Mar saat suaminya mengatakan kalau-kalau ia lupa menyimpan kacamata di sembarang tempat.

Pak Sam yang tengah membersihkan kandang Si Dhenok dan Cah Bagus melirik istrinya yang masih mondar-mandir mencari kacamata. Tak tega sebenarnya melihat istrinya kebingungan begitu. Tapi pekerjaannya belum tuntas betul dan tak bisa ditinggal untuk membantu istrinya. Dia tak bisa meninggalkan perkutut kesayangannya di saat tanggung. Membersihkan kandang dan melengkapi fasilitasnya belum dituntaskan.

“Sudahlah, Bu, nanti Bapak bantu. Bentar, ya? Bapak masih bersih-bersih kandang. Barangkali kalau Bapak yang nyari, bisa cepat ketemu,” kata Pak Sam. “Lagian Ibu kan punya banyak kacamata, pake yang ada kan bisa.”

“Banyak gimana? Sembarangan aja kalau bicara!” Bu Mar agak tersinggung dengan ucapan suaminya. “Memangnya aku pemboros apa? Masa kacamata punya dua aja dibilang banyak. Lagi pula yang satu udah patah framenya”

“Lha iya, toh? Lebih dari satu itu bisa dibilang banyak, Bu! Banyak bukan berarti boros, kok. Ibu kan tambah ayu kalau pake kacamata yang beda-beda.”

“Bapak ini… pake muji segala! Biar aku gak tambah marah, kan? Pujian yang kayak gitu udah tahu dari dulu! Wis gak usum!” kata Bu Mar sambil memonyongkan bibirnya.

“Lha ya, sudah! Gimana, udah ketemu kacamatanya?”

“Kalau sudah ketemu, aku gak pusing kayak gini, Pak! Cepet dong bantu carikan,” Bu Mar mulai terlihat gusar.

Suami istri Pak Sam dan Bu Mar tinggal bertiga saja. Kedua anak lelakinya telah berumah tangga dan tinggal di luar kota. Bu Mar mengisi waktu dengan menulis artikel atau cerita. Kemampuannya dalam mengolah kata tidak perlu diragukan lagi. Itu sebabnya, tulisan beliau sering dimuat di surat kabar dan majalah.

Bagi Bu Mar, menulis memberi kebahagiaan tersendiri. Bisa jadi teman pengisi hari sehingga ia terhindar dari rasa jenuh. Bisa juga jadi pengobat lara manakala merindukan anak cucu namun tak bisa bersua. Apalagi di saat pandemik Corona sekarang ini. Kedua anak lelakinya tak bisa mudik karena hampir semua kota menerapkan PSBB.

Setelah pensiun dari tugas negara, Pak Sam menyibukkan diri dengan burung-burungnya. Cukup banyak burung peliharaannya. Si Dhenok dan Cah Bagus adalah perkutut kesayangannya. Nyanyian burung-burung itulah yang menjadi hiburan yang paling membahagiakan dirinya. Bisa dikatakan, di usia senja suami istri itu mampu mendulang kebahagiaan dengan caranya masing-masing.

“Udah dicari di mana saja, Bu? Biar sekarang Bapak bantu nyari ke tempat yang belum ibu jelajahi,” Pak Sam menawarkan diri.

“Rasanya sih, udah ke semua tempat, Pak!” kata Bu Mar sambil matanya tetap menyapu tempat-tempat penyimpanan kacamata di ruang keluarganya. “Duh, sampai pusing kayak gini.”

“Ya, sudah, kalau sudah lelah, Ibu duduk saja dulu. Biar Bapak sekarang yang nyari,” kata Pak Sam.

Pak Sam sangat menyayangi istrinya dan tidak ingin dia terlalu lelah. Pak Sam takut, sebab menurut artikel, kondisi tertekan pada seseorang bakal berakibat buruk pada tubuh dan pikirannya. Lelah lahir batin bisa menjadi penyebab seseorang terkena depresi.

Nayla yang baru selesai mencuci, mencoba urun tangan. Lupa menyimpan kacamata termasuk kejadian yang memiliki frekuensi tinggi. Sering banget, malah. Tapi, untuk menyenangkan ibunya, semua orang harus ikut bergerak.

Nayla mencari di bufet, lemari, kamar dan semua tempat yang biasa didatangi ibunya. Pencariannya tak boleh menggunakan kata agar tak mengundang omelan berlebih dari sang ibu.    

Nayla melihat ibunya mengambil tisu dan mengelap keringat pada keningnya, pada hidungnya, dan lehernya. Ibunya mengangkat kedua tangannya untuk memijit kepalanya yang cenut-cenut dan memanas gara-gara kacamatanya.

“Hah? Apa ini?”

Tiba-tiba Bu Mar menarik tangannya, terkekeh sendiri, lalu meledaklah tawanya.

Tentu saja Pak Sam yang baru beranjak hendak menjelajah mencari kacamata jadi kaget dan tersentak. Ia takut kalau-kalau istrinya mendadak depresi gegara kacamata. Ia sering membaca jika terlalu lelah atau tertekan, seorang istri bisa terkena depresi. Hal ini terjadi pada istri kawannya. Bahkan lebih jauh lagi, jika tidak ditangani dengan benar, bisa terganggu pikiran dan bisa terus berhalusinasi. Hii… Pak Sam bergidik lalu mengucap istigfar.

Cepat-cepat ia mendekat dan menyaksikan istrinya yang masih tertawa. Pandangan Pak Sam beralih pada tangan istrinya yang sedang memegang kacamata.

“Udah ketemu to, Bu? Dari mana?” Pak Sam kelihatan senang.

“Aduuh, Pak, udah pusing nyari-nyari ke semua tempat, ternyata menclok di kepala,” jawab Bu Mar dengan sisa-sisa tawanya.

“Ealaah…!” Pak Sam tertawa terbahak-bahak.

“Tuh kan, Bapak malah ngetawain!” kata Bu Mar sambil melotot.

Pak Sam tak menjawab. Ia pergi menyembunyikan tawanya. Nayla hanya mesem lalu melanjutkan pekerjaannya menjemur pakaian.

Sesungguhnya, Nayla tengah galau. Ibunya berharap agar gadis bungsunya segera mendapat pendamping. Namun sayang, Pak Sam tak menyetujui pilihan Nayla. Kang Yandi yang berhasil memikat hatinya, tak sesuai kriteria ayahnya.

“Penghidupan kayak apa nanti kalau kamu pilih pemuda itu. Wong Si Dhenok aja gak suka!”

Lagi-lagi itu yang dibahas. Alasan yang tak bisa diterima Nayla.

Ya, saat itu, Yandi datang ke rumah Nayla hendak memberikan ikan dari kolamnya yang baru saja dikuras. Ikan gurami besar itu masih hidup. Gurami itu meronta dan gerakan yang ditimbulkannya sangat kuat. Yandi pun hampir kewalahan memegang tali pengikatnya.

Si Dhenok yang tengah berjemur terlihat kaget dan ketakutan. Ia menjerit dan kebingungan ke sana kemari mencari tempat persembunyian di kandangnya. Karena panik, burung itu membentur-bentur dinding kandangnya. Bulu-bulu perkutut kesayangan Pak Sam beterbangan hingga Dhenok yang begitu mulus jadi terlihat kumal dan jelas-jelas terkena depresi. Sikap Dhenok inilah yang menjadi dasar penolakannya pada Yandi.

Pak Sam percaya, perkutut bukan sekadar burung. Perkutut burung bertuah yang mendatangkan berkah pada keluarganya. Bukan karena Pak Sam tak menyembah Gusti Allah, justru beliau penganut agama yang taat. Namun, beliau sangat menghargai warisan budaya keluarga yang memelihara dan menghormati burung perkutut. Perilaku dan sikap burung itu selalu diterjemahkannya sebagai penanda atau firasat atas suatu kejadian.

Sejak itulah Pak Sam tak menyukai Yandi. Padahal pemuda itu jelas asal-usulnya, baik budi pekertinya, sarjana yang mengabdikan diri pada bidang perikanan dan pertanian masyarakat. Sungguh calon menantu idaman. Semua orang tua yang punya anak gadis berharap mendapatkan Yandi sebagai menantu. Namun hati Yandi hanya tertambat pada Nayla. Demikian pula sebaliknya.

“Pak, ayolah, demi anak kita. Kasihan Nayla. Umurnya sudah seperempat abad dan bayangan jodohnya …,”

Entah ke berapa kali, tak bosan Bu Mar menyampaikan kekhawatirannya atas jodoh untuk Nayla.

”Ah, sudahlah, Bu. Lupakan pemuda itu. Dia bukan jodoh anak kita. Ingat, Si Denok pun tak suka padanya,” Pak Sam mencibir.

“Bapak nih. Mestiii… arahnya ke situ. Dhenok kaget kan gegara gurami, bukan tak suka pada Yandi,” Bu Mar mengulang jawaban yang sama setiap kali berdebat soal Yandi.

Pak Sam tak menjawab lagi. Dengan cekatan, ayah Nayla itu mengerek kandang Cah Bagus setelah Si Dhenok berada di ketinggian yang disukainya. Kepala Pak Sam mendongak, tengadah mengikuti arah kandang yang melaju tegak lurus. Lalu berhenti setara dengan ketinggian kandang Si Dhenok. Mulutnya terus menyuarakan bunyi perkutut yang bersambut dengan Cah Bagus. Benar-benar sepenggalah hari yang menyenangkan.

Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba Cah Bagus bisa membuka pintu kandang lalu terbang berputar-putar di sekitar kandangnya. Pak Sam kaget luar biasa. Dia tak pernah lalai menutup pintu kandang. Hatinya serasa lenyap bersamaan dengan perkututnya yang terbang berpindah-pindah.

Setelah puas bersahutan dengan Si Dhenok, Cah Bagus terbang dan menclok di pagar rumah. Sungguh besar harapan Pak Sam bisa mendapatkan perkututnya kembali. Mulutnya komat-kamit sambil tangannya terjulur merayu Cah Bagus agar sudi kembali. Namun burung itu malah terbang menjauh ke arah selatan.

Dari jauh, terlihat Yandi berjalan bersama Pak Lurah menuju arah Pak Sam. Kedua orang itu melihat kegusaran Pak Sam yang terpancar dari raut mukanya. Ditambah dengan langkah Pak Sam yang mondar-mandir penuh kepanikan.

“Selamat siang, Pak Sam. Mengapa, eh, ada apa, Pak?” sapa Pak Lurah sambil memperbaiki letak maskernya.

Pak Sam tak segera menjawab. Keringat dingin membasuh tubuhnya. Orang tua itu limbung karena kakinya yang ndredeg tak mampu menopang berat badannya. Dengan sigap, Yandi dan Pak Lurah menahannya agar tak sampai jatuh membentur tanah. Mereka mendudukkan Pak Sam di bangku panjang.

Setelah istrinya memberi minum, Pak Sam menarik napas panjang lalu memandang Yandi dengan sorot mata yang memerah.

“Ini! Ya, ini! Dua kali saya ketemu orang ini, dua kali pula Dhenok dan Bagus kena masalah. Pasti tak salah lagi! Kamu pembawa gerhana di rumahku!” suara Pak Sam bergetar saking marahnya. Inginnya melakukan yang lebih kasar tapi sungkan pada Pak Lurah.

“Kenapa dengan Dhenok dan Bagus Pak?” lanjut Pak Lurah. Yandi hanya diam menyimak.

Pak Lurah mendapat sedikit penjelasan dari Bu Mar. Beliau mengangguk-angguk, menunjukkan sikap prihatin. Setelah sedikit berbasa-basi, keduanya berdiri hendak melanjutkan perjalanan.

Tiba-tiba terdengar siulan nyaring Cah Bagus. Siulan yang biasa dibunyikan saat perkutut itu merasa bahagia. Ya, Pak Sam hafal betul dengan warna siulan burung pujaannya itu. Saat Cah Bagus sedih, sakit, murung, atau bahagia. Semua dengan warna suara yang berbeda.

Keheranan Pak Sam kian bertambah, perkututnya terbang mendekat dan hinggap di bahu Yandi. Tangan pemuda itu secara refleks mengusap lembut bulu abunya yang disambut dengan sundulan kepala perkutut pada dagu dan pipi Yandi. Dua makhluk yang baru bersentuhan itu begitu akrab dan bersahabat.

Pak Sam mengulurkan tangannya hendak merayu Cah Bagus agar kembali padanya. Namun burung itu menghindar dan hinggap di pohon jambu.

“Maaf. Maaf Cah Bagus! Maafkan semua kekeliruanku selama ini.”

Kedua tangan Pak Sam ditangkup di dada, kepalanya menunduk khidmat menghadap perkututnya. Seakan tengah meminta maaf pada makhluk yang diseganinya.

Entah bagaimana pula, Cah Bagus kembali meluncur dan hinggap lagi di bahu Yandi yang masih terheran-heran. Tangan kanan Yandi dengan lembut memegang Cah Bagus.

“Kembalilah pada Bapak, ya? Jangan biarkan beliau kehilanganmu.”

Seakan mengerti ucapan pemuda tampan itu, Cah Bagus diam saja saat Yandi menyerahkannya kepada Pak Sam.

Sebelum kedua orang itu pamit, Pak Sam menepuk bahu Yandi dan berbisik, “Kutunggu dalam seminggu ini. Datanglah dengan orang tuamu.”

Mata Yandi berbinar. Dia tahu, Nayla melihatnya dari balik jendela.

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  


Cerpen: Menghalau Prasangka

 Hampir setahun aku tak pernah membuka pintu belakang yang terhubung ke halaman rumah Kak Ersa. Dialah satu-satunya kakakku karena kami hanya dua bersaudara. Kakak yang selalu melindungiku di masa kecil. Selalu membuat hidupku tenteram saat itu. Dia akan selalu tampil sebagai pelindung dan pengayom bagiku jika aku berada pada suasana tertekan karena ulah beberapa teman lelaki yang suka menggoda kami.

Pernah suatu kali. Tengah aku menangis lantaran sekelompok anak laki-laki menggodaku, tetiba kakakku datang dan menghujani mereka dengan lemparan kerikil. Saat itu, di depan kelasku teronggok gunungan kerikil yang akan menjadi salah satu bahan bangunan untuk memperbaiki ruang kelas yang sedang dibongkar. Untunglah tak ada yang terluka.
Rumah kami berdiri di atas tanah warisan orang tua. Tanah milik ayah ibu itu cukup luas dengan bentuk memanjang ke arah belakang dari jalan raya. Tanah memanjang itu dibagi dua. Entah bagaimana, aku mendapat tanah bagian depan, yang menghadap jalan raya. Sedangkan kakakku beroleh tanah di belakangku. Setelah dibangun, rumah kami sama-sama menghadap ke arah utara atau menghadap ke jalan raya.
Kurelakan sebagian tanah bagian samping untuk jalan masuk ke arah rumah kakakku dengan lebar 1,2 meter. Cukup untuk jalan lewat kendaraan roda dua. Otomatis rumah yang kubangun tidak lebih lebar dari rumah kakakku.
Aku baru tahu kemudian, mengapa kakakku lebih memilih tanah bagian belakang daripada tanah depan yang bersisian dengan jalan raya. Saat kelakar, dia mengatakan kalau yang mendapat tanah bagian depan harus rela menyisakan lahan untuk jalan menuju rumah di belakang. Harus rela pula halamannya menjadi tempat memarkir mobil milikku, juga miliknya.
Awalnya aku merasa dicurangi oleh Kak Ersa. Pantas saja dia langsung memilih tanah bagian belakang. Lahannya tidak akan berkurang oleh keperluan lain. Rumah yang dibangunnya sangat megah dan memiliki ruang-ruang yang cukup artistik. Sedang rumahku, hanya memiliki ruang-ruang utama tanpa area tambahan untuk itu-ini.
Tentu saja hal itu berdampak pada bangunan yang kumiliki. Rumahku lebih kecil dibandingkan dengan rumah kakakku. Karena itulah, kami membangun lantai dua untuk menambah dua kamar untuk anak bujangku. Sementara, aku tinggal di lantai bawah.
Oh, iya, untuk mengurangi pikiranku yang kadang suntuk, suamiku mengusulkan agar kami membuka toko kelontong. Selain memberi kesibukan untukku, juga salah satu upaya untuk perbaikan ekonomi keluarga. Pemilihan usaha menjual barang-barang keperluan rumah tangga itu atas dasar pemikiran karena diperlukan orang sepanjang masa. Tidak akan basi juga tak akan susut. Sementara itu, suamiku tetap menjalani profesinya sebagai pegawai pemerintah daerah. Jika ada waktu, Kang Hendi pun turut membantu melayani pembeli.
Kuisi waktu dengan menjaga warung kelontong yang menjadi bagian dari sumber penghasilan keluargaku.
Situasi pandemi yang menuntut orang untuk tinggal di rumah, membuat tokoku kebanjiran pembeli. Hal ini terjadi karena beralihnya kegiatan masyarakat pada pemeliharaan tanaman hias membukakan pintu rezeki bagi kami. Beragam pot dan wadah peralatan rumah tangga mendominasi penjualan selama hampir dua tahun ini. Stok barang yang kulipatgandakan pun tak pernah bersisa. Permintaan masyarakat semakin meningkat. Sejak itu aku merasa bersyukur memiliki rumah di bagian depan.
Pagi itu Kak Ersa kembali mengambil enam buah pot model siput untuk aglonema jaipongnya yang terus bertambah. Untuk kakakku, aku tak begitu perhitungan. Kalau dia membayar kuterima, kalau tidak pun tak akan kutagih.
“Tanamannya nambah terus ya, Kak?” tanyaku sambil membereskan barang yang baru datang. Aku biasa dibantu oleh Titi, gadis piatu yang sangat rajin. Dia sedang menggoreng nasi untuk sarapan dan belum masuk toko.
Ada Heni juga yang membantu bagian administrasi dan keuangan. Hanya saja hari ini dia belum datang. Sesekali, kuizinkan dia datang agak siang kalau tidak terdesak oleh pekerjaan administrasi.
“Iya, nih! Udah lebih dari selusin. Ini nambah lagi potnya. Uangnya nanti ya, Lin!”
Kakakku berdiri di dekat meja administrasi lalu beranjak keluar.
“Iya, Kak. Santai aja!” jawabku. Aku hanya melihat punggung Kak Ersa yang berlalu dari tokoku.
Selesai menata pot dan barang lainnya, aku teringat pada amplop berisi uang yang akan kusetorkan tunai pada Pak Jali. Dia lebih suka uang tunai daripada transfer. Katanya lebih praktis dan bisa langsung dipergunakan lagi.
Uang sejumlah lima belas juta itu seingatku pagi-pagi kusimpan di meja administrasi. Tergeletak begitu saja diwadahi kresek hitam di antara lembaran nota catatan keuangan.
Aku dibuat panik karena uang itu tak ada di tempat. Aku teringat kakakku yang tadi berdiri di dekat meja. Tapi, masa iya? Kutepis prasangka sambil terus mencari-cari kresek berisi amplop.
“Ti, lihat kresek hitam di meja ini, enggak?” tanyaku saat Titi masuk toko. Bibirnya masih mendesis. Rupanya dia baru selesai menyantap nasi goreng pedas.
“Enggak, Bu. Kapan Ibu nyimpennya? Soalnya tadi saya beli bumbu dapur juga wadahnya pake kresek hitam. Ibu perlu kresek? Nanti saya ambilkan.”
“Bukan. Bukan. Ya, udah, enggak apa-apa.” Jawabku memutus pembicaraan.
Ya, aku tahu sejak subuh tadi Titi sibuk di dapur. Suamiku pamit berangkat tugas ke luar kota setelah salat subuh dijemput mobil kantor. Baru aku sendiri yang masuk toko dan menyimpan uang itu di meja.
Terpaksa aku berangkat menuju bank untuk mengambil uang. Setor pada Pak Jali tak bisa ditunda.
Lalu, ke mana uang dalam kresek itu? Haruskah kutanyakan pada Kak Ersa? Bagaimana kalau kakakku tersinggung? Aku jadi bingung sendiri.
Dua hari setelah itu, Kak Ersa membelikan sepeda motor gres buat Danang. Aku jadi semakin gelisah dengan pikiranku sendiri.
Soalnya, beberapa hari yang lalu, Kak Ersa hendak meminjam uang untuk membeli motor buat anaknya. Aku belum bisa memberinya karena utang kakakku sudah cukup banyak dan belum dibayar sedikit pun. Tiba-tiba saja Danang membeli motor baru. Bukankah itu cukup untuk membangkitkan prasangka?
Dengan sangat hati-hati aku menanyakan hal ini pada Kak Ersa.
“Wah, Danang motor baru, ya? Dapat rezeki nomplok, Kak?” Kuukir senyum semringah.
“Ya, iyalah. Memangnya cuma kamu yang punya banyak uang?”
Deg. Jawaban kakakku terasa aneh. Ketus dan tak nyaman didengar.
“Ya, enggak begitu. Lagian kan Kakak bilang sedang perlu uang buat beli motor. Eh, tak tahunya udah langsung dapat,” jawabku berusaha tak terpancing emosi.
Kakakku hanya mendengus.
“Bayar kontan, Kak?” tanyaku, kepo.
“Apa perlu aku tunjukin kuitansinya? Ya, kontanlah!”
Kak Ersa melengos hendak meninggalkanku. Kutahan dengan memegang tangannya.
“Em… kalau Kakak sedang banyak rezeki, boleh dong mm… uangku dicicil sedikit-sedikit. ‘Kan itu modal usaha.”
Meski takut kakakku bakal tersinggung, kuberanikan juga untuk menyampaikannya.
Sontak muka kakakku memerah. Dihentakkannya tanganku lalu berlari menuju rumahnya sambil menguar tangis. Aku berdiri mematung. Tak tahu apa yang harus kulakukan. Namun, Langkah kaki mengarah pada pintu rumah kakakku yang terbuka. Aku ingin meminta maaf.
Baru tiba di depan pintu, dari dalam rumah pintu ditutup sekerasnya dan membentur mukaku. Aku terhuyung ke belakang, meringis menahan sakit.
Sejak itu kami tak bertegur sapa. Kakakku menutup pintunya untukku. Aku pun menutup pintu belakangku yang menghadap ke arah rumahnya.
Hampir setahun sejak kejadian itu, aku mulai merasakan rindu pada kakakku. Sering kutatap diam-diam kalau Kak Ersa lewat di depan rumahku. Mobilnya tetap diparkir di halaman rumahku meski sepi dari sapa sayang. Beberapa kali kami sempat berpapasan. Namun bola mata kami berusaha saling menghindar. Kami sama angkuhnya. Aku tidak tahu apakah kakakku juga merinduiku.
Pagi itu seperti biasa, aku dan Titi membereskan dan menata barang. Ada beberapa sisa pot dan barang lain sisa masa populer. Penjualan pot tidak sebooming dulu lagi. Maka kutata ulang agar penempatannya lebih menarik.
Kurapikan tumpukan barang dan kuangkat satu per satu, terutama yang bentuknya tidak sejenis. Mataku tertumbuk pada kresek hitam yang sudah lusuh. Teronggok di antara tumpukan pot berwarna hijau.
Kuambil dengan tangan gemetar. Kubuka perlahan. Ternyata isinya masih utuh. Masih lima belas juta. Juga masih tersimpan rapi. Hampir setahun kurayu hatiku agar tidak diliputi sikap suuzon. Kehilangan uang menimbulkan prasangka buruk. Meski tak terucap tapi sangat mengotori hatiku dan mengganggu perasaanku.
Aku teringat Kak Ersa. Rinduku tak tertahan lagi.

Cerpen: Gapapa, I'm Happy!

 Seorang anak kecil berusia tujuh tahunan memasuki ruang sanggar tari Wijayatri. Ayunan langkahnya tak menampakkan keraguan sedikit pun. Ia masuk ruangan setelah sebelumnya menyampaikan salam santun. Di belakangnya, Nadya, ibu anak itu mengikuti sambil mengatur jarak.

“Good afternoon. Boleh masuk, Miss?”
Alya yang menjadi guru tari di ruangan itu tersenyum manis. Betapa tidak, calon anggota barunya, gadis kecil yang mengenakan baju bermotif bunga-bunga ini terlihat begitu smart. Penuh percaya diri. Gadis kecil ini berkulit hitam dengan bibir yang selalu menyunggingkan senyum.
“Oh, silakan masuk, Sayang,” sambut Alya sambil tersenyum lalu mengangguk ramah pada Nadya. Sebelumnya, Nadya pernah datang saat mendaftarkan anaknya ke sanggar tari.
“Bunda ikut masuk?” tanya Nadya pada gadis kecil itu. Rupanya dia sedang menguji keberanian putrinya.
“Gak usah, Bun. Aku berani kok. Kelihatannya teman-teman baruku juga baik,” jawabnya membuat Alya terperangah.
Bagus betul jawaban anak itu. Positive thinking. Penuh percaya diri. Alya mencatat ‘sesuatu’ yang istimewa dimiliki anak ini.
“Iya, Bunda tahu. Anak bunda pasti berani,” kata Nadya sambil berjongkok menghadap anaknya. “Ayo, selamat bersenang-senang, anak bunda yang paling cantik!”
“Iya, betul. Anak pintar!” Alya menggandeng anak itu. “Siapa namamu?”
“My name is Erlinda. Miss bisa panggil aku ‘Er’,” jawabnya mantap.
“Saya Alya. Er bisa panggil saya Bu Alya.”
Keduanya berjabat tangan.
“Eh, aku boleh panggil ‘Miss’? tanya Erlinda.
“Boleh saja kalau itu lebih enak buat Er,” jawab Alya.
“Hei, kamu anak baru, ya? Kenalan dong.”
Anak-anak yang sudah berada di ruangan menghampiri Erlinda. Mereka saling berkenalan. Beberapa diantaranya saling berbisik dan tertawa pelan. Yang tidak tahan dengan mulut usilnya, langsung menyampaikan komentar.
“Kulit kamu kok item banget. Lagian hidung kamu lucu, deh.”
Gelak tawa pun tak terhindarkan. Alya menghampiri mereka. Khawatir Er tersinggung. Bisa berabe jika hari pertama sudah merasa tidak nyaman. Pasti selanjutnya mogok latihan.
“Gapapa. Kulit aku memang item. ‘Kan papaku dari Ambon,” jawabnya kembali mengagetkan Alya. Kok bisa setenang itu, ya?
“Hidungmu juga karena papamu dari Ambon?” Anak-anak kembali cekikikan.
“Hidungku pesek? Gapapa. Yang penting, I am happy. I love myself.”
Alya tahu dari cerita Nadya, kalau Erlinda sering dibully teman-temannya gegara warna kulit dan hidungnya. Walaupun kata Nadya, tak perlu khawatir tentang hal itu, Alya sungguh terkaget-kaget. Apalagi anak-anak binaannya. Semua sudah mengira Erlinda akan marah, menangis, atau mengajak pulang.
Suasana di ruangan Sanggar Tari Wijayatri jadi hening dan membisu. Sungguh di luar perkiraan. Erlinda begitu tenang. Sangat tenang.
“Kapan latihannya, Miss?” Erlinda memecah keheningan.
“Oh, iya. Ayo kita mulai!”
Alya memberi aba-aba penempatan barisan dengan tepukan tangan. Semua anak berbaris rapi dengan sampur yang dililit di pinggang.
Pandangan Alya tak henti pada Erlinda. Kekagumannya pada anak itu tak bisa disembunyikan. Anak sekecil itu sudah memiliki inner beauty yang memancar dalam setiap kata dan sikap tubuhnya. Benar seperti kata bundanya, Alya tidak perlu cemas jika teman-teman baru Erlinda bersikap nyinyir dan usil.
Gerakan tari Erlinda terlihat masih kaku. Pada beberapa bagian, Alya sering membantunya untuk memperbaiki gerakan tangan dan tubuhnya.
“Erlinda, kamu belum pernah masuk sanggar tari?” tanya Siska.
Erlinda menggeleng sambil berusaha menahan keseimbangan tubuhnya dengan kaki berjinjit sambil lutut menekuk dan tangan mengembang menjepit selendang. Tawanya amat riang.
“Pantesan. Kamu kaku banget,” lanjut Siska.
“Gapapa. Nanti juga aku pasti bisa. Yang penting I’m happy,” jawabnya sambil meletakkan telapak tangan pada kedua sisi pipinya. Kepalanya miring ke kanan lalu ke kiri. Senyum manis selalu lekat di wajahnya.
Siska yang memang sering usil pada anggota baru terdiam dan mengangkat bahu. Mungkin dalam hatinya kesal juga karena tak berhasil membuat Erlinda marah, tersinggung, atau menangis.
Saat istirahat, semua anak membuka bekalnya masing-masing. Mereka duduk melingkar dan saling mencicipi bekal yang dibawa. Sementara itu, tidak seorang pun yang menawari Erlinda.
Tanpa rasa ragu, Erlinda menoleh ke samping sambil menyorongkan wadah bekalnya pada gadis berkulit putih yang duduk paling dekat dengannya.
“Namanya siapa?” tanya Erlinda.
“Violita,” jawabnya pendek.
“Ambillah. Kamu pasti suka,” katanya sambil tersenyum. “Kue buatan bundaku enak, lho!”
Violita kelihatan ragu. Pandangannya menyapu berkeliling seolah-olah hendak meminta pertimbangan teman-temannya.
“Jangan, Vio. Nanti kamu ketularan itemnya,” kata Siska.
Mereka tertawa. Sebagian menyembunyikan tawanya dalam tangan yang ditangkupkan di mulutnya.
“Jangan takut. Bundaku yang bikin kue ini kulitnya putih. Cantik, lagi!”
Erlinda menoleh ke luar.
“Tuh, yang pake baju biru.”
“Oh, bundamu putih? Kok kamu gak ketularan putihnya?” Alyssa turut bertanya.
“Emang semua orang harus putih?” sahut Erlinda.
“Tapi kan, kalau item itu, gimanaa… gitu!” lanjut Alyssa.
“Gapapa dong, item juga. Yang penting I am happy. I love myself.” Erlinda tertawa renyah. Tak sedikit pun ia menunjukkan rasa sedih atau tersinggung.
Alya sudah bersiap dengan rangkaian kata yang akan membela Erlinda dari keusilan teman-teman barunya. Namun ketenangan anak itu membuatnya benar-benar kehilangan kata. Sungguh tidak habis pikir, bagaimana mungkin anak sekecil itu bisa begitu enjoy di tengah situasi asem kecut yang mengelilinginya?
“Ayo, ambil. Enak lho!” Erlinda kembali menyorongkan wadah bekal makanannya.
Beberapa teman di kiri kanannya mulai mencicipi kue bekal Erlinda.
“Wah, enak banget! Kalau latihan lagi, bawa yang banyak, ya, Er!”
“Oke. Nanti aku bilang pada bunda.”
“Wah, asyiiik,”
“Mau, dong!”
“Aku juga mau!”
Anak-anak di ruang sanggar tari jadi begitu ceria dan menyenangkan. Tak ada lagi sikap yang membuat suasana panas. Erlinda, gadis kecil berkulit hitam itulah yang jadi peneduhnya.
“Gimana latihan hari ini?” tanya Nadya sambil menyeka keringat di dahi anaknya.
“Seneng banget, Bun!” Erlinda berteriak saking senangnya.
“Gimana teman-temanmu?”
“Mereka baik, Bun! Mereka teman yang hebat! I love my friends.”
“Ada yang usil?” tanya bundanya lagi.
“Enggak, kok. Mereka malah seneng kue bikinan Bunda,”
“Kalau begitu, nanti bunda bikin yang banyak buat temen-temen di sanggar.”
“Asyiiik…,” Erlinda melonjak kegirangan. “I love you, Bunda!”
“Good. I love you too, sweatheart,” Nadya memeluk buah hatinya.
Alya tertegun. Erlinda memang anak hebat. Dia benar-benar lahir dari ibu yang hebat.